[비즈한국] Berdasarkan hasil peliputan Bizhankook, operator Hangang Bus diketahui sempat mengalami status penunggakan karena gagal melunasi pinjaman sebesar 60,5 miliar won dari Seoul Housing & Communities Corporation (SH) tepat waktu. SH baru-baru ini telah menandatangani perjanjian perubahan yang memperpanjang jatuh tempo pinjaman senilai 87,6 miliar won, termasuk pinjaman yang sempat menunggak tersebut, hingga tahun 2045 dan menjadikannya sebagai utang subordinasi di bawah pinjaman bank komersial (artikel terkait [Eksklusif] SH Rela Melepas 'Prioritas Pengembalian' atas Pinjaman 87,6 Miliar Won untuk Hangang Bus). Hal ini memicu kritik bahwa beban keuangan semakin meningkat karena dana publik tidak hanya tertunda penagihannya, tetapi prioritas pengembaliannya pun tergeser.

Berdasarkan data gabungan dari liputan Bizhankook dan kantor anggota parlemen Chae Hyun-il dari Komite Keamanan dan Administrasi Publik Majelis Nasional, Hangang Bus gagal melunasi pinjaman sebesar 60,5 miliar won (2 transaksi) dari SH pada tanggal jatuh tempo tahun lalu. Dengan kata lain, terjadi gagal bayar atau penunggakan utang. Pinjaman yang tidak dilunasi tepat waktu oleh Hangang Bus tersebut terdiri dari pinjaman jangka pendek sebesar 49,5 miliar won (tenor 1 tahun) yang dicairkan pada November 2024 dan pinjaman jangka pendek sebesar 11 miliar won (tenor 6 bulan) yang dicairkan pada April tahun lalu, yang masing-masing jatuh tempo pada bulan November dan Oktober tahun lalu.
Penunggakan pinjaman Hangang Bus telah terselesaikan dalam proses perubahan perjanjian pinjaman baru-baru ini. Pada tanggal 20 bulan lalu, SH dan Hangang Bus menandatangani perjanjian perubahan pinjaman yang isinya memperpanjang jatuh tempo pinjaman sebesar 87,6 miliar won (3 transaksi), termasuk pinjaman jangka pendek yang sempat menunggak sebesar 60,5 miliar won (2 transaksi), hingga akhir masa operasional Hangang Bus pada tahun 2045 (20 tahun sejak dimulainya operasional), serta mengubah status pinjaman tersebut menjadi utang subordinasi dibandingkan dengan pinjaman bank komersial.
Untungnya, denda keterlambatan akibat gagal bayar tersebut diketahui telah dibayarkan sebelum perubahan perjanjian dilakukan. Sebelumnya, saat menyetujui agenda perubahan perjanjian pinjaman pada Desember tahun lalu, dewan direksi SH memutuskan untuk “menagih denda keterlambatan (suku bunga penunggakan 6%) sesuai jumlah hari keterlambatan sejak hari setelah jatuh tempo hingga hari penandatanganan perubahan perjanjian, dan melakukan perubahan perjanjian setelah pelunasan untuk pinjaman jangka pendek (49,5 miliar) dan pinjaman jangka pendek tambahan (11 miliar) yang masa jatuh temponya telah tiba sebelum keputusan dewan direksi.”
Seorang pejabat SH hanya menyatakan, “Kami telah menerima denda keterlambatan secara penuh sebelum perubahan perjanjian pinjaman pada tanggal 20 bulan lalu, sehingga saat ini tidak ada catatan tunggakan denda,” seraya menambahkan, “Kami tidak dapat mengungkapkan rincian historisnya.”

SH memberikan tambahan pinjaman sebesar 21,4 miliar won pada Desember tahun lalu, saat Hangang Bus masih dalam status gagal bayar. Periode pinjaman berlangsung hingga tahun 2045, yakni saat masa operasional Hangang Bus berakhir. SH menyatakan bahwa mereka menyuntikkan dana tersebut sebagai pemegang saham utama dengan tujuan kelancaran operasional bisnis dan menjaga kesehatan keuangan, setelah menilai bahwa Hangang Bus mengalami kekurangan dana akibat kenaikan biaya proyek dan biaya operasional karena perubahan lingkungan eksternal.
Namun, apakah pinjaman tersebut dapat ditarik kembali masih menjadi tanda tanya. Hal ini dikarenakan struktur pengembalian pinjaman Hangang Bus memburuk akibat perubahan perjanjian bulan lalu. Melalui perubahan perjanjian tersebut, SH memperpanjang jatuh tempo pinjaman sebesar 87,6 miliar won (3 transaksi), termasuk 60,5 miliar won (2 transaksi) yang sempat menunggak, hingga tahun 2045 atau maksimal sekitar 20 tahun. Urutan pelunasan yang sebelumnya lebih prioritas dibanding pinjaman bank komersial sebesar 50 miliar won, kini diubah menjadi subordinasi. Hal ini dilakukan demi memenuhi syarat pencairan pinjaman bank komersial bagi Hangang Bus.
Total dana yang telah disuntikkan SH ke Hangang Bus hingga saat ini mencapai 114,1 miliar won. Setelah menyetor modal pendirian Hangang Bus sebesar 5,1 miliar won pada Juni 2024, mereka meminjamkan 27,1 miliar won pada Juli 2024, 49,5 miliar won pada November 2024, 11 miliar won pada April tahun lalu, dan 21,4 miliar won pada Desember tahun lalu. Jika modal yang disetor dikurangi, total pinjamannya saja mencapai 109 miliar won. Semuanya bertujuan untuk memasok likuiditas bagi Hangang Bus.
Ha Seung-soo, perwakilan dari organisasi 'Tax Thief Catchers' (Saegum Doduk Jabara), menegaskan, “Meskipun SH adalah pemegang saham utama perusahaan, ada premis untuk menarik kembali dana saat jatuh tempo ketika meminjamkan uang ke badan hukum yang terpisah. Kegagalan pelunasan pinjaman tepat waktu berarti risiko kerugian bagi perusahaan daerah tersebut sangat besar. Jika perusahaan dimiliki oleh pihak swasta sebesar 49%, dukungan dana seharusnya dilakukan melalui mekanisme seperti penambahan modal disetor untuk berbagi risiko dengan pihak swasta.” Ia menambahkan, “Memberikan tambahan pinjaman kepada perusahaan yang gagal memenuhi kewajibannya dan mengubah pinjaman tersebut menjadi subordinasi merupakan tindakan yang menanggung beban kerugian, yang berpotensi menjadi tindakan pelanggaran kewajiban (breach of trust).”