[비즈한국] Korean Air003490 menampilkan model baru drone tempur kolaboratif sekali pakai (KUS-RP) untuk pertama kalinya di ajang ‘Drone Show Korea 2025’ yang digelar di BEXCO, Busan. Berbeda dengan drone sekali pakai sebelumnya, model ini dilengkapi dengan roda pendaratan sehingga mampu lepas landas dan mendarat secara mandiri, serta memiliki sayap yang lebih panjang yang diharapkan dapat meningkatkan jarak jelajahnya.

KUS-RP diharapkan dapat melakukan operasi kolaboratif dengan platform drone besar dan pesawat tempur, serta memungkinkan pelaksanaan operasi terpadu berawak-nirawak (MUM-T).
Korean Air saat ini sedang mengembangkan drone baru secara mandiri, termasuk Collaborative Combat Aircraft (CCA) kelas menengah dan drone tempur kolaboratif sekali pakai (KUS-RP). Selain itu, pengembangan juga terus dilakukan dengan menyematkan berbagai peralatan misi dan fungsi AI-pilot agar dapat bekerja sama dengan pesawat berawak maupun sistem pesawat tempur kolaboratif lainnya di medan perang untuk mencapai misi secara efektif.
Sebelumnya, KUS-RP berkonsep menyerupai rudal yang diluncurkan dengan sayap yang terlipat dan akan terbuka saat diluncurkan. Namun, versi terbaru KUS-RP yang diperkenalkan kali ini telah dilengkapi dengan perangkat pendaratan dan roda, sehingga mampu terbang secara mandiri dan diluncurkan dari darat. KUS-RP tipe peluncuran darat ini nantinya akan digunakan untuk mengerahkan sejumlah drone kecil ke garis depan guna menjalankan operasi pengecohan dan peperangan elektronik, mengungkap posisi pertahanan udara musuh, serta memaksa musuh menghabiskan amunisi mereka.
KUS-RP memiliki panjang 3m, lebar sayap 1,2m, dan berat lepas landas maksimum 200kg. Drone ini mampu menjalankan misi peperangan elektronik, pengecohan, serangan, serta pengawasan dan pengintaian.
Menurut Korean Air, KUS-RP dapat dioperasikan melalui peluncuran udara maupun darat. Saat beroperasi bersama pesawat tempur, drone ini dapat menjalankan misi serangan dengan mengganti ‘modul muatan’ (payload). Konsep payload ini memungkinkan penggunaan hulu ledak untuk misi bunuh diri, radar AESA untuk pencarian, peralatan pelacak optik EO/IR, atau peralatan peperangan elektronik yang bisa diganti sesuai kebutuhan misi. Konsep operasional dan desain ini mirip dengan ‘Barracuda-M’ buatan Anduril dari Amerika Serikat, dan tampaknya ditujukan untuk menyaingi drone AAP buatan Korea Aerospace Industries (KAI)047810.
Pihak Korean Air berencana untuk melakukan operasi udara masa depan dengan membentuk formasi gabungan antara KUS-RP, drone besar, dan pesawat tempur berawak. Secara khusus, jika KUS-RP dipasang pada Medium-Altitude UAV (MUAV) yang dikembangkan Korean Air untuk peluncuran di udara, jangkauannya dapat diperluas secara signifikan. Seorang perwakilan Korean Air menjelaskan, “Unit yang dipamerkan saat ini adalah tipe peluncuran udara yang diluncurkan dari platform seperti drone ketinggian menengah, dengan konsep menyusup ke kedalaman wilayah musuh bekerja sama dengan pesawat berawak dan CCA kelas menengah. CCA kecil akan masuk terlebih dahulu untuk mengidentifikasi posisi pertahanan musuh, kemudian CCA menengah dan pesawat berawak akan melakukan penindakan.”
Korean Air telah menyelesaikan pembuatan prototipe KUS-RP dan berencana melakukan uji terbang dalam kuartal pertama tahun ini. Mereka juga bekerja sama dengan mitra utama untuk mengembangkan perangkat lunak AI-pilot. Integrasi perangkat lunak tersebut direncanakan akan dilakukan pada akhir tahun ini untuk pembuktian teknologi.
Kim Min-seok, anggota Forum Keamanan dan Pertahanan Korea, menjelaskan, “Drone KUS-LW yang dikembangkan bersama oleh Korean Air dan Agency for Defense Development (ADD) mampu membawa dua senjata seberat 250kg. Jika KUS-RP digunakan sebagai senjata untuk KUS-LW (Loyal Wingman) di masa depan, maka ia bisa dimanfaatkan sebagai drone di dalam drone. Ini akan menjadi pengubah permainan (game changer) dalam pertempuran udara masa depan.”
Namun, muncul catatan bahwa KUS-RP juga perlu mengatasi masalah mesin. Kim Min-seok menekankan, “Mesin KUS-RP saat ini menggunakan versi yang agak lemah karena kendala ekspor dari Amerika Serikat, sehingga uji terbang yang dilakukan saat ini kemungkinan memiliki keterbatasan. Seiring dengan kemajuan teknologi mesin jet dalam negeri, jika kita bisa menggunakannya, kita berpotensi menghasilkan tenaga dorong yang besar tanpa terhambat regulasi ekspor AS. Namun untuk saat ini, performa penuhnya hanya bisa dicapai jika berhasil keluar dari jebakan regulasi ekspor tersebut.”