주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Eksklusif
Theborn Korea dalam proses likuidasi anak perusahaan Food Incubator, tengah menata ulang bisnis minuman keras

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Diketahui bahwa Theborn Korea475560 sedang dalam proses melikuidasi anak perusahaannya, Food Incubator. Food Incubator merupakan perusahaan grosir minuman keras yang kepemilikan sahamnya 100% dipegang oleh Theborn Korea. Berdasarkan daftar registrasi perusahaan, Food Incubator telah mengadakan rapat umum pemegang saham luar biasa pada tanggal 21 Oktober dan memutuskan untuk membubarkan perusahaan. Food Incubator saat ini telah menunjuk direktur utama saat ini sebagai likuidator.

Pendahulu Food Incubator adalah Dongbang Distribution, anak perusahaan yang didirikan oleh Theborn Korea pada tahun 2019. Pada saat itu, Theborn Korea memiliki afiliasi bisnis minuman keras lainnya dengan nama yang sama, yaitu Food Incubator, namun perusahaan tersebut telah diserap dan digabungkan ke dalam Theborn Korea pada tahun 2023. Setelah itu, Dongbang Distribution mengubah nama perusahaannya menjadi Food Incubator seperti saat ini.

서울특별시 강남구 더본코리아 본사. 사진=박정훈 기자
Kantor pusat Theborn Korea di Gangnam-gu, Seoul. Foto=Reporter Park Jung-hoon

Food Incubator tidak menunjukkan kinerja yang menonjol. Berdasarkan laporan bisnis dan dokumen lainnya, perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar 288,74 juta won dan kerugian bersih 60,18 juta won pada tahun 2023, serta pendapatan 142,51 juta won dengan kerugian bersih 329,45 juta won pada tahun 2024. Mengingat pendapatan konsolidasi Theborn Korea tahun lalu mencapai 464,2 miliar won, Food Incubator tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja perusahaan.

Theborn Korea telah menata ulang bisnis minuman kerasnya sejak tahun ini. Contoh utamanya adalah tempat pembuatan bir Baeksooldoga (sebelumnya Yesandoga). Theborn Korea memproduksi makgeolli 'Baekgeolli' melalui Baeksooldoga. Namun, tahun ini operasional Baeksooldoga dihentikan dan merek Baekgeolli dialihkan ke entitas terpisah, yakni 'Agricultural Corporation Baeksooldoga'. Theborn Korea tidak memiliki saham di Agricultural Corporation Baeksooldoga dan bisnis terkait Baekgeolli kini dikelola secara terpisah. Saat menghentikan operasional Baeksooldoga, Theborn Korea menyebutkan kekhawatiran investor luar negeri dan keterbatasan profitabilitas sebagai alasannya.

Theborn Korea menyatakan bahwa likuidasi Food Incubator juga merupakan bagian dari upaya menata ulang bisnis minuman keras. Seorang perwakilan Theborn Korea menjelaskan, "Kami memutuskan untuk melikuidasi Food Incubator dalam proses penataan bisnis minuman keras tahun ini."

Faktanya, bisnis minuman keras tidak memberikan dampak besar bagi Theborn Korea. Dari pendapatan tahun lalu sebesar 464,2 miliar won, porsi produk minuman keras hanya sekitar 0,27% atau 1,2 miliar won. Situasinya juga sulit untuk melakukan investasi besar-besaran. Tahun ini, sentimen publik yang negatif terhadap Baek Jong-won, CEO Theborn Korea, telah muncul, dan akibatnya kinerja Theborn Korea baru-baru ini pun kurang memuaskan. Pendapatan Theborn Korea turun 21,51% dari 346,9 miliar won pada kuartal 1-3 tahun lalu menjadi 272,3 miliar won pada periode yang sama tahun ini. Profitabilitas juga memburuk dengan mencatatkan kerugian operasional sebesar 20,6 miliar won pada kuartal 1-3 tahun ini.

Alih-alih bisnis minuman keras, Theborn Korea kini berfokus pada bisnis baru seperti saus dan konsultasi. Namun, karena bisnis utama yaitu bisnis makanan dan bisnis waralaba tidak seperti dulu, sulit untuk menjamin masa depan yang cerah. Choi Seong-hwan, seorang peneliti di Research Alum, mengatakan mengenai Theborn Korea, "Penurunan kepercayaan terhadap merek telah melemahkan sentimen konsumen, yang mempercepat penurunan penjualan di semua saluran termasuk belanja rumah, daring, dan makan di luar." Ia menambahkan, "Akibatnya, penurunan pendapatan per gerai dan kekhawatiran akan mundurnya pemilik gerai semakin meningkat, dan ini menciptakan lingkaran setan di mana peningkatan biaya pemasaran dan promosi untuk mencegah hal tersebut justru memperburuk profitabilitas."

Peneliti Choi menambahkan, "Risiko struktural seperti ini sulit diselesaikan hanya dengan pengendalian biaya atau penyesuaian dana dukungan satu kali. Kecuali jika kepercayaan konsumen pulih secara mendasar, kemungkinan perlambatan pertumbuhan akan terus berlanjut."

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
단독
박형민 기자
godyo@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지