[비즈한국] Topik utama 'CES 2026' yang dibuka pada tanggal 6 (waktu setempat) adalah 'Physical AI' (AI Fisik), yang kini telah keluar dari layar dan meluas ke ruang fisik yang nyata. Teknologi AI, yang selama beberapa tahun terakhir digunakan dalam lingkungan cloud dan seluler, kini secara nyata beralih ke ranah fisik dengan berintegrasi pada perangkat keras nyata seperti robot, proses manufaktur, dan logistik.
Pada hari pertama pembukaan di Las Vegas Convention Center (LVCC), perusahaan teknologi global berlomba-lomba memamerkan solusi praktis melalui integrasi perangkat keras dan AI. Hyundai Motor Company005380 dan LG Electronics066570, antara lain, mempresentasikan contoh implementasi spesifik dari Physical AI melalui ruang pameran berskala besar, sementara perusahaan global besar lainnya seperti Amazon, Qualcomm, dan Siemens juga memamerkan keunggulan teknologi AI fisik berbasis ekosistem mereka masing-masing.

Bagaimana Physical AI Diimplementasikan di Lokasi Industri?
Hyundai Motor Company, yang menyiapkan stan besar di Aula Barat LVCC, pada pameran kali ini lebih menekankan pada inovasi 'manufaktur dan proses' daripada hasil akhirnya berupa 'mobil'. Alih-alih mobil jadi, di bagian depan stan ditempatkan jajaran robot yang mendukung otomatisasi dan efisiensi proses industri.
Di area demonstrasi yang dirancang menyerupai pabrik pintar atau lokasi logistik yang nyata, berbagai robot industri bergerak dengan tertib. Sistem robot logistik yang dilengkapi dengan algoritma pencarian jalur cerdas mandiri mengangkut barang melalui rute yang optimal di area yang meniru lingkungan gudang. Robot berkaki empat 'Spot AI Keeper' memamerkan solusi otomatis dengan bergerak ke area pengisian daya untuk melakukan docking secara mandiri setelah menyelesaikan tugas inspeksi proses perakitan kendaraan. Robot parkir tanpa pengemudi 'H-Motion' juga menarik perhatian dengan mendemonstrasikan simulasi pemanfaatan ruang yang efisien melalui kontrol kendaraan yang presisi bahkan di ruang sempit.

Yang menarik perhatian khusus adalah model elektrik robot humanoid generasi berikutnya dari anak perusahaan robotika Boston Dynamics, 'Atlas', dan platform robot 'MobED' yang memenangkan penghargaan CES Best of Innovation. Selain diungkap sehari sebelumnya, unit fisik Atlas generasi berikutnya juga dipajang di area pameran, sehingga menarik banyak perhatian.
MobED adalah platform seluler yang dirancang untuk menjelajahi lingkungan luar ruangan dan industri yang kompleks dengan bebas. Keempat rodanya bergerak secara independen dan dapat berputar 360 derajat di tempat. Saat berbelok dalam 'mode mengemudi gliding' yang bergerak dengan kecepatan tinggi, mobilitas yang dinamis namun stabil dimungkinkan melalui gerakan memiringkan (tilting) di mana bodi robot miring ke dalam seolah-olah pemain ski sedang berbelok.

Seorang perwakilan di lokasi menambahkan, "Data dikumpulkan dan dianalisis secara real-time melalui sejumlah sensor LiDAR, kamera, dan radar. Berbagai data sensor diproses melalui algoritma AI untuk secara mandiri menilai medan yang kompleks seperti tikungan, kemiringan, dan rintangan, serta memastikan stabilitas berkendara secara mandiri."
Seperti Apa Gambaran 'Rumah Tanpa Tenaga Kerja' yang Digambarkan oleh 'Cloide'?
LG Electronics, yang menempati lokasi utama di Aula Tengah LVCC, juga melakukan terobosan dengan teknologi robot yang melampaui peralatan rumah tangga. Di ruang hunian virtual yang disiapkan di tengah stan, robot rumah 'Cloide', yang baru saja dibuka selubungnya pada konferensi pers tanggal 5, ditempatkan untuk memperlihatkan tugas-tugas rumah tangga secara langsung.

Cloide, yang melakukan demonstrasi pengoperasian nyata dan bukan sekadar pajangan, memamerkan fungsi asisten rumah tangga. Di ruang yang disulap menjadi dapur dan ruang cuci, ia bekerja sama dengan demonstrator untuk memasukkan cucian langsung ke mesin cuci atau melipat pakaian yang sudah selesai dikeringkan. Cloide dilengkapi dengan dua lengan dan lima jari di setiap tangan. Di bagian bawah, terdapat bagian penggerak yang memungkinkan mobilitas bebas di dalam ruangan. Perusahaan menjelaskan bahwa gerakan presisi diwujudkan melalui aktuator yang memadatkan teknologi gerak, dan robot tersebut mengenali serta merespons lingkungan sekitar secara real-time melalui kecerdasan visual.
Meskipun belum ada rencana komersialisasi dalam waktu dekat, pameran ini bermakna karena AI telah berevolusi dari sekadar kontrol peralatan rumah tangga di dunia virtual menjadi entitas fisik yang benar-benar menggantikan tenaga kerja. CEO LG Electronics, Ryu Jae-cheol, sebelumnya menyebut 'kecerdasan yang bertindak' (acting intelligence) dan 'rumah tanpa tenaga kerja' sebagai inti dari visi masa depan mereka. Konsepnya adalah mengembalikan waktu luang kepada pelanggan sebagai mitra yang secara aktif berbagi beban pekerjaan rumah tangga.
Perusahaan Global Menghubungkan Dunia Fisik Melalui 'Platform'
Perusahaan teknologi besar luar negeri dan perusahaan teknologi global juga mengusung Physical AI sebagai strategi inti mereka.

Qualcomm meresmikan transisinya menjadi 'perusahaan platform Physical AI' melalui CES kali ini. Qualcomm mengintegrasikan 'Snapdragon Digital Chassis' untuk kendaraan dan portofolio Internet of Things (IoT) industri berdasarkan edge computing berkinerja tinggi. Secara khusus, di lokasi pameran, mereka mendemonstrasikan jajaran teknologi robot humanoid yang dijalankan oleh seri DragonWing IQ, sehingga mengonkritkan strategi Physical AI yang dapat menilai dan bergerak sendiri tanpa koneksi cloud.
Amazon, di stan Aula Barat, menunjukkan perluasan AI fisik melalui ekosistem mitra daripada pameran produk langsung, dengan contoh utamanya adalah kolaborasi dengan Fujitsu dari Jepang. Di salah satu sudut stan Amazon, Fujitsu memperkenalkan teknologi 'ruang model dunia' yang membantu robot memprediksi dan merespons perilaku manusia. Fitur utamanya adalah implementasi ruang cerdas di mana robot dan manusia dapat bekerja sama dengan aman dengan memetakan data kamera ke dalam graf adegan 3D.

Perusahaan teknologi manufaktur Jerman yang disebut sebagai 'raksasa manufaktur', Siemens, mengedepankan platform bisnis digital terbuka 'Xcelerator'. Mereka memperkenalkan solusi cerdas berbasis 'digital twin' yang menduplikasi dan menguji semua fasilitas serta proses secara sempurna di dunia virtual sebelum membangun pabrik yang sebenarnya.
Seorang perwakilan di lokasi menjelaskan, "Ini adalah teknologi untuk menjalankan pabrik virtual di komputer terlebih dahulu sebelum membawa mesin ke pabrik yang sebenarnya guna memeriksa di mana hambatan (bottleneck) terjadi atau apakah robot akan bertabrakan," seraya menambahkan, "Kami menawarkan lingkungan di mana perusahaan dapat dengan mudah memperkenalkan solusi proses digital yang kompleks seolah-olah mereka mengunduh aplikasi dari App Store."

CEO Nvidia, Jensen Huang, yang muncul secara mengejutkan dalam pidato utama Siemens pagi itu, menambahkan bobot pada inovasi manufaktur di era Physical AI dengan mengatakan, "Alasan kami bekerja sama adalah untuk mewujudkan GPU generasi berikutnya, 'Vera Rubin', secara sempurna sebagai digital twin di masa depan."
Dengan adanya penilaian bahwa tahun ini akan menjadi titik balik teknologi di mana AI meresap ke dalam entitas di luar layar, persaingan untuk menguasai kecerdasan perangkat keras antar perusahaan global diperkirakan akan semakin sengit.