[비즈한국] Tahun ini, sistem manajemen tiga perusahaan telekomunikasi besar di Korea telah direstrukturisasi secara bersamaan. Hal ini tak terelakkan karena adanya keterbatasan dalam kontrol internal dan struktur pengambilan keputusan yang terungkap akibat insiden kebocoran data pelanggan berskala besar serta serangkaian masalah keamanan tahun lalu, ditambah dengan stagnasi pertumbuhan bisnis telekomunikasi. Masing-masing perusahaan kini mengedepankan solusi tersendiri untuk manajemen krisis dan pemulihan kepercayaan. Arah industri telekomunikasi ke depan akan bergantung pada prioritas dan strategi eksekusi yang dipilih oleh para pemimpin baru ini.
SK Telecom017670 telah berada dalam bayang-bayang insiden keamanan selama hampir setahun sejak terjadinya kebocoran data kartu USIM pelanggan dalam skala besar pada April tahun lalu. Fokus perusahaan yang tercurah pada penanganan pasca-insiden dan pemulihan kepercayaan telah memberikan dampak yang signifikan terhadap kinerja keuangan dan suasana organisasi. Penunjukan CEO Jeong Jae-heon, yang merupakan CEO pertama dengan latar belakang hukum sejak perusahaan berdiri, dinilai sebagai langkah strategis yang mempertimbangkan respons hukum dan finansial. Di hadapan CEO Jeong, terdapat dua tantangan besar yang harus diselesaikan: penanganan sisa-sisa kasus peretasan dan monetisasi AI.

Perjalanan Menuju Respons Litigasi dan Normalisasi Laba Dimulai
CEO Jeong Jae-heon merupakan mantan hakim ketua di Pengadilan Distrik Pusat Seoul yang telah mengabdi selama hampir 20 tahun. Saat bergabung dengan SK Group pada tahun 2020 untuk mendorong perluasan bisnis 'New ICT', ia menjabat sebagai kepala pusat pertama dari Grup Hukum 2 yang baru dibentuk untuk memperkuat tinjauan hukum dan risiko. Setelah itu, ia menjadi anggota pendiri saat pendirian SK Square402340 pada tahun 2021, di mana ia menjabat sebagai kepala pusat dukungan investasi yang mencakup strategi, hukum, dan keuangan. Sebelum ditunjuk sebagai CEO, ia menjabat sebagai presiden kerja sama eksternal SKT dan dikenal karena keberhasilannya dalam menangani kasus peretasan.
Ujian pertama bagi rezim CEO Jeong adalah penanganan kasus peretasan yang masih berlanjut. SK Telecom mengalami kesulitan sejak kuartal kedua tahun lalu akibat insiden kebocoran informasi pribadi sekitar 23 juta pelanggan. Meskipun perusahaan telah memulai 'Paket Apresiasi Pelanggan' untuk memulihkan kepercayaan, diskusi mengenai kompensasi dan respons hukum masih terus berjalan.
Terutama, pertarungan hukum mulai memanas setelah SK Telecom mengajukan gugatan administratif terhadap denda sebesar 134,791 miliar won yang dijatuhkan oleh Komisi Perlindungan Informasi Pribadi pada tanggal 19 lalu. Sanksi terhadap SK Telecom ini merupakan yang terbesar dalam sejarah, melampaui kasus-kasus teknologi besar global seperti Google dan Meta. Perusahaan diperkirakan akan mempertanyakan keadilan dan kelayakan perhitungan denda, serta apakah ada kerusakan langsung pada pengguna dari sudut pandang hukum. Dengan berbagai potensi tuntutan hukum seperti mediasi perselisihan kolektif, sikap manajemen risiko CEO Jeong akan segera terlihat.

Manajemen kinerja keuangan juga menjadi tugas utama yang harus diselesaikan oleh CEO Jeong. Dampak dari insiden keamanan tersebut tercermin secara langsung pada laporan keuangan. Sektor pasar saham memperkirakan pendapatan konsolidasi SKT pada kuartal keempat tahun lalu mencapai 4,353 triliun won dengan laba operasional sebesar 84,4 miliar won. Angka ini mencerminkan penurunan pendapatan sebesar 3,5% dan penurunan laba operasional sebesar 66,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Biaya yang terkait dengan penggantian USIM dan 'Paket Apresiasi Pelanggan', serta biaya tenaga kerja satu kali akibat pensiun dini di SK Broadband, telah membebani kinerja. Sebagai akibatnya, laba operasional pada kuartal ketiga tahun lalu turun menjadi 48,4 miliar won, berkurang sekitar 90% dibandingkan tahun sebelumnya, dan kerugian bersih mencapai 166,7 miliar won, yang memutus rekor keuntungan kuartalan yang telah berlangsung sejak tahun 2000.
Namun, baru-baru ini, perusahaan mulai melihat sinyal kebangkitan dalam pangsa pelanggan dengan menyerap permintaan migrasi nomor yang muncul selama masa pembebasan biaya penalti KT. Apakah hal ini dapat melampaui keuntungan jangka pendek menjadi pemulihan kepercayaan pelanggan jangka menengah hingga panjang sangat bergantung pada kualitas layanan dan penguatan keamanan di masa depan.
Akankah 'A.' Menunjukkan Kemampuan Monetisasi AI Melalui Layanan Berbayar?
Bisnis AI, yang sempat melambat karena penanganan insiden, juga menjadi sektor yang harus kembali diperkuat. Di tengah situasi di mana pertumbuhan bisnis telekomunikasi inti terlihat stagnan, industri telekomunikasi memandang tahun ini sebagai waktu untuk membuktikan potensi monetisasi AI. Setelah mendeklarasikan tahun lalu sebagai tahun pertama bisnis AI, kini muncul pandangan bahwa visi monetisasi harus dikonkretkan melampaui sekadar daya saing teknologi.
Bagi SK Telecom, rencana utama adalah mendorong layanan agen AI 'A. (Adot)' menjadi layanan berbayar pada semester pertama. Perusahaan berencana untuk menyediakannya sebagai layanan berlangganan atau produk bundling telekomunikasi untuk mengubahnya menjadi sumber pendapatan riil. Perhatian tertuju pada apakah ini bisa menjadi poros pertumbuhan yang mencakup B2C dan B2B. A. telah melampaui 10 juta pengguna aktif bulanan (MAU) per September tahun lalu, mengamankan basis pengguna terbesar di antara layanan AI B2C di Korea. Saat ini, perusahaan sedang dalam tahap meningkatkan layanan dengan peluncuran 'A. Note' dan layanan B2B 'A. Biz'.
Keyakinan teknis juga sangat kuat. Dalam proyek pengembangan 'Model Fondasi AI Mandiri', tim elit SKT memperkenalkan 'A.X K1', model raksasa skala 519B pertama di Korea yang melampaui 500 miliar parameter. Menjelang peningkatan multimodal setelah semester kedua, perusahaan berencana melengkapi rantai nilai AI yang menghubungkan 'Model-Infrastruktur-Layanan' dengan menggabungkannya dengan infrastruktur mandiri seperti GPU Cluster 'Haein' dan pusat data AI di Ulsan.
Restrukturisasi CIC dan Transisi ke ROIC: Beralih ke 'Pertumbuhan Kualitas'
CEO Jeong Jae-heon juga menegaskan tekadnya untuk memperbaiki struktur manajemen perusahaan. SK Telecom baru-baru ini mengubah indikator manajemen utama perusahaan dari laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang ada menjadi pengembalian atas modal yang diinvestasikan (ROIC). Dalam lingkungan industri AI di mana investasi awal berskala besar tidak terelakkan, ini berarti perusahaan akan lebih mementingkan efisiur modal dan fundamental dibandingkan pertumbuhan kuantitatif.

Jika EBITDA adalah indikator yang menunjukkan kemampuan menghasilkan uang tunai, ROIC adalah indikator untuk mengukur kinerja aktual dibandingkan dengan modal yang diinvestasikan. Seorang ahli akuntansi perusahaan menjelaskan, "EBITDA adalah indikator yang menekankan pada kemampuan arus kas. Jika ada investasi besar seperti di industri perangkat atau fasilitas, angka tersebut tampak seperti keuntungan. Langkah ini dibaca sebagai upaya untuk memaksimalkan daya saing jangka panjang dan efisiensi modal di saat skalabilitas industri telekomunikasi terbatas. Namun, karena perhitungan ROIC lebih kompleks dan standar 'operasional' berbeda-beda, perbandingan yang tepat dengan perusahaan lain mungkin sulit dilakukan."
Selain itu, struktur organisasi juga telah dibenahi. Pada akhir tahun lalu, dalam rangka perombakan 인사 (personalia) dan organisasi, perusahaan membagi divisi menjadi dua sistem Perusahaan Independen (CIC) untuk meningkatkan profesionalisme di bisnis telekomunikasi dan AI. AI CIC telah disusun kembali menjadi △B2C AI (A.), △B2B AI (industri/cloud), △platform digital, dan △pusat data AI (DC) untuk meningkatkan keahlian. Kalkulasinya adalah untuk memusatkan kapabilitas platform dan model AI agar memperoleh daya dorong bisnis yang nyata.
Dalam pertemuan balai kota pertama dengan anggota tim bulan lalu, CEO Jeong Jae-heon mendefinisikan dirinya sebagai 'Chief Change Officer'. Ia menyatakan, "Transformasi AI bukanlah tugas organisasi tertentu, melainkan tugas bertahan hidup yang harus diikuti oleh seluruh anggota," seraya menuntut tantangan dan perubahan di seluruh organisasi.
Tahun ini diprediksi menjadi titik balik bagi SK Telecom untuk keluar dari rawa-rawa insiden keamanan dan melompat menjadi 'AI Company'. Perhatian tertuju pada apakah kapabilitas respons risiko dan tata kelola CEO Jeong dapat mengubah krisis menjadi peluang. Seorang perwakilan SK Telecom menyampaikan, "Di bawah rezim CEO Jeong, kami akan mengoperasikan bisnis telekomunikasi dan AI melalui dua organisasi CIC agar sesuai dengan karakteristik masing-masing bidang. Melalui ini, kami akan meningkatkan kecepatan pengambilan keputusan dan eksekusi bisnis."