[비즈한국] Pemerintah telah menetapkan area terbengkalai di Taman Yeomchang, Distrik Gangseo, sebagai satu-satunya lokasi baru untuk perumahan publik di Seoul melalui langkah kebijakan pasokan perumahan 13 Agustus. Keputusan ini memicu protes keras dari warga setempat yang tak kunjung reda. Bahkan, sesi penjelasan warga yang dijadwalkan pada tanggal 11 terpaksa dibatalkan, membuat target dimulainya konstruksi pada tahun 2029 menghadapi hambatan sejak awal.

Pada tanggal 15, saat mengunjungi Taman Yeomchang di Distrik Gangseo, Seoul, terlihat banyak warga yang sedang berjalan santai atau menggunakan alat olahraga. Mengikuti jalur pejalan kaki taman yang terletak di antara kompleks apartemen ke arah atas, terlihat lahan kosong yang dipenuhi peralatan konstruksi dan kendaraan di balik pepohonan.
Area terbengkalai di Taman Yeomchang ini awalnya merupakan proyek pembangunan taman yang dimulai pada tahun 1990 dengan syarat pengembang swasta membangun fasilitas kenyamanan warga seperti gedung kebudayaan, balai pemuda, dan pusat lansia sebagai kompensasi atas pembangunan fasilitas komersial seperti tempat latihan golf. Namun, hanya fasilitas komersial yang dibangun, sementara fasilitas yang dijanjikan tidak pernah terealisasi. Akibatnya, Distrik Gangseo mencabut izin penunjukan pelaksana proyek dan rencana pelaksanaan pada tahun 2006, serta menutup tempat latihan golf tersebut pada tahun 2009. Sejak saat itu, pengembangan proyek ini terkatung-katung selama bertahun-tahun karena masalah skala lahan, pembagian kepemilikan tanah yang tersebar, dan pergantian pemilik.

Melalui 'Rencana Pasokan Perumahan Cepat' yang diumumkan pada 13 Agustus, pemerintah menyatakan akan memasok 1.000 unit perumahan publik di area seluas 50.711 meter persegi yang telah lama telantar di dalam taman tersebut. Namun, warga menolak keras rencana ini dan menuntut agar lahan tersebut dikembalikan menjadi taman. Sesi penjelasan warga yang sedianya diadakan di gimnasium SMP Yeomgyeong pada tanggal 11 juga gagal dilaksanakan akibat protes warga. Spanduk dan poster penolakan pembangunan Taman Yeomchang yang dipasang di sekitar kawasan Yeomchang-dong menunjukkan atmosfer penolakan tersebut.
Warga yang ditemui di taman juga menunjukkan sikap penolakan yang kuat terhadap rencana pasokan perumahan publik pemerintah. Warga A menyatakan, “Sudah banyak apartemen di sekitar sini dan jalannya pun sempit. Beberapa bagian bahkan menjadi lebih sempit karena perluasan trotoar. Dalam kondisi seperti ini, jika 1.000 unit lagi masuk, lalu lintas pasti akan semakin tidak nyaman.”

Berdasarkan pengamatan wartawan di sekitar taman, jalanan di sekitarnya tampak tidak memadai untuk menampung volume kendaraan yang besar. Terutama untuk jalan di dekat zona pelindung anak, peningkatan lalu lintas kendaraan dikhawatirkan akan meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.
Kekhawatiran mengenai kurangnya infrastruktur pendukung kehidupan, seperti fasilitas pendidikan, juga terus muncul. Warga B yang ditemui di penyeberangan jalan dekat lokasi berkata, “Lingkungan ini kekurangan infrastruktur pendukung kehidupan. Rasanya tidak tepat membangun perumahan terlebih dahulu sementara SMA pun tidak ada di sini.”
Di kalangan warga yang selama ini menantikan pembangunan taman, muncul rasa tidak puas karena lahan tersebut justru digunakan untuk pasokan perumahan. Warga C yang telah tinggal di Yeomchang-dong selama 30 tahun mengatakan, “Berbeda dengan janji sebelumnya, saya sangat bingung mengapa tiba-tiba lahan ini digunakan untuk pasokan perumahan. Karena sudah banyak apartemen di sekitar sini, kami lebih membutuhkan taman di tempat ini.”

Di ruang obrolan grup warga, pesan-pesan yang berisi penolakan terhadap pengembangan perumahan publik dan diskusi mengenai rencana aksi di masa depan terus mengalir setiap harinya. Pengaduan penolakan juga terus ditujukan ke situs web Kantor Distrik Gangseo dan Dewan Distrik Gangseo. Komite Darurat Lingkungan Hidup Yeomchang mengeluarkan pernyataan pada tanggal 14 yang menyoroti masalah dalam proses sesi penjelasan warga, sekaligus mendesak pejabat terpilih seperti anggota parlemen lokal serta anggota dewan kota dan distrik untuk secara terbuka mengungkapkan sikap mereka mengenai pembangunan tersebut.
Konflik ini tampaknya akan terus berlanjut untuk sementara waktu. Meskipun pemerintah mendorong proyek tersebut dengan target mulai konstruksi pada tahun 2029, cara menangani penolakan warga akan menjadi variabel penting dalam kelangsungan proyek di masa depan.
Sementara itu, Kepala Distrik Gangseo, Jin Gyo-hoon, menyampaikan permintaan maaf di lokasi sesi penjelasan warga pada tanggal 11 atas kurangnya komunikasi dengan warga dalam proses penunjukan distrik perumahan publik. Ia juga menyatakan akan membatalkan rencana pengembangan perumahan publik jika pemerintah kota Seoul memberikan janji yang jelas mengenai rencana dan waktu restorasi area rusak Taman Yeomchang. Namun, ia tetap mempertahankan pendirian bahwa lahan yang terbengkalai dalam waktu lama tersebut perlu dikembangkan.