[비즈한국] Seiring dengan berkembangnya era kecerdasan buatan (AI), reaktor nuklir generasi baru yang mampu memasok listrik dalam jumlah besar secara stabil kini menjadi perhatian utama di kalangan perusahaan teknologi global (big tech) dan industri energi. Khususnya, karena pembangunan pusat data (data center) skala besar membutuhkan waktu yang signifikan untuk memperluas jaringan listrik, reaktor nuklir konvensional dan reaktor modular kecil (SMR) yang dapat memproduksi listrik selama 24 jam kini disorot sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur AI.
Kunjungan Bill Gates, salah satu pendiri Microsoft (MS) dan pendiri perusahaan reaktor nuklir generasi baru TerraPower, ke Korea Selatan setelah satu tahun terakhir, juga sejalan dengan tren ini.
Pada tanggal 14 lalu, Ketua Yayasan Gates tersebut bertemu dengan Ketua Majelis Nasional Cho Seung-sik, Perdana Menteri Han Seung-soo, dan Menteri Perdagangan, Industri, dan Energi Kim Jung-gwan secara berturut-turut. Selain itu, ia juga bertemu dengan Ketua HD Hyundai Chung Ki-sun dan Ketua Grup SK Chey Tae-won. Langkah ini diinterpretasikan sebagai upaya untuk memperluas partisipasi pemerintah dan perusahaan Korea dalam proyek reaktor generasi baru TerraPower.

Permintaan Listrik yang Dipicu AI… Perusahaan Big Tech Melirik SMR
Memasuki era AI, persaingan di antara perusahaan big tech untuk mengamankan pusat data AI semakin sengit, dan tantangan besar muncul dalam mengamankan pasokan listrik yang masif untuk mengoperasikannya. Masalahnya adalah bukan sekadar menambah pembangkit listrik. Hal ini dikarenakan pasokan listrik ke pusat data harus dibarengi dengan perluasan jaringan transmisi dan fasilitas gardu induk agar listrik dapat disalurkan ke lokasi yang tepat pada waktu yang dibutuhkan.
Faktanya, perusahaan big tech tidak hanya mengandalkan jaringan listrik yang ada, tetapi juga mulai mengamankan pasokan listrik melalui kontrak pembelian listrik jangka panjang (PPA) atau bekerja sama secara langsung dengan produsen listrik. Namun, di wilayah yang dipadati pusat data AI, kendala waktu dalam koneksi jaringan listrik dan perluasan infrastruktur terkadang membuat pasokan listrik sulit didapatkan pada waktu yang diinginkan.
Seiring dengan ketatnya persaingan mengamankan listrik, reaktor nuklir, khususnya SMR, muncul sebagai sarana baru bagi perusahaan big tech. Hal ini karena SMR dirancang dengan skala yang relatif lebih kecil dibandingkan reaktor nuklir besar dan fasilitas utamanya bersifat modular, sehingga dapat ditempatkan secara lebih fleksibel di wilayah yang memiliki permintaan listrik tinggi.
Pada tahun 2024, Google menandatangani kontrak dengan perusahaan reaktor nuklir generasi baru Kairos Power untuk menerima pasokan listrik SMR dengan kapasitas maksimal 500MW. Mereka menargetkan reaktor pertama akan beroperasi pada tahun 2030. Amazon juga bekerja sama dengan X-energy untuk mengamankan reaktor nuklir generasi baru yang dibutuhkan pusat data AI mereka. Selain berinvestasi sebesar 500 juta dolar AS dalam bisnis SMR X-energy, Amazon juga sedang mendorong pembangunan reaktor nuklir baru dengan kapasitas hingga 5GW di Amerika Serikat.
TerraPower melangkah lebih jauh dengan menandatangani kontrak untuk penyediaan reaktor Natrium dengan Meta. Pada bulan Januari lalu, kedua perusahaan sepakat untuk mengembangkan hingga 8 reaktor Natrium dan fasilitas sistem penyimpanan energi di Amerika Serikat. Rencana ini mencakup pengembangan dua unit awal, dengan Meta mendapatkan hak atas listrik yang dihasilkan dari maksimal enam reaktor tambahan di kemudian hari. Total skala kontrak mencapai 2,8GW, dan jika memanfaatkan sistem penyimpanan energi, output dapat ditingkatkan hingga 4GW. Pasokan reaktor awal diperkirakan akan dimulai pada tahun 2031-2032.
Komersialisasi 'Natrium' TerraPower… Peran Perusahaan Korea Semakin Nyata
TerraPower sedang mengembangkan 'Natrium', reaktor generasi ke-4 berbasis Sodium-Cooled Fast Reactor (SFR). Desainnya memungkinkan panas yang dihasilkan dari reaktor disalurkan melalui natrium cair, yang kemudian dikombinasikan dengan sistem penyimpanan energi agar lebih fleksibel dalam merespons permintaan listrik.
Saat ini, TerraPower sedang mendorong pembangunan pembangkit listrik Natrium pertama berkapasitas 345MW di Kemmerer, Wyoming, Amerika Serikat. Mereka memiliki visi untuk membangun model komersial dengan memasok reaktor serupa ke berbagai wilayah setelah proyek ini dimulai.
Dalam proses ini, perusahaan-perusahaan Korea tidak hanya menjadi investor semata, tetapi juga semakin meningkatkan kehadiran mereka di berbagai rantai nilai, mulai dari pengembangan bisnis, desain, hingga manufaktur.
SK Inc. dan SK Innovation berpartisipasi sebagai investor utama bersama dalam menarik investasi untuk TerraPower pada tahun 2022 dengan menyuntikkan dana sebesar 250 juta dolar AS. Sejak saat itu, mereka telah mempertahankan hubungan strategis untuk pengembangan reaktor dan perluasan bisnis global TerraPower.
TerraPower dan SK Innovation pada tanggal 14 lalu telah menyepakati syarat-syarat utama untuk bekerja sama dalam bisnis SMR yang akan dilakukan di Amerika Serikat dan luar negeri. Ini berarti mereka telah melangkah lebih jauh dari sekadar hubungan investasi dan telah meletakkan dasar untuk mencari peluang pengembangan bisnis serta partisipasi proyek di masa depan.
Di bidang manufaktur, HD Hyundai dan Doosan Enerbility semakin memperkuat posisi mereka dengan memasok komponen utama untuk proyek Natrium TerraPower.
Pada bulan Mei lalu, HD Hyundai Heavy Industries menandatangani nota kesepahaman dasar untuk pasokan reaktor Natrium dengan TerraPower dan terpilih sebagai produsen prioritas untuk fasilitas utama sistem penahanan reaktor (RES). Tujuannya melampaui produksi unit pertama, yaitu untuk membangun sistem manufaktur yang dapat diterapkan pada berbagai peralatan di masa depan.
Sebelumnya, saat mengumumkan pemasok komponen utama RES untuk reaktor Natrium pertama pada tahun 2024, TerraPower menyatakan bahwa HD Hyundai akan bertanggung jawab atas bejana reaktor, sementara Doosan Enerbility akan menangani bejana pelindung reaktor, struktur pendukung internal, dan struktur inti reaktor.
Pada tahun yang sama, Doosan Enerbility menandatangani kontrak tinjauan manufaktur dan dukungan desain untuk ketiga komponen utama tersebut dengan TerraPower. Berdasarkan hal ini, diharapkan cakupan bisnis mereka akan meluas hingga ke tahap pembuatan peralatan sebenarnya di masa depan.
Hyundai E&C juga turut berpartisipasi dalam kerja sama untuk komersialisasi global Natrium dengan TerraPower dan HD Hyundai. Ketiga perusahaan tersebut tengah mendorong rencana kerja sama yang mencakup desain, manufaktur, rantai pasokan, konstruksi, struktur bisnis, hingga pasokan unit ganda.
Dengan demikian, perusahaan-perusahaan Korea berpartisipasi dalam bisnis Natrium TerraPower dengan mengedepankan kekuatan masing-masing. Strukturnya meliputi SK untuk modal dan pengembangan bisnis, HD Hyundai dan Doosan Enerbility untuk manufaktur komponen utama, serta Hyundai E&C untuk kapabilitas desain dan konstruksi.
Analisis menyebutkan bahwa jika SMR benar-benar menjadi sumber listrik utama, peran yang dimainkan perusahaan Korea dalam rantai pasokan global akan semakin besar. Peneliti iM Securities, Jeon Yoo-jin, memprediksi, “SMR memiliki keunggulan dibandingkan sel bahan bakar dalam hal perluasan kapasitas pembangkit, biaya bahan bakar, serta stabilitas tegangan dan frekuensi. Berdasarkan lini masa saat ini, TerraPower akan menjadi yang pertama memulai pengoperasian komersial SMR di Amerika Serikat.”