주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Ulasan Startup Eropa
Mengapa VC Kini Kembali ke Dunia Startup

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Ada pergerakan personel yang menarik dalam ekosistem startup Eropa. Judith Dada, yang sebelumnya merupakan General Partner di modal ventura (VC) Jerman, Visionaries, kini bergabung sebagai co-CEO di startup kecerdasan buatan (AI) asal Berlin, Langdock. Langdock adalah platform operasional AI untuk perusahaan yang membantu bisnis memanfaatkan berbagai model AI seperti OpenAI, Anthropic, Google Gemini, dan Mistral dalam satu platform terpadu.

General Partner Visionaries Jerman, Judith Dada (tengah), menjadi co-CEO di salah satu perusahaan portfolionya, Langdock. Foto=Visionaries Club
General Partner Visionaries Jerman, Judith Dada (tengah), menjadi co-CEO di salah satu perusahaan portfolionya, Langdock. Foto=Visionaries Club

Kabar ini mendapat sorotan di dunia startup Eropa bukan sekadar karena seorang investor ternama pindah ke startup. Meskipun menjabat sebagai co-CEO Langdock, Dada tetap mempertahankan perannya sebagai Senior Partner di Visionaries. Dengan kata lain, ia tidak sepenuhnya beralih dari investor menjadi operator startup, melainkan berdiri di garis batas antara modal ventura dan pimpinan tertinggi startup.

Perpindahan VC di Eropa = Agenda Strategis Eropa

Di Eropa, perpindahan investor modal ventura ke peran operasional di startup memang mulai meningkat belakangan ini. Namun, masih jarang bagi seorang investor aktif untuk memegang peran setingkat CEO di perusahaan portofolio yang mereka danai, sambil tetap menjaga hubungan dengan firma investasinya. Oleh karena itu, perpindahan Dada lebih dibaca sebagai peristiwa simbolis yang menunjukkan arah tujuan modal ventura Eropa di era kecerdasan buatan, bukan sekadar perubahan karier biasa.

Kasus serupa pernah terjadi di Jerman sebelumnya. Uwe Horstmann, salah satu pendiri modal ventura Jerman, Project A, menjadi CEO startup pertahanan Jerman, STARK, pada tahun 2025. STARK adalah perusahaan yang mengembangkan drone dan sistem pertahanan nirawak, serta menerima pendanaan dari Sequoia Capital, NATO Innovation Fund, In-Q-Tel, dan Project A. Horstmann dikenal sebagai mantan perwira cadangan Jerman dan figur terkemuka dalam investasi startup pertahanan Eropa. Keputusannya menjadi CEO STARK adalah contoh nyata di mana seorang investor tidak lagi sekadar menjadi penyedia modal, tetapi terjun langsung ke dalam agenda besar keamanan Eropa dan kedaulatan teknologi.

Uwe Horstmann yang ditunjuk sebagai CEO STARK pada tahun 2025. Ia juga merupakan investor yang berperan besar dalam tahap pendirian awal STARK. Foto= stark-defence
Uwe Horstmann yang ditunjuk sebagai CEO STARK pada tahun 2025. Ia juga merupakan investor yang berperan besar dalam tahap pendirian awal STARK. Foto= stark-defence

Ada kesamaan antara kasus Dada dan Horstmann. Keduanya tidak berpindah ke aplikasi konsumen sederhana atau perangkat lunak perusahaan umum, melainkan ke area yang menyangkut agenda strategis Eropa: yang satu di bidang kecerdasan buatan, yang lainnya di bidang pertahanan. Di kedua sektor ini, teknologi saja tidak cukup. Dibutuhkan kepercayaan pelanggan, hubungan dengan pemerintah, pemahaman regulasi, penggalangan modal, dan narasi industri. Dalam bidang-bidang seperti ini, seorang investor yang baik dapat memainkan peran lebih dari sekadar penasihat, yakni dengan mewakili perusahaan secara langsung dan meyakinkan pasar.

Perpindahan Aktif antara VC dan Startup

Faktanya, dalam satu hingga dua tahun terakhir, kasus investor modal ventura yang beralih menjadi operator startup meningkat secara mencolok di Eropa. Media spesialis startup Eropa, Sifted, melaporkan pada tahun 2025 bahwa “investor modal ventura Eropa mulai meninggalkan ruang rapat dewan direksi untuk bergabung dengan startup.” Menurut laporan tersebut, banyak investor muda meninggalkan modal ventura untuk bergerak ke startup AI, platform pengembang, tim pertumbuhan, tim strategi/keuangan, hingga asisten eksekutif. Beberapa contoh termasuk analis investasi senior dari Lakestar yang pindah ke startup bimbingan AI Praktika, investor dari White Star yang bergabung dengan tim pertumbuhan startup data AI Encord, dan investor dari Hedosophia yang menjadi asisten eksekutif di platform pengembang Gitpod.

Ada beberapa alasan di balik fenomena ini. Pertama, ekosistem modal ventura Eropa sendiri telah memasuki tahap matang. Pada tahun 2021, di tengah demam investasi startup, modal ventura adalah salah satu karier paling menarik. Namun, seiring kenaikan suku bunga, penyesuaian valuasi startup, dan sulitnya pembentukan dana, dinamika industri modal ventura pun melambat. Bagi investor yang baru merintis karier, tugas meninjau peluang investasi, menghadiri rapat, dan menulis laporan investasi selama bertahun-tahun mulai terasa kurang menarik dibandingkan pengalaman membangun perusahaan secara langsung.

Kedua, kecerdasan buatan mempercepat aliran ini. AI bukan sekadar bidang industri baru; AI mengubah pengembangan produk, penjualan, operasional organisasi, struktur biaya, hingga cara adopsi pelanggan. Rumus investasi di era perangkat lunak sebagai layanan (SaaS) masa lalu tidak lagi berlaku di era AI. Analisis perusahaan dari luar saja tidaklah cukup. Pemahaman lapangan mengenai cara membuat produk, mendistribusikannya, melihat reaksi pelanggan, dan melakukan eksperimen secara mingguan menjadi krusial. Oleh karena itu, beberapa investor memilih untuk menjadi “pembuat” (builder), bukan lagi sekadar “pengamat”.

Ketiga, wacana kedaulatan teknologi Eropa semakin menguat. Kesadaran bahwa Eropa tidak boleh terlalu bergantung pada Amerika Serikat atau Tiongkok—seperti dalam bidang AI, pertahanan, energi, semikonduktor, dan teknologi kuantum—semakin kuat. Startup di bidang ini sulit tumbuh hanya dengan membuat produk yang bagus. Hubungan dengan pemerintah, perusahaan besar, lembaga penelitian, badan pengatur, serta klien pertahanan dan industri sangatlah penting. Di sinilah investor dengan jaringan dan narasi kuat yang terjun langsung sebagai CEO atau co-CEO dapat memberikan sinyal kuat kepada pasar.

Bagaimana dengan Startup Korea?

Di Korea, terdapat kasus pada tahun 2025 yang memicu perdebatan saat seorang investor menjadi pendiri startup. Ryu Joong-hee, CEO FuturePlay, mengundurkan diri dari jabatannya lalu mendirikan startup model fondasi robotika, RLWRLD. RLWRLD diluncurkan dengan mendapatkan pendanaan awal sebesar 21 miliar won pada tahun 2025, dan sejak itu menarik perhatian sebagai startup terkemuka di bidang kecerdasan buatan fisik dengan mengumpulkan dana tambahan dari investor strategis.

Media teknologi global TechCrunch pun dengan sigap memberitakan kabar investasi RLWRLD. Foto=techcrunch
Media teknologi global TechCrunch pun dengan sigap memberitakan kabar investasi RLWRLD. Foto=techcrunch

Kasus Ryu Joong-hee dan Judith Dada tampak serupa namun memiliki perbedaan penting. Ryu Joong-hee mengundurkan diri sebagai CEO modal ventura untuk kembali menjadi pendiri. Di sisi lain, Dada adalah mitra modal ventura aktif yang menjadi co-CEO di perusahaan portofolionya sambil mempertahankan koneksi dengan firma investasinya. Oleh karena itu, dari sudut pandang benturan kepentingan, kasus Dada jauh lebih kompleks.

Ketika seorang investor modal ventura menjadi CEO di perusahaan portofolio tertentu, muncul pertanyaan apakah waktu dan jaringan investor tersebut akan terfokus pada satu perusahaan saja. Para penyokong dana (LP) mungkin bertanya bagaimana perubahan peran pengelola utama memengaruhi operasional dana. Dalam putaran pendanaan berikutnya, kontroversi mengenai perhitungan valuasi, hak partisipasi pro-rata, partisipasi investor lama, hingga investasi pada pesaing dapat muncul.

Meski begitu, aliran ini tidak bisa dianggap negatif begitu saja. Hal ini justru melemparkan pertanyaan penting bagi ekosistem startup Korea. Di bidang dengan transisi teknologi yang cepat seperti AI dan robotika, apakah investor harus terus berperan sebagai penilai dari luar? Apakah seorang investor dengan pengalaman pendiri yang kembali menjadi pendiri adalah hal yang merugikan ekosistem, atau justru sirkulasi alami untuk memecahkan masalah yang lebih besar?

Dunia startup Korea selama ini membedakan peran “Pendiri”, “Modal Ventura (VC)”, “Akselerator (AC)”, dan “CVC (Corporate Venture Capital)” dengan cukup jelas. Namun, di era *deep tech* dan AI, batas ini kemungkinan besar akan memudar. Pendiri yang baik menjadi investor, investor yang baik kembali menjadi pendiri, operator startup sukses membangun dana baru, dan modal ventura terlibat lebih dalam pada pendirian serta pertumbuhan perusahaan di bidang teknologi tertentu mungkin akan menjadi lebih umum. Ini bisa menjadi sinyal bahwa ekosistem sedang matang.

Namun, premisnya jelas. Semakin kabur batasnya, semakin harus jelas tata kelolanya. Seorang investor bisa saja menjadi pendiri, menjadi CEO perusahaan portofolio, atau mempertahankan hubungan dengan firma investasi lamanya. Namun, dalam prosesnya, pemberitahuan kepada LP, klausul personel inti, pengelolaan benturan kepentingan, kompetisi dengan portofolio lama, lingkup penggunaan sumber daya dana, dan penyesuaian hak pengambilan keputusan harus dilakukan dengan transparan. Masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan alasan “visi yang baik” atau “era transisi teknologi besar”.

Bergabungnya Dada ke Langdock mengirimkan pesan kuat ke ekosistem AI Eropa. Pesannya adalah jika ingin berbicara tentang kedaulatan AI Eropa, investor tidak bisa lagi hanya menjadi pengamat. Langkah Horstmann dari Project A ke STARK pun dapat dibaca dalam konteks yang sama. Aliran investor modal ventura Eropa yang terjun ke lapangan startup bukanlah sekadar tren karier, melainkan sinyal bahwa peran investor sedang berubah di era transisi teknologi.

Pergerakan serupa kemungkinan akan lebih banyak terjadi di Korea. Terutama di bidang yang membutuhkan modal, teknologi, klien industri, dan jaringan kebijakan secara bersamaan, seperti AI, robotika, pertahanan, energi, bioteknologi, dan semikonduktor. Yang terpenting bukanlah membagi secara kaku siapa VC dan siapa pendirinya, melainkan memastikan bahwa ketika peran berubah, tanggung jawab juga berubah, dan perubahan tersebut dikelola dengan cara yang meningkatkan kepercayaan ekosistem.

Pada akhirnya, pertanyaan berujung pada satu hal: apakah investor adalah orang yang menilai perusahaan, atau orang yang membangun perusahaan? Di Eropa, jawaban itu perlahan mulai berubah. Perubahan tersebut pun akan segera tiba di dunia startup Korea.

Penulis Lee Eun-seo mengambil jurusan hukum di Korea dan belajar seni teater di Berlin. Ia berbasis di Berlin, kota seni sekaligus pusat startup Eropa, dan memimpin 123Factory yang menjembatani ekosistem startup Korea dan Jerman sambil tumbuh bersama kotanya.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
이은서 칼럼니스트
writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지