[비즈한국] Pekan ini, KOSPI mengalami fluktuasi ekstrem yang mengguncang sentimen investor secara drastis. Pasar bergerak sangat sulit diprediksi, ditandai dengan penurunan tajam sekitar 10% dalam sehari, disusul oleh pemulihan, lalu kembali merosot. Para ahli menilai penyebab volatilitas luar biasa ini adalah pemusatan dana pada saham-saham unggulan tertentu, keterbatasan struktural produk derivatif, serta penyesuaian posisi besar-besaran oleh institusi dan investor asing menjelang siklus penutupan buku semester pertama.

Pertama dalam Sejarah, Circuit Breaker Aktif Dua Kali dalam Seminggu
Pasar KOSPI pekan ini berada dalam kondisi kacau balau. Pada hari Selasa tanggal 23, indeks anjlok hampir 10% hingga memicu *circuit breaker* (CB) yang menghentikan perdagangan secara total. Meski sempat *rebound* sekitar 3-5% selama dua hari pada tanggal 24 dan 25, pasar kembali merosot 5,81% pada tanggal 26, menghapus seluruh kenaikan sebelumnya.
Dengan terjadinya penurunan tajam hanya berselang tiga hari, untuk pertama kalinya sejak pasar modal domestik dibuka, *circuit breaker* aktif dua kali dalam seminggu. *Sidecar*, yang menghentikan sementara efektivitas penawaran perdagangan program, juga telah diaktifkan sebanyak 29 kali tahun ini. Angka ini telah melampaui rekor tahunan (26 kali) pada masa krisis keuangan global tahun 2008. Indeks Volatilitas KOSPI200 (VKOSPI) juga mencetak rekor baru dengan melonjak hingga level 95,09.
Menjelang Penutupan Semester Pertama, Asing dan Institusi Mulai Lakukan Penyesuaian Ulang
Di dunia sekuritas, faktor penentu di balik gejolak harga pekan ini adalah penyesuaian posisi besar-besaran oleh institusi dan asing. Menjelang penyelesaian laporan kinerja semester pertama pada akhir Juni, investor asing dan institusi melakukan penyeimbangan ulang (*rebalancing*) posisi secara besar-besaran. Pihak yang mengelola dana besar dalam pengelolaan dana ini melakukan aksi jual besar-besaran, terutama pada saham semikonduktor berkapitalisasi besar yang sempat naik tajam, guna merealisasikan keuntungan tepat pada waktu penutupan buku, sehingga memicu penurunan indeks. Faktanya, pada tanggal 26 saja, investor asing membuang aset senilai 4,3 triliun won, dan institusi melakukan aksi jual bersih senilai 4,1 triliun won, yang semakin menekan indeks.
Hwang Su-wook, seorang analis dari Meritz Securities, menganalisis, “Dari sisi dana global, mereka diwajibkan untuk menyesuaikan batas risiko dan bobot per negara berdasarkan standar akhir semester, dan transaksi pada tanggal 26 adalah kesempatan terakhir yang efektif. Mengingat penjualan keranjang (*basket selling*) terjadi sejak penawaran simultan sebelum pembukaan pasar untuk mengatur bobot semikonduktor Korea yang melonjak baru-baru ini, ini lebih terlihat sebagai penyesuaian posisi sementara daripada sebuah kepergian struktural dari pasar.”
ETF *Leverage* Semikonduktor Menjadi ‘Bumerang’
Produk *Exchange Traded Fund* (ETF) *leverage* saham tunggal, yang melacak dua kali lipat pergerakan harga saham semikonduktor besar seperti Samsung Electronics005930 dan SK Hynix000660, justru menjadi bumerang bagi pasar modal. Produk-produk ini memaksimalkan keuntungan dengan membeli aset fisik dan berjangka tambahan saat harga naik, namun memiliki kelemahan yang disebut *'Short Gamma'*, di mana mereka terpaksa melikuidasi posisi saat harga jatuh. Akibatnya, saat memasuki pasar yang melemah, terjadi siklus buruk di mana penjualan panik (*panic selling*) teramplifikasi secara mekanis, yang akhirnya mengguncang saham berkapitalisasi besar dan memberikan dampak besar pada KOSPI secara keseluruhan.
Lingkungan ekonomi makro eksternal juga berperan dalam meningkatkan sensitivitas pasar. Kewaspadaan dana global berada di titik tertinggi menjelang pengumuman arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (Fed) AS serta rilis data ketenagakerjaan dan inflasi utama. Hasilnya, aliran modal asing sering kali berubah arah secara mendadak saat sesi perdagangan, yang semakin meningkatkan volatilitas pasar.
Optimisme Semikonduktor Masih Ada… Jangan Mengejar Tren
Dunia sekuritas menginterpretasikan penurunan tajam kali ini sebagai hambatan jangka pendek akibat faktor penawaran dan permintaan, bukan karena keruntuhan fundamental. Analisis menunjukkan bahwa pasar akan berangsur akan menemukan stabilitas kembali setelah penyesuaian posisi oleh institusi di akhir bulan selesai.
Ekspektasi terhadap industri semikonduktor yang didorong oleh euforia Kecerdasan Buatan (AI) masih tetap tinggi. Mengingat Micron Technology dari AS, yang merupakan indikator industri, telah membuktikan kinerja yang baik, perhatian kini tertuju pada laporan kinerja perusahaan-perusahaan utama dalam negeri yang akan diumumkan pada bulan Juli. Estimasi laba operasional kuartal kedua untuk Samsung Electronics, yang akan mengumumkan kinerja sementara pada 7 Juli, berada di angka 84,1 triliun won, sementara SK Hynix yang akan mengumumkan pada tanggal 23 diperkirakan berada di sekitar 63,2 triliun won.
Namun, kenaikan suku bunga acuan domestik dan internasional yang diprediksi terjadi di semester kedua serta potensi pengurangan porsi saham domestik oleh Dana Pensiun Nasional tetap menjadi variabel yang harus diwaspadai. Para ahli menyarankan untuk menghindari pembelian berdasarkan tren (*chasing*) atau *trading* impulsif akibat kepanikan, mengingat volatilitas harian oleh dana pasif mekanis dapat terjadi sewaktu-waktu. Mereka merekomendasikan untuk tetap pada strategi pembelian bertahap dengan fokus pada saham unggulan yang dinilai rendah dibandingkan kinerjanya.