주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Perang AS-Iran Berakhir Setelah 106 Hari, Ketidakpastian Ekonomi Korea Selatan Mereda

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Dengan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran setelah 106 hari, risiko penutupan Selat Hormuz yang mengancam rantai pasokan energi global kini telah teratasi sepenuhnya, memberikan rasa lega bagi industri dan ekonomi makro Korea Selatan. Seiring dengan harga minyak dunia dan biaya pengiriman laut yang sempat melonjak tinggi kini bergerak cepat menuju stabilisasi, perubahan positif yang signifikan diharapkan terjadi pada struktur laba rugi perusahaan domestik yang sebelumnya terbebani oleh biaya tinggi dan nilai tukar yang mencekik.

Setelah berakhirnya perang AS-Iran, kapal tanker minyak raksasa (VLCC) 'Universal Winner' milik HMM, kapal Korea pertama yang keluar dari Selat Hormuz setelah terjebak, tiba di perairan lepas pantai Ulsan pada tanggal 10 untuk membongkar muatan minyak mentah dan sedang mendekati pelampung fasilitas bongkar muat minyak lepas pantai. Foto=Yonhap News
Setelah berakhirnya perang AS-Iran, kapal tanker minyak raksasa (VLCC) 'Universal Winner' milik HMM011200, kapal Korea pertama yang keluar dari Selat Hormuz setelah terjebak, tiba di perairan lepas pantai Ulsan pada tanggal 10 untuk membongkar muatan minyak mentah dan sedang mendekati pelampung fasilitas bongkar muat minyak lepas pantai. Foto=Yonhap News

Perang antara Amerika Serikat dan Iran secara efektif berakhir setelah kesepakatan damai tercapai pada 14 Juni (waktu setempat). Sejalan dengan poin kesepakatan utama yaitu pembukaan kembali Selat Hormuz, hambatan geopolitik yang selama ini mengekang jaringan logistik global mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran. Harga minyak dunia yang sempat melonjak hingga 118 dolar AS per barel (minyak mentah Brent) selama perang, langsung turun ke kisaran 80 dolar AS segera setelah perang berakhir, dan Indeks Kontainer Shanghai (SCFI) juga langsung beralih ke tren penurunan setelah mencatat titik tertinggi di 2985.

Selain itu, premi risiko perang untuk kapal yang sempat melonjak hingga 8% kini juga berangsur kembali ke tingkat normal. Meski demikian, diperkirakan dibutuhkan waktu 60 hingga maksimal 90 hari agar sekitar 60 juta barel minyak mentah yang tertahan di perairan Teluk mencapai tujuan akhir, dan agar jalur produksi minyak mentah Timur Tengah yang mencapai 11 juta barel per hari dapat kembali beroperasi sepenuhnya secara normal.

Fluktuasi tajam harga minyak akibat berkurangnya risiko geopolitik memberikan dampak yang kontradiktif bagi industri penyulingan minyak dan petrokimia domestik. Industri penyulingan menghadapi kekhawatiran kerugian jangka pendek karena 'efek lag' (selisih waktu masuknya bahan baku), di mana mereka harus memproses minyak mentah yang dibeli mahal saat harga tinggi menjadi produk untuk dijual saat harga saat ini sudah turun. Perusahaan penyulingan memiliki selang waktu sekitar 2-3 bulan sejak minyak mentah diimpor hingga diproses dan dijual sebagai produk. Dengan jatuhnya harga minyak ke kisaran 80 dolar AS per barel pada saat produk siap dipasarkan, padahal minyak dibeli saat harga di atas 100 dolar AS, ada kekhawatiran besar bahwa margin keuntungan akan tertekan. Hal ini mengingatkan kembali pada preseden awal pandemi COVID-19 tahun 2020, di mana empat perusahaan penyulingan besar mencatat kerugian total mencapai 4 triliun won dalam satu kuartal, dan kini menjadi faktor negatif jangka pendek yang menyulitkan pemulihan margin penyulingan.

Sebaliknya, industri petrokimia yang telah lama menderita akibat tekanan biaya menyambut penurunan harga nafta sebagai sinyal positif. Harga nafta yang sempat melonjak hingga 1.200 dolar AS per ton akibat perang kini sedang mencoba masuk ke kisaran 500 dolar AS setelah sempat berada di level 800 dolar AS pasca perang. Penghematan biaya ini tidak hanya mendorong pemulihan tingkat operasional unit pemecah nafta (NCC) domestik yang sempat anjlok ke kisaran 60%, tetapi juga menjadi faktor yang memulihkan daya saing harga yang kuat dibandingkan unit pemecah etana (ECC) di AS yang profitabilitasnya memburuk akibat kenaikan harga etana seiring dengan penurunan produksi minyak mentah.

Di industri galangan kapal, pesanan khusus untuk kapal tanker minyak (VLCC) yang sempat meningkat drastis selama perang mungkin akan sedikit mereda, namun fokus jangka panjang diperkirakan akan beralih pada pengamanan daya saing pesanan untuk kapal ramah lingkungan bernilai tinggi generasi berikutnya, seperti kapal bertenaga amonia.

Sektor yang merasakan penghematan biaya paling dramatis adalah industri penerbangan. Stabilisasi nilai tukar dolar terhadap won dan anjloknya harga minyak dunia memberikan keuntungan ganda secara instan bagi industri penerbangan. Maskapai penerbangan domestik mengalokasikan hingga 30% biaya operasional mereka untuk bahan bakar jet, dan memiliki struktur pendapatan di mana biaya utama seperti perawatan dan biaya sewa pesawat dibayarkan dalam mata uang dolar.

Jika tren nilai tukar tinggi yang sempat menembus angka 1.560 won dapat mereda pasca perang, hal ini akan menjadi faktor yang secara signifikan menurunkan beban biaya bahan bakar tahunan yang mencapai 4 triliun won serta biaya keuangan lainnya seperti biaya sewa. Selain itu, penurunan biaya perjalanan yang dirasakan konsumen akibat turunnya biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) dapat memicu peningkatan permintaan perjalanan luar negeri yang sempat melambat akibat inflasi tinggi.

Industri baja juga mendapatkan kabar baik. Dengan turunnya biaya pengiriman laut, biaya transportasi bijih besi dan batu bara yang sepenuhnya diimpor dari luar negeri diperkirakan akan berkurang. Terutama bagi perusahaan baja berbasis tungku listrik (electric arc furnace), di mana listrik mencakup 20-30% dari biaya produksi, penurunan harga minyak dan batu bara adalah kabar menggembirakan. Penurunan biaya pembangkitan listrik jangka panjang diharapkan memainkan peran krusial dalam pemulihan profitabilitas mereka.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김민호 기자

중화학공업·에너지 분야를 담당하고 있습니다. 지속가능한 사회와 삶에 관심이 많습니다.

goldmino@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지