[비즈한국] 'Cho-tong-ryeong' (Presiden Anak-anak) adalah gelar istimewa yang diberikan kepada sosok yang mendapat dukungan dan cinta mutlak dari anak-anak. Dalam silsilah yang bermula dari Pororo ini, nama-nama ikon budaya populer mulai dari grup idola seperti TVXQ, BTS, dan IVE, hingga animasi (seri Digimon, Shinbi Apartment, dll.) dan kreator konten platform (Dottie, Common Siblings, dll.) telah terdaftar. Di antara deretan nama besar ini, ada seorang kartunis yang berdiri sejajar dengan mereka, yaitu Nam Dong-yoon, penulis seri 'Guru Hantu'. Saya menemuinya di sebuah kedai sundaetguk (sup sosis darah) di Deungchon-dong, Gangseo-gu.

Begitu masuk ke kedai, seorang staf yang sedang memotong kepala babi yang baru direbus menyambut kami dengan pisaunya. Terpesona oleh aroma daging yang pekat di ruangan itu, saya dengan senang hati menerima ajakan tersebut. Saya langsung mengerti mengapa sang penulis menjadikan tempat ini langganannya saat tinggal di Deungchon-dong dahulu. Sang kartunis menghabiskan malam dengan mengosongkan pikirannya untuk mengisi panel-panel komiknya, lalu mencari tempat ini untuk meredakan rasa lapar di dini hari.
Semangkuk Sundaetguk dan Segelas Makgeolli yang Menemani 20 Tahun 'Infinite Challenge'
Sejak pertama kali mencicipinya saat kuliah di Cheonan atas ajakan senior dan teman-temannya, semangkuk sundaetguk dan segelas makgeolli telah menjadi pendamping setia sang penulis dalam kerja lembur. Dalam perjalanan pulang di dini hari, ia sering mencari seolleongtang atau sup tauge, tetapi katanya tidak ada yang cocok dengan makgeolli sebaik sundaetguk. Keahliannya menuangkan dongdongju (minuman keras tradisional) dari gayung biru sangatlah luwes.
Menjadi dewasa dengan beban utang keluarga, sang penulis bekerja tanpa henti bersama kakaknya selama 20 tahun. Meskipun tidak pernah menonton program hiburan TV legendaris 'Infinite Challenge', hidupnya sendiri sudah merupakan hari-hari penuh tantangan yang mengulang rutinitas tanpa henti. Bagi pria yang pulang dengan tubuh kelelahan setelah seharian berkutat dengan ilustrasi dan karikatur, sundaetguk dan makgeolli menjadi hiburan sederhana untuk menenangkan kepenatan hidup dan menutup hari. Kini, demi kesehatan, ia tidak lagi begadang untuk bekerja dan terkadang pergi ke luar negeri untuk mengisi ulang energi. Namun, ia mengaku selalu teringat cita rasa yang memuaskan ini setiap kali berada di luar negeri atau menyelesaikan sebuah proyek.

Berasal dari Masan, Gyeongsangnam-do, ia selalu menyukai 'makanan kampung halaman' seperti agwijjim (ikan angler pedas) dan dwaeji gukbap (sup babi), atau makanan yang menggabungkan makanan laut dan daging seperti jjamppong dan tumis cumi-cumi babi. Mengingat ia memilih sundaetguk sebagai makanan jiwanya, bisa dikatakan ia memang sudah 'kecanduan' sundaetguk.
Kartunis 'Komik Anak' yang Bermimpi Menjadi Guru Sekolah Dasar
Meskipun seleranya merakyat dengan sundaetguk dan makgeolli, ia adalah penulis populer di bidang 'komik anak'. Sejak buku pertama seri 'Guru Hantu dan Anak-anak Asli' terbit pada tahun 2014, komik-komiknya telah meraih kesuksesan besar dan kini dimuat dalam buku teks bahasa Korea kelas 3 SD. Pada tahun 2019, ia menerima Penghargaan Komik Anak di Bucheon Comics Awards ke-16. Di tengah situasi di mana komik edukasi mendominasi dan seni untuk anak-anak seperti lagu, dongeng, dan puisi semakin kurang mendapat perhatian, ini merupakan pencapaian yang sangat bermakna.
Namun, bukan berarti ia memimpikan menjadi kartunis sejak kecil atau perjalanannya sebagai penulis komik anak berjalan mulus. Meski gemar menggambar sejak kecil, ia sudah lama bermimpi menjadi guru SD. Menjelang kuliah, ia sempat bimbang antara jurusan pendidikan guru dan jurusan komik. Reaksi penerbit saat ia pertama kali mengajukan naskah juga tidak begitu baik. Banyak hal, mulai dari gaya gambar hingga susunan cerita, yang terbentur standar staf editor.
Keinginannya untuk memiliki 'satu buku' karya sendiri setelah lama bekerja lepas, serta keyakinan pada gambarnya sendiri, mengubah kesulitan tersebut menjadi kisah pertumbuhan. Hal ini mengingatkan kita pada 'Mu-i-il-gu' (Tidak ada bola kedua), keyakinan hidup Jang Myung-boo, bintang andalan Sammi Superstars. Karya solonya yang semula hanya mengharapkan 'satu buku' kini telah mencapai enam buku. Pertanyaan kapan buku berikutnya akan terbit membuatnya terus berkarya; karyanya kini menjadi sahabat bagi pembaca anak-anak dan meninggalkan jejak bermakna dalam sejarah komik kita.
“Saya Ingin Mereka Merasakan Secara Alami Saat Menikmatinya”
Karya Nam Dong-yoon mengesankan dengan detail yang sangat tinggi di setiap panelnya. Ketika ditanya tentang pengaruh gaya gambarnya, ia menjawab bahwa pengaruh kartunis Choi Ho-cheol membuatnya menggambar dengan sangat 'padat' di setiap panel. Mengingat kembali karya Choi Ho-cheol, 'Euljiro Circular Line', yang menggambarkan pemandangan dalam dan luar kereta bawah tanah jalur 2 yang memasuki stasiun Sindorim dengan detail fotorealistik, gaya gambarnya yang penuh detail langsung dapat dipahami.
Komiknya yang padat juga memuat konten sosial-budaya seperti krisis iklim atau budaya rakyat, namun 'niat untuk menggurui' tidak tampak di mana pun. Masalah hewan telantar bahkan disisipkan secara halus ke dalam episode, sehingga sulit ditemukan kecuali oleh pembaca yang jeli atau yang membaca berulang kali. Ucapan sang penulis, “Saya menyusunnya dengan harapan mereka bisa merasakannya secara alami saat menikmati ceritanya,” menunjukkan hatinya yang menghargai anak-anak sebagai pembaca.
Mencatat Setiap Anak yang Ditemui
Hidup Nam Dong-yoon sederhana. Tidak ada hobi atau kesenangan khusus. Menggambar komik dan menemui anak-anak di acara bincang-bincang adalah sebagian besar rutinitasnya. Acara bincang-bincang yang dimulai karena ingin berinteraksi dengan anak-anak melalui bukunya kini telah melampaui 800 kali. Seperti kuda legendaris yang menjelajahi seluruh negeri, ia pun berhasil mewujudkan mimpinya menjadi guru SD.

Baginya, acara bincang-bincang adalah waktu untuk bermain bersama anak-anak. Seperti komiknya, ia lepas dari skema obsesif untuk mengajar dan belajar. Sang penulis, yang tampak menganggap dirinya sebagai anak-anak yang sudah dewasa, mengatakan bahwa tidak ada banyak perbedaan antara masa kecilnya yang sulit tidur karena memikirkan berbagai hal, dengan sekarang. Bukankah Mencius pernah berkata bahwa orang dewasa sejati adalah mereka yang tidak kehilangan hati anak-anak?
Sang penulis, yang menggambar karikatur untuk tiga atau empat anak di setiap acara bincang-bincang (sekitar 400 anak per tahun), mengatakan bahwa ia mengarsipkan semua catatan pertemuan, termasuk foto bersama. Ia bahkan pernah menemukan karikatur yang diarsipkannya saat bertemu kembali dengan seorang anak kelas 1 SD yang kini sudah kelas 6 SD, yang menunjukkan betapa tulusnya ia dalam mendokumentasikan.
Penulis bahkan menyimpan semua gambar yang dibuatnya sejak kecil. Catatan yang menumpuk hari demi hari ini menjadi basis data untuk kreatifnya. Faktanya, karakter 'Guru Kang' dalam seri 'Guru Hantu' dimodelkan dari guru wali kelasnya saat kelas 4 SD, dan karakter lain dalam komik juga diambil dari teman masa kecilnya atau anak-anak yang ditemuinya di acara bincang-bincang. Mungkin karena setiap orang adalah hubungan yang berharga, ia tidak menentukan satu protagonis utama yang kaku dalam karyanya karena berpikir bahwa semua anak harus menjadi protagonis. Kelas di dalam karyanya, di mana pemeran utamanya berganti setiap episode, layak disebut sebagai 'Sekolah Bong-sung-a' versi 'Guru Kang'.
Ia masih bertemu teman masa kecil yang menjadi model karakter komiknya setahun sekali. Katanya, teman-temannya kini sudah menjadi orang tua yang sibuk mengurus anak-anak mereka sendiri. Mungkin tak lama lagi, anak-anak dari teman-temannya pun akan muncul dalam komiknya.
Kutukan Lucu Pembaca Anak Adalah Kekuatanku
Ketika saya bertanya tentang rahasia aktivitasnya yang produktif, ia menceritakan tentang 'kutukan'. Itu adalah kutukan lucu berupa serangan 'ttong-chim' (tusuk pantat) dari pembaca anak-anak di blognya yang mendesak agar ia segera mengeluarkan buku berikutnya. Bagi seseorang yang sangat mencintai anak-anak hingga rela membuat sendiri hadiah seperti kartu dan stiker untuk mereka, kutukan pembaca adalah vitalitas besar bagi kreativitasnya. Itulah alasan mengapa sang penulis, yang bahkan membutuhkan waktu seminggu untuk menggambar dua halaman, langsung duduk di meja kerja setelah pulang dari acara bincang-bincang.
Dalam bagian penutup 'Guru Hantu dan Sekolah Hantu yang Seram', ada adegan sang penulis meminta malaikat maut untuk bersabar karena ia akan menggambar hingga volume ke-10. Jika penulis sudah menyelesaikan sepuluh volume, kutukan dan desakan dari pembaca anak-anak yang menginginkan volume berikutnya pasti akan membanjir. Akankah malaikat maut sanggup menahannya?
Nam Dong-yoon lahir dan besar di Masan, Gyeongsangnam-do pada tahun 1982. Sejak kecil ia menyukai komik dan banyak menggambar sambil bermain bebas dengan teman-temannya. Setelah lulus dari jurusan Komik Universitas Sangmyung, ia menampilkan ilustrasi dan karikatur di berbagai majalah, buletin perusahaan, dan acara, serta mengerjakan komik seperti 'Mimpi Keledai' (bulanan 'People and Thoughts', 2007~2010), '88 Plus' (bulanan 'Campus Plus', 2008~2009), 'Masalah dan Karikatur Nam Dong-yoon' (bulanan 'People', 2007~2008), 'Waktu Istirahat' (bulanan 'Eureka M', 2010), dan 'Anak dan Ayah' (bulanan 'Life and Dream', 2007~2011).
Seri 'Guru Hantu', karya representatifnya, mulai bertemu pembaca secara resmi pada tahun 2014 setelah merilis 'Guru Hantu dan Anak-anak Asli' sebagai komik anak pertama, setelah sebelumnya membuat ulang dan menambahkan episode baru dari 'Paket Komik Paman Ddong-yoon' yang dimuat di majalah anak bulanan 'Gaetdong-i Playground' pada tahun 2011. Melihatnya yang rela menjadi 'Paman Ddong-yoon' demi kesenangan pembaca ciliknya, tidaklah berlebihan untuk mengingat penulis besar Tiongkok, Lu Xun, yang rela menjadi 'sapi' demi anak-anak.
Seri 'Guru Hantu' sejak terbitan pertamanya telah terpilih dalam berbagai program dukungan di Korea Manhwa Content Agency, seperti 'Guru Hantu dan Pemecahan Masalah' pada 2016 dan 'Guru Hantu dan Sekolah Hantu yang Seram' pada 2018. Pada 2019, 'Guru Hantu dan Sekolah Hantu yang Seram' memenangkan Penghargaan Komik Anak di Bucheon Comics Awards. Karya terbarunya, 'Guru Hantu dan Dunia Lain', juga terpilih dalam program dukungan produksi komik keberagaman di Korea Manhwa Content Agency pada 2021. Di luar komik, pada 2019 ia menerbitkan buku gambar berjudul 'Apa yang Terjadi di Negeri Debu di Dalam Laci'.
Penulis Seo Chan-hwi adalah kritikus komik yang telah menelusuri dan merangkum alur serta hubungan antara komik dan budaya sekitarnya dalam konteks sejarah. Sejak 1998, ia mengelola komunitas informasi komik 'Manhwain' dan menulis untuk berbagai media seperti Hankyoreh, Ilyo Shinmun, Incheon Ilbo, dan Kookbang Ilbo. Penulis Song Ha-won adalah perwakilan dari Public Culture Development Center UrArt dan mengelola toko buku spesialis komik alternatif 'Homtong'. Ia adalah perencana budaya, peneliti komik, profesor paruh waktu di Departemen Komunikasi Universitas Sungkonghoe, dan anggota dewan di Geumcheon Foundation for Arts and Culture. Dalam 'Soul Food Kartunis', mereka berdua berusaha untuk melihat kehidupan dan dunia karya para kartunis representatif Korea melalui makanan yang mereka cintai.