[비즈한국] Pameran karya seniman Lee Young-soo, yang terkenal dengan lukisan tetesan air di atas dedaunan, akan segera digelar. Kalipa Gallery (CEO Son Gyeong-ran) akan mengadakan pameran tunggal pelukis Lee Young-soo bertajuk 'Vanitas dalam Tetesan Air' mulai tanggal 19 hingga 11 Juli mendatang. Dalam pameran ini, sekitar 20 karya lukis sang seniman yang telah mengeksplorasi aliran kehidupan dan waktu dengan menangkap momen sekilas di alam akan diperkenalkan kepada publik.

Subjek utama dalam lukisan Lee Young-soo adalah tetesan air atau embun yang jernih pada dedaunan. Seperti judul pameran ini, sang seniman menunjukkan kefanaan, yaitu Vanitas, melalui tetesan air tersebut.
'Vanitas' adalah tradisi panjang dalam sejarah seni yang merenungkan kefanaan eksistensi manusia dan kesia-siaan hidup. Jika seniman masa lalu menggunakan tengkorak atau bunga layu sebagai simbol kematian, Lee Young-soo menafsirkannya kembali secara modern melalui 'tetesan air' yang, pada saat paling penuh, sudah mengandung kepunahan di dalamnya. Embun yang terbentuk di dedaunan saat dini hari memang berkilau indah terkena cahaya matahari, namun akan segera menguap dan menghilang.
Tetesan air karyanya tidak secara langsung mengekspresikan kematian, melainkan secara diam-diam menegaskan bahwa momen-momen kehidupan menjadi lebih berharga dan indah justru karena mereka pasti akan lenyap. Hal ini bersinggungan dengan konteks pembahasan Damien Hirst mengenai hidup dan mati. Namun, alih-alih deklarasi besar, Lee Young-soo mengambil pendekatan kontemplatif yang tenang dan mendalam dengan memasukkan siklus kehidupan ke dalam satu tetes air.
Terutama dalam pameran kali ini, kita dapat melihat perluasan artistik sang seniman yang melampaui lukisan hiperrealis yang presisi. 10 karya baru yang diperkenalkan tidak hanya berhenti pada upaya mereproduksi bentuk luar subjek. Dengan menambahkan sapuan kuas yang bebas dan aliran warna yang fleksibel, ia menangkap momen yang diciptakan oleh cahaya, udara, dan pergerakan angin secara artistik.
Realisme ekstrem berubah secara alami menjadi abstrak, dan sensibilitas abstrak kembali menjadi esensi alam. Hal ini membuktikan bahwa perspektif sang seniman dalam memandang alam telah berkembang menjadi ranah yang lebih batiniah dan kontemplatif, melampaui sekadar perubahan gaya melukis.

Seniman Lee Young-soo menjelaskan perubahan tersebut, "Jika dalam karya-karya sebelumnya tetesan air berfungsi menengok kembali kehidupan sebagai mikrokosmos yang menampung tatanan dan sensasi berskala kosmik dengan memperluas dunia yang terpantul di dalamnya secara sangat detail, maka dalam pameran kali ini, daripada mengejar dunia di dalam tetesan air secara hiperrealis, saya lebih memperluas suasana menjadi lebih kontemplatif (non-figuratif) dengan membentangkan tekstur rumput, angin, dan udara di mana tetesan air terbentuk ke dalam kanvas yang lebih luas."
Sang seniman mengatakan, "Seperti peribahasa 'jangan melihat pohon, tapi lihatlah hutannya', saya menampilkan momen-momen saat embun terbentuk dan menghilang secara sekaligus. Saya berharap pengunjung dapat lebih dalam menghadapi serta merenungkan waktu dan kenangan mereka sendiri melalui karya-karya saya."
Perwakilan Kalipa Gallery menyampaikan, "Pameran ini akan membuat pengunjung merasakan dunia lain yang terkandung di dalam tetesan air. Kami berharap ini menjadi waktu perenungan mendalam untuk menengok kembali makna hidup, waktu, dan eksistensi melalui catatan momen terindah dari kehidupan yang terbatas."