[비즈한국] “Seni harus memberikan kebahagiaan. Ia harus menjadi pujian tanpa henti terhadap kehidupan, dan menjadi oase yang membebaskan dari kesulitan.”
Saya pergi melihat pameran Fernando Botero. Ia adalah maestro asal Kolombia dan salah satu seniman paling representatif dari seni Amerika Latin abad ke-20. Mungkin karena ini adalah pameran retrospektif skala besar yang terdiri dari 112 karya yang dikerjakan dari masa saat gaya sang seniman yang disebut ‘Boterismo’ terbentuk hingga masa tuanya, pengunjungnya sangat banyak. Yang menarik, ekspresi orang-orang di sana umumnya cerah. Hal itu wajar, karena karya Botero tidak sulit untuk dipahami. Artinya, tidak perlu bersikap terlalu kaku atau menganggap seni sebagai sesuatu yang mendalam dan rumit.

Ciri khas terbesar Botero adalah volume. Segala sesuatu yang hidup dalam karyanya tampak mengembang seperti balon. Botero, yang memiliki prinsip bahwa ‘dalam seni, volume bersentuhan dengan konsep spesifik yang disebut sensualitas’, menciptakan gaya lukis uniknya sendiri dengan memberikan volume yang terasa seolah ingin meledak pada subjek karyanya. Saat melihat sosok-sosok yang memenuhi kanvas tersebut, seseorang dapat merasakan kelimpahan, kehangatan, dan sekaligus rasa kebebasan yang aneh. Apalagi setelah mendengar penjelasan pemandu pameran (docent) yang merasa canggung(?) karena seorang anak kecil yang datang melihat pameran sempat berteriak “Itu Ibu!” saat melihat karya Botero. Mungkin sang anak tidak hanya melihat volume ibu dalam karya tersebut, tetapi juga menemukan kehangatan sosok seorang ibu?

Pameran yang merangkum perjalanan seni selama 60 tahun ke dalam 112 karya ini terdiri dari 6 bagian. Bagian pertama, ‘Variasi’, yang menafsirkan kembali karya maestro klasik seperti Velázquez dan Goya dengan caranya sendiri, langsung menarik minat pengunjung. Karya-karya terkenal yang kita kenal, seperti ‘Potret Pernikahan Arnolfini’ karya Jan van Eyck atau ‘Infanta Margarita Teresa dalam Gaun Biru’ karya Diego Velázquez, dihadirkan kembali dengan imajinasi dan sentuhan khas Botero yang mengundang tawa.
Seperti kata Botero, “Agar seni benar-benar universal, ia harus terlebih dahulu bersifat lokal”, bagian ‘Amerika Latin’ yang membuat kita bisa merasakan asal-usulnya secara kental pun terasa menarik. Bagian ‘Agama’, yang menafsirkan kembali gambar religius seperti Bunda Maria, orang suci, dan uskup dalam budaya Amerika Selatan yang didominasi Katolik dengan volume dan warna khasnya, terasa menyenangkan sekaligus berani. Struktur pameran ini sangat solid, membawa pengunjung mengikuti jejak kehidupan dan pemikiran Botero melalui bagian ‘Benda Mati’ yang membuat objek familiar tampak asing, bagian ‘Adu Banteng’ yang terinspirasi dari pengalamannya di sekolah adu banteng saat remaja, dan bagian ‘Sirkus’ yang memperlihatkan humor serta sisi kemanusiaan yang dalam.

Setiap kali disebut sebagai ‘pelukis yang hanya menggambar orang gemuk’, Botero menjawab, “Bukan gemuk, tapi saya mengekspresikan sensualitas manusia dan benda. Saya suka kemolekan dan keluasan seperti itu. Karena kenyataan hidup ini cukup kering.” Sebenarnya, jika hanya melihat karyanya, dunia tampak menyenangkan dan penuh tawa, namun kehidupan Botero sendiri memiliki banyak lika-liku yang pahit. Ia kehilangan ayahnya di usia muda dan harus menerima kritik keras dari para kritikus saat menjadi pelukis. Ia kehilangan putranya yang berusia empat tahun akibat kecelakaan lalu lintas, dan Botero sendiri mengalami cedera tangan yang parah dalam kecelakaan tersebut. Setelah mendengar penjelasan docent dan melihat karya yang menggambarkan putra kecilnya yang baru pertama kali dipamerkan, perasaan Anda mungkin akan terasa berbeda.

Ada pula karya yang mengungkapkan identitasnya sebagai sosok asal Medellin, Kolombia, kota yang sempat tercoreng oleh imej kartel narkoba, seperti karya yang menggambarkan kematian gembong narkoba terbesar Kolombia berjudul ‘Kematian Pablo Escobar’. Botero diketahui mendonasikan mahakarya yang ia kumpulkan seumur hidup beserta karya-karyanya sendiri ke museum yang didirikan di kampung halamannya, dengan syarat harus terbuka gratis untuk siapa saja. Harapan tulus sang pelukis untuk memberikan sedikit kebahagiaan melalui seni bagi orang-orang yang hidup di realitas yang kering, juga turut membantu mengubah citra Medellin yang dulu disebut sebagai kota paling berbahaya di dunia.

Pameran Botero memang bisa dinikmati sesuka hati tanpa harus merasa sulit, namun semakin banyak informasi yang diketahui, semakin menarik pula pengalaman menikmatinya. Audio guide sangat disarankan, begitu pula penjelasan dari docent yang diadakan dua kali sehari pada hari kerja. Meski area pameran akan dipenuhi pengunjung saat sesi docent karena popularitasnya, tetap sangat layak untuk diikuti. Jika Anda berencana berkunjung bersama anak di akhir pekan, ada baiknya memesan program pendidikan seni khusus ‘Thinking Museum-Kids Atelier’ di mana anak dapat melakukan aktivitas seni yang berkaitan dengan kunjungan pameran.

Mengunjungi toko suvenir setelah melihat pameran adalah hal wajib. Karena unsur humor dan warna-warna yang menyenangkan sangat mendominasi, suvenir di toko pun sangat beragam. Berbagai kartu pos, buku catatan, gantungan kunci, hingga magnet menanti untuk dibeli. Bagi pengguna kacamata, set tempat kacamata dengan warna-warna vivid yang menonjol mungkin akan sangat menarik perhatian.

‘Fernando Botero: Estetika Bentuk’ akan berlangsung hingga 30 Agustus di Hangaram Design Museum, Seoul Arts Center. Ini adalah kesempatan untuk menemukan kesegaran bak oase di tengah keseharian yang kering.