주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

[Proyek Dukungan Seni Korea Musim ke-12] Joo Kyung-sook - Garis yang Mengandung Energi Kehidupan

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Kami memulai 'Proyek Dukungan Seni Korea' musim ke-12, sebuah program dukungan bagi para seniman untuk mengolah tanah yang subur bagi seni rupa Korea. Inisiatif ini kini telah diakui oleh dunia seni sebagai acara yang bermakna dalam menemukan dan membina para seniman. Proyek ini pun dikenal luas di kalangan seniman sebagai program yang paling diminati. Kata kunci dasar yang dikejar oleh 'Proyek Dukungan Seni Korea' sejak awal adalah 'penerimaan terhadap beragam aliran seni Korea dan pencarian perubahan yang progresif'. Sebagai hasil dari prinsip-prinsip tersebut, proyek ini dinilai telah berhasil menetapkan sudut pandang unik dalam memandang seni rupa kontemporer Korea.

Seniman Joo Kyung-sook menemukan energi kehidupan dan tatanan hidup dari tanaman yang sering ia temui di sekitarnya, lalu menuangkannya ke dalam karya lukis. Foto=Reporter Park Jung-hoon
Seniman Joo Kyung-sook menemukan energi kehidupan dan tatanan hidup dari tanaman yang sering ia temui di sekitarnya, lalu menuangkannya ke dalam karya lukis. Foto=Reporter Park Jung-hoon

Apakah garis benar-benar ada di dalam alam semesta? Secara ketat, garis sebenarnya tidak ada. Apa yang kita lihat sebagai garis hanyalah hasil pertemuan antara satu bidang dengan bidang lainnya; garis itu sendiri tidak eksis. Namun, kita selalu merasakan kehadiran garis dalam kehidupan sehari-hari. Garis adalah hal pertama yang kita temui saat menggambar. Segala sesuatu di alam juga diekspresikan dengan garis. Oleh karena itu, garis menempati posisi yang paling mendasar sekaligus penting dalam seni lukis.

Dalam seni Barat yang setia pada dunia yang tampak, garis sulit untuk dianggap sebagai elemen bentuk yang mandiri. Perhatian terhadap garis baru benar-benar muncul sejak abad ke-20. Sebelumnya, garis hanya digunakan sebagai sarana pendukung untuk memperjelas kontur objek atau batas bidang, atau sekadar sketsa dasar untuk menyusun komposisi gambar.

Seniman awal abad ke-20 yang menunjukkan ketertarikan pada garis dan menampilkan karakter garis yang mandiri antara lain adalah pelukis beraliran ekspresionisme, Raoul Dufy dan Georges Rouault. Dufy memberikan sentuhan musikal pada garisnya untuk menunjukkan kenikmatan sensasional, sementara Rouault dikenal dalam sejarah seni karena menggunakan garis tebal untuk mengungkapkan kedalaman dunia spiritual religius.

seeing inside: 60.5×60.5cm Acrylic on canvas 2024
seeing inside: 60.5×60.5cm Acrylic on canvas 2024

Bersamaan dengan munculnya seni abstrak, garis naik menjadi elemen formatif yang paling penting. Garis kini memiliki karakter yang independen. Inilah yang melahirkan konsep 'drawing' berbasis garis.

Sebaliknya, dalam seni Timur, garis selalu menjadi pusat perhatian. Dapat dikatakan bahwa seni lukis Timur telah mengalami perubahan dan perkembangan berdasarkan bagaimana garis dikelola. Kaligrafi dapat dianggap sebagai seni yang paling sukses dalam menuangkan makna ke dalam garis.

Dalam kaligrafi, garis tidak hanya mengandung makna, tetapi juga mencerminkan watak atau spiritualitas sang seniman. Menjelang akhir Dinasti Joseon, garis kaligrafi bahkan mencapai taraf menciptakan seni lukis baru. Itulah yang disebut sebagai seni lukis berbasis teknik kuas yang dikenal dengan sebutan 'lanskap dengan sensibilitas baru' (sin-gamgak sansu).

Seniman utama dari aliran ini, Buksan Kim Soo-cheol, menghidupkan suasana pemandangan alam yang jernih dengan garis kaligrafi yang murni dan ringkas, sementara Ubong Jo Hee-ryong menunjukkan makna lanskap yang hidup dan berenergi melalui garis ritmis dari gaya tulisan kursif (choseo). Chusa Kim Jeong-hee membuka dunia seni lukis literati yang tajam, memperlihatkan martabat semangat cendekiawan melalui garis-garis unik ciptaannya sendiri.

Menanti(Chaeseokgang): 260.6×162cm Acrylic on canvas 2023
Menanti(Chaeseokgang): 260.6×162cm Acrylic on canvas 2023

Inti dari karya lukis Joo Kyung-sook juga terletak pada garis. Makna garis yang ia kejar bersentuhan dengan estetika lanskap sensibilitas baru, yang dapat disebut sebagai seni lukis khas Korea dari akhir periode Joseon. Hal ini terlihat dari kesamaan dalam menjadikan alam sebagai objek, memberikan karakter personal pada garis, dan mencari esensi garis dari teknik kuas kaligrafi.

Ia menemukan energi kehidupan dan tatanan hidup dari tanaman yang sering ia temui di sekitarnya, lalu mengubahnya menjadi karya lukis. Ia mengekspresikan hubungan tak kasat mata antara ekologi tanaman dan kehidupannya sendiri melalui garis. Dalam karya Joo Kyung-sook, garis tersebut muncul sebagai garis kontur yang menggambarkan tanaman. Namun, garis tersebut tidak berhenti sekadar sebagai deskripsi bentuk tanaman. Hal ini terlihat dari caranya menggambarkan tanaman menggunakan garis yang tebal dan berisi, yang diperkuat oleh teknik kuas yang diasah dari kaligrafi.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
전준엽 화가·비즈한국 아트에디터
writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지