[비즈한국] Di tengah situasi di mana 'Choline Alfoscerate (Choline)', pemain dominan di pasar peningkat fungsi otak, terancam ditarik dari peredaran akibat kontroversi efikasi dan tekanan evaluasi ulang klinis, 'ekstrak daun ginkgo', yang memiliki indikasi serupa, kini muncul sebagai alternatif yang menjanjikan setelah mendapatkan data klinis objektif yang membuktikan kemampuannya menghambat akumulasi beta-amyloid, penyebab utama penyakit Alzheimer.

Yang Young-soon, profesor neurologi di Soonchunhyang University Cheonan Hospital (Direktur Asuransi Asosiasi Demensia Korea), mengungkapkan pada media roundtable yang diadakan di Korea Press Center, Seoul, pada tanggal 18, "Kami telah mengonfirmasi melalui PET-CT (Positron Emission Tomography) bahwa ekstrak daun ginkgo menghambat akumulasi beta-amyloid di otak pasien dengan gangguan kognitif ringan." Beta-amyloid adalah protein beracun utama penyebab demensia Alzheimer, dan ini adalah pertama kalinya efek penghambatan agregasi beta-amyloid oleh ekstrak daun ginkgo dibuktikan menggunakan peralatan pencitraan. Hal ini sangat signifikan karena efikasi ekstrak daun ginkgo, yang sebelumnya bergantung pada evaluasi fungsi kognitif subjektif atau indikator perbaikan gejala, kini terbukti secara visual melalui data biomarker objektif.
Hasil analisis dari uji klinis yang dilakukan Profesor Yang selama 18 bulan terhadap pasien dengan gangguan kognitif ringan (MCI) yang dinyatakan positif dalam pemeriksaan PET amyloid menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol yang menerima suplemen kognitif konvensional (seperti omega-3 dan prekursor kolin), sebanyak 28,6% pasien berkembang menjadi penyakit Alzheimer. Sebaliknya, tidak ada satu pun pasien yang berkembang menjadi demensia pada kelompok yang mengonsumsi 240mg ekstrak daun ginkgo per hari.
Dalam tes yang mengukur gumpalan protein beracun (oligomerisasi) berbasis darah (MDS-Oaβ), angka pada kelompok kontrol meningkat secara signifikan dari 0,86±0,11 menjadi 0,95±0,21, sedangkan pada kelompok yang menerima ekstrak daun ginkgo, angka tersebut turun dari 0,87±0,14 menjadi 0,79±0,13.
Profesor Yang menjelaskan, "Ini adalah pembuktian dengan angka objektif bahwa agregasi beta-amyloid, penyebab utama demensia Alzheimer, dapat dihambat."
Selanjutnya, Profesor Yang menekankan, "Jika obat-obatan yang ada saat ini bekerja dengan menambah neurotransmiter yang terlibat dalam fungsi kognitif untuk menekan gejala sementara, penelitian ini menggeser paradigma pengobatan dari sekadar menekan gejala ke penghilangan penyebab, karena bekerja langsung pada faktor penyebab penyakit, yaitu agregasi beta-amyloid."

Profesor Kim Hee-jin dari Departemen Neurologi Hanyang University Hospital, yang turut dalam diskusi hari itu, menilai bahwa hasil penelitian ini akan menjadi tonggak penting di lapangan medis nyata.
Profesor Kim memprediksi, "Ekstrak daun ginkgo akan menjadi alternatif luar biasa dalam pendekatan farmakologis yang tidak hanya sekadar mengamati gejala memori, tetapi juga memperlambat akumulasi amyloid dan penurunan kognitif. Khususnya, jika dikonsumsi bersama dengan terapi antibodi yang dapat menghilangkan amyloid, efektivitasnya dapat ditingkatkan lebih jauh."
Pencapaian klinis ekstrak daun ginkgo ini menjadi sangat berpengaruh karena sediaan kolin, yang dulunya mendominasi pasar obat penyakit otak, kini berada di ujung tanduk.
Sediaan kolin yang sempat mencatatkan resep tahunan sebesar 600 miliar won, kini mengalami pemotongan besar-besaran dalam penggantian biaya asuransi setelah keputusan Mahkamah Agung akibat kontroversi utilitas klinis. Meskipun biaya mandiri sebesar 30% tetap dipertahankan bagi pasien yang terdiagnosis demensia, biaya mandiri untuk penyakit selain demensia seperti gangguan kognitif ringan, gejala sisa stroke, dan depresi lansia melonjak hingga 80%.
Terlebih lagi, jika puluhan perusahaan farmasi seperti Chong Kun Dang185750 dan Daewoong Bio yang telah membangun front klinis bersama gagal membuktikan efikasinya dalam evaluasi ulang klinis oleh KFDA tahun ini, indikasi penggunaan obat tersebut akan hilang. Akibatnya, mereka tidak hanya akan dikeluarkan sepenuhnya dari daftar penggantian asuransi kesehatan, tetapi juga harus menanggung beban pengembalian dana asuransi kesehatan yang mencapai hingga 500 miliar won.