[비즈한국] Pada 26 April lalu, terkonfirmasi bahwa unit pertama mesin jet 'KTF5500', yang pengembangannya dipimpin oleh Badan Pengembangan Pertahanan (ADD), telah selesai dirakit di pabrik Hanwha Aerospace012450 di Changwon. Hal ini sangat bermakna karena menandai keberhasilan pertama dalam menyelesaikan mesin jet berumur panjang dengan teknologi domestik, setelah selama ini sepenuhnya bergantung pada impor. Dengan pencapaian ini, industri mesin jet dalam negeri kini memiliki landasan penting untuk merambah lebih jauh, tidak hanya di sektor pesawat nirawak (UAV), tetapi juga ke pasar pesawat militer seperti KF-21 dan jet bisnis.
Mesin jet secara garis besar dibagi menjadi mesin berumur pendek dan berumur panjang. Karena kipas mesin jet harus berputar pada kecepatan super tinggi dan tahan terhadap gas pembakaran bersuhu tinggi, kuncinya adalah seberapa tinggi suhu yang bisa ditahan dan berapa lama ketahanannya. Mesin berumur pendek yang hanya bertahan puluhan jam hanya digunakan untuk sistem senjata 'sekali pakai' seperti rudal, dan tidak dapat dipasang pada UAV atau pesawat berawak yang membutuhkan waktu terbang lama.

Hingga saat ini, sebagian besar mesin yang dirancang oleh ADD dan Hanwha Aerospace adalah mesin berumur pendek. Hambatan masuk ke pasar mesin jet berumur panjang sangat tinggi, dengan hanya segelintir negara yang mampu memproduksi dan mengomersialkannya, seperti Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Inggris, Prancis, Jepang, dan Ukraina. Ukraina, yang dulunya memiliki kemampuan, sebagian besar telah kehilangan kapasitas pengembangannya akibat perang, sementara Turki, meski sedang melakukan upaya serupa dengan kita, dinilai masih kurang substansial dibandingkan dengan promosi eksternalnya.
KTF5500 yang baru saja selesai dirakit adalah mesin jet berumur panjang yang dapat dipasang pada UAV, dan merupakan hasil dari proyek jangka panjang yang dimulai pada Desember 2019 hingga akhir tahun 2027. ADD memimpin pengembangan, sementara banyak perusahaan pertahanan domestik seperti Hanwha Aerospace dan MNC Solution berpartisipasi dalam integrasi sistem serta pembuatan komponen dan sistem bantu. Daya dorongnya sebesar 5500 lb (pound), setara dengan mesin AI-222 milik Ukraina, dan cocok untuk pesawat latih ringan atau pesawat nirawak. Meski masa pakainya belum diungkapkan secara spesifik, diperkirakan dapat beroperasi hingga 2000 jam lebih.
Penyelesaian KTF5500 berarti menaklukkan batas terakhir industri pertahanan Korea Selatan dan mengamankan daya saing ekspor yang kuat. Sebelumnya, sistem senjata darat seperti tank K2 atau howitzer K9 sempat mengalami kendala terkait izin ekspor (E/L) mesin, namun berhasil merambah pasar baru seperti Mesir berkat pemasangan power pack buatan dalam negeri. Kekhawatiran serupa terus muncul untuk pesawat tempur KF-21 Boramae yang akan segera dioperasikan; karena saat ini menggunakan mesin F414 buatan GE Amerika Serikat, masalah izin ekspor mesin bisa menjadi hambatan saat memasuki pasar global di masa depan.
Selain itu, dalam proses pengembangan jangka panjang, pencapaian tingkat konsumsi bahan bakar spesifik (SFC) yang rendah dan kemampuan produksi daya listrik yang tinggi—yang merupakan indikator utama mesin UAV modern—tetap menjadi tugas yang harus dicapai untuk mesin pesawat nirawak pendamping (CCA) yang akan datang.
Oleh karena itu, selain mempercepat evaluasi uji coba KTF5500, tampaknya pengembangan mesin UAV ringan generasi berikutnya seperti HAF4500 dari Hanwha Aerospace, yang memiliki daya saing ekspor maksimal, juga harus dilakukan secara paralel. Selain itu, diperlukan evolusi kebijakan untuk mentransfer pengetahuan pengembangan KTF5500 ke industri kedirgantaraan sipil guna mengalihkan sistem pengembangan yang berpusat pada lembaga penelitian menjadi dipimpin oleh perusahaan. Struktur yang saling menguntungkan ini harus mapan agar proyek pengembangan mesin canggih kelas 16.000 lb yang menargetkan tahun 2040 dapat terus berlanjut.