[비즈한국] Kami memulai Musim ke-12 dari 'Proyek Dukungan Seni Korea', sebuah program pendukung seniman untuk menyuburkan tanah seni Korea. Proyek ini kini telah diakui oleh dunia seni sebagai acara yang bermakna dalam menemukan dan membina seniman. Proyek ini pun dikenal luas di kalangan seniman sebagai proyek yang sangat ingin diikuti. Kata kunci dasar yang telah dikejar oleh 'Proyek Dukungan Seni Korea' sejak awal adalah 'penerimaan terhadap beragam arus seni Korea dan pencarian perubahan yang berkembang'. Sebagai hasil dari prinsip-prinsip ini, proyek ini dinilai telah menetapkan satu perspektif dalam memandang seni kontemporer Korea.

Setiap makhluk hidup pasti akan mengalami 'rasa sakit pertumbuhan' (growing pains). Seperti lirik lagu pop, ini bisa diartikan sebagai 'semakin dewasa seiring dengan rasa sakit yang dialami'. Rasa sakit pertumbuhan telah diperlakukan sebagai tema yang menarik dalam semua jenis seni. Sastra klasik seperti 'Sonagi' karya Hwang Sun-won, 'Demian' karya Hermann Hesse, dan 'Tonio Kröger' karya Thomas Mann adalah karya agung yang mengambil tema rasa sakit pertumbuhan. Begitu pula film karya sutradara Heo Jin-ho 'One Fine Spring Day' atau karya agung Sydney Pollack 'Out of Africa' yang mengangkat tema serupa.
Sebuah puisi yang akrab bagi kita dengan tema rasa sakit pertumbuhan pun terlintas di pikiran.
Kapan waktu untuk pergi / Seseorang yang tahu dengan pasti dan pergi / Betapa indahnya punggungnya
Satu musim semi / Menahan gejolak / Cintaku sedang berguguran
Kelopak bunga yang berguguran... / Terbungkus dalam berkah perpisahan / Sekarang adalah waktunya untuk pergi
Menuju dedaunan yang rimbun dan / Menuju musim gugur / Yang segera akan berbuah
Masa mudaku mati seperti bunga
Mari berpisah / Melambaikan tangan dengan lembut / Suatu hari saat kelopak bunga berguguran perlahan
Cintaku, perpisahanku / Seperti air yang menggenang di mata air, menjadi matang / Mata sedih jiwaku
-Lee Hyeong-gi 'Nak-hwa' (Bunga yang Gugur)


Seniman Seo Je-ah juga menarik perhatian dengan karya-karyanya yang bertemakan rasa sakit pertumbuhan. Lukisan-lukisannya menangkap rasa sakit yang ia alami saat tumbuh sebagai seniman dan rasa sakit pertumbuhan yang dialami rekan-rekan seusianya sebagai ritus peralihan melalui ekspresi metaforis.
Ia menceritakan kisah rasa sakit pertumbuhan melalui lautan dan buah yang mengapung di atasnya. Lautan melambangkan kejadian-kejadian yang menerpa di setiap momen kehidupan serta kesulitan yang menyertainya. Dalam seri 24 karya ini, ia menyatakan bahwa citra ombak yang digambarkan secara abstrak melambangkan penderitaan hidup. Ia menempatkan buah berbentuk buah-buahan di atas latar belakang laut, yang merupakan simbol dari hasil yang diperoleh dengan mengatasi rasa sakit pertumbuhan.
Hal yang lebih patut diperhatikan dalam karya Seo Je-ah adalah bahannya. Penggabungan makna rasa sakit pertumbuhan dengan sifat dasar bahan tersebut merupakan gagasan yang unik. Ia tidak melukis karyanya. Ini adalah sejenis teknik kolase di mana potongan-potongan kulit digabungkan. Oleh karena itu, karyanya disebut sebagai 'Seni Kulit'.

Seniman tersebut memotong kulit yang telah diwarnai dengan berbagai warna ke dalam ukuran tertentu dan menyambungkannya seperti piksel untuk membuat gambar. Alasan penggunaan kulit sangat jelas dan meyakinkan.
“Kulit berperan seperti pakaian bagi hewan dan merupakan material yang telah menemani kehidupan hewan tersebut. Bisa dikatakan bahwa kulit menampung banyak peristiwa yang dialami hewan sejak lahir hingga tumbuh dewasa. Ini adalah rekam jejak hewan yang berhasil menjalani hidupnya. Saya ingin menghubungkan hal ini dengan makna pertumbuhan.”