[비즈한국] Obesitas bukan lagi sekadar masalah kemauan pribadi. Ini adalah 'bencana struktural' yang menimbulkan kerugian sosial-ekonomi sebesar 15 triliun won per tahun. Bizhankook mulai mencari solusi mendasar untuk menghadapi tagihan obesitas besar yang sedang dihadapi masyarakat kita. Kami meninjau lingkungan pola makan anak dan remaja yang runtuh, serta memeriksa dilema kebijakan yang tajam seputar penggantian biaya pengobatan obesitas dan penerapan pajak gula. Lebih jauh, kami menyoroti inovasi K-Bio yang melampaui batas-batas kemanjuran obat dan akan mengubah peta pasar global senilai 100 triliun won.
Obesitas pada anak dan remaja kini bukan lagi masalah keserakahan atau kemalasan individu, melainkan bencana struktural besar yang dihadapi masyarakat kita. Pada konferensi akademik musim semi ke-63 Asosiasi Obesitas Korea yang diadakan di Walkerhill Hotel, Seoul, bulan lalu, kekhawatiran mengenai lingkungan pola makan anak dan remaja yang runtuh mencuat. Secara khusus, para ahli menunjuk masalah 'beban ganda gizi', di mana obesitas dan berat badan kurang meningkat secara bersamaan, sebagai tugas mendesak yang harus diselesaikan masyarakat kita.

Rasa manis yang menjadi 'perisai keluhan'... Kantin sekolah yang runtuh
Makan siang di sekolah adalah benteng terakhir di mana anak-anak bisa mendapatkan makanan seimbang satu-satunya dalam sehari. Namun, di lokasi konferensi akademik, terdengar keluhan bahwa “Karena mencoba memenuhi preferensi siswa, kelompok makanan yang sama sering muncul bersamaan, atau proporsi makanan olahan meningkat secara tidak wajar karena alasan kemudahan memasak.”
Masalah terbesarnya adalah keluhan orang tua. Karena orang tua melayangkan protes mengenai menu yang tidak sesuai dengan selera anak mereka, pihak sekolah berkompromi dengan menu yang didominasi rasa manis demi kemudahan administrasi. Situasi di mana minuman dan roti ditambahkan sebagai camilan satu atau dua kali seminggu kini bukan lagi pengecualian, melainkan rutinitas. Bisa dikatakan bahwa sekolah sedang menjadi sarang lingkungan penyebab obesitas.
Seorang orang tua yang menghadiri Asosiasi Obesitas Korea menuturkan realitas pahit, “Orang tua sering bertanya kenapa sekolah tidak memasukkan makanan yang disukai anak mereka, dan sekolah yang menuruti semua permintaan ini akhirnya membuat menu makanan semakin tidak sehat.” Terkait hal ini, Jeong So-jeong, seorang profesor pediatri di Rumah Sakit Universitas Konkuk, mengatakan, “Kami menyadari bahwa kepuasan terhadap makan siang semakin menurun,” dan menambahkan, “Proyek keterkaitan yang mengumpulkan opini melalui asosiasi untuk kemudian mencerminkannya ke dalam kebijakan harus diperkuat.”

Satu sisi obesitas, sisi lain penganut 'tulang kering'... Polarisasi gizi akibat algoritma
Di saat kantin umum runtuh karena rasa manis di dunia nyata, situasi di lingkungan digital tempat anak-anak terjebak jauh lebih serius. Baru-baru ini, fenomena 'polarisasi gizi' semakin dalam, di mana jumlah pasien obesitas berat meningkat di satu sisi kelas, sementara di sisi lain anak-anak menderita anoreksia.
Berbeda dengan obesitas akibat kelebihan gizi, berat badan kurang bertindak sebagai faktor yang menghambat perkembangan fisik remaja di masa pubertas. Secara khusus, ada pendapat bahwa akumulasi tulang yang tidak memadai akibat kekurangan gizi dapat meningkatkan risiko patah tulang atau osteoporosis di masa depan. Selain itu, hal ini dapat menurunkan fungsi kekebalan tubuh, meningkatkan risiko infeksi, atau menyebabkan masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.
Hong Yong-hee, seorang profesor pediatri di Rumah Sakit Bucheon Universitas Soonchunhyang, menjelaskan, “Kelebihan berat badan dan berat badan kurang berada dalam spektrum malnutrisi, bukan masalah yang berlawanan satu sama lain. Jika anak yang berat badannya kurang mengalami kenaikan berat badan saat tumbuh dewasa, mereka akan lebih mudah menimbun lemak, yang justru dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti obesitas, diabetes, dan penyakit kardiovaskular.”
Muncul pendapat bahwa lingkungan media digital, seperti algoritma YouTube dan TikTok, mendorong fenomena obesitas dan berat badan kurang yang semakin parah ini. Algoritma menyuntikkan dua dunia ekstrem kepada anak-anak yang terjebak di depan layar ponsel selama 2-4 jam atau lebih per hari. Di satu sisi, algoritma membanjiri mereka dengan iklan makanan pesan-antar dan konten mukbang yang provokatif untuk memicu makan berlebihan dan obesitas, sementara di sisi lain, mereka memuja bentuk tubuh selebriti yang sangat kurus dan memaksakan tantangan 'tulang kering'.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyadari masalah ini dan secara tegas merekomendasikan pengurangan waktu layar melalui pedoman baru pada tahun 2023. Perangkat digital tidak hanya merampas aktivitas fisik anak-anak, tetapi juga menanamkan obsesi makan yang menyimpang, membuat anak-anak lupa cara makan yang sehat.
Selain itu, muncul pendapat bahwa evaluasi pertumbuhan yang akurat untuk anak-anak sangat penting karena persepsi orang tua yang salah terhadap berat badan anak dapat menyebabkan berat badan kurang. Profesor Hong menekankan, “Ada hasil penelitian yang menyatakan bahwa 18% orang tua dengan anak yang memiliki berat badan sehat justru menganggap anaknya obesitas. Evaluasi pertumbuhan yang akurat oleh orang tua dan pendidikan mengenai berat badan yang sehat sangatlah penting.”

Biaya sosial-ekonomi mencapai 15 triliun won... 'Tidak ada gunanya' jika lingkungan tidak diubah
Sekitar 80% obesitas pada anak berlanjut menjadi obesitas pada orang dewasa. Sel-sel lemak yang meningkat selama masa kanak-kanak menciptakan konstitusi tubuh yang mudah gemuk bahkan setelah berusaha keras saat dewasa. Hal ini menyebabkan timbulnya berbagai penyakit kronis secara dini, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular, yang menimbulkan biaya sosial-ekonomi sekitar 15 triliun won per tahun.
Para ahli menekankan perlunya menghapus stigma obesitas yang menganggap obesitas sebagai masalah kemauan pribadi. Sangat tidak masuk akal untuk meminta anak-anak 'makan lebih sedikit dan berolahraga' sementara mereka dibiarkan begitu saja di tengah godaan makanan ultra-proses dan lingkungan digital dengan standar kecantikan yang menyimpang yang diciptakan oleh orang dewasa. Sebelum bersorak atas munculnya obat penurun berat badan yang inovatif, langkah mendasar seperti memperbaiki kantin sekolah yang menyerah pada rasa manis dan menurunkan hambatan algoritma digital yang dihadapi anak-anak sangatlah mendesak.