[비즈한국] Sudah satu tahun berlalu sejak Pemerintah Kota Seoul memasang kotak pengembalian khusus wadah pakai ulang di area pengiriman (delivery zone) Taman Hangang Ttukseom dan Yeouido. Meskipun kotak tersebut dipasang untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, efektivitasnya dipertanyakan karena sulitnya menemukan penggunaan nyata di lapangan.
Pada tanggal 11, saat jam makan siang, Taman Hangang Ttukseom dipenuhi warga yang menikmati piknik. Area pengiriman ramai dengan warga yang menunggu makanan dan motor pengantar makanan yang keluar masuk tanpa henti. Berbeda dengan situasi yang ramai tersebut, pengguna wadah pakai ulang hampir tidak terlihat.

Hasil pengamatan di area pengiriman 1 dan 2 Taman Hangang Ttukseom dari pukul 11 pagi hingga 2 siang menunjukkan bahwa selain wartawan, hanya ada satu kelompok yang memesan menggunakan wadah pakai ulang. Saat mengecek kotak pengembalian, tidak ada wadah yang dikembalikan selain wadah yang digunakan oleh wartawan sendiri.
Sebagian besar warga yang ditemui hari itu tidak mengetahui keberadaan kotak pengembalian, bahkan tidak tahu bahwa pemesanan dengan wadah pakai ulang tersedia di aplikasi pengiriman. Seseorang bernama Moon, yang ditemui di area pengiriman 1 Ttukseom, berkata, "Saya sering datang ke Hangang untuk memesan makanan dalam setahun terakhir, tapi saya baru dengar tentang kotak pengembalian wadah pakai ulang hari ini."
Bukan berarti tidak ada informasi. Spanduk yang mendorong pemesanan dengan wadah pakai ulang sudah terpasang di area pengiriman, begitu pula spanduk panduan cara pemesanan. Namun, tampaknya hal tersebut tidak menarik perhatian warga. Faktanya, seorang wanita berusia 20-an berinisial A yang sedang mengambil makanan di area pengiriman 2 Ttukseom mengaku "baru pertama kali melihatnya" saat ditunjukkan foto spanduk tersebut, meskipun ia mengambil makanannya tepat di samping spanduk itu.
Reaksi para pengemudi ojek online pun serupa. Para pengemudi yang ditemui hari itu kompak mengatakan, "Saya belum pernah melihat pesanan menggunakan wadah pakai ulang."

Situasi tidak jauh berbeda saat mengunjungi area pengiriman Taman Hangang Yeouido sekitar pukul 3 sore. Tempat ini juga dipenuhi warga yang mengambil makanan, namun pengguna wadah pakai ulang sulit ditemukan. Hasil pemeriksaan kotak pengembalian di area 1, 2, dan 3 Taman Hangang Yeouido hanya menemukan satu kasus pengembalian di area 3.
Setelah mencoba langsung layanan wadah pakai ulang, wartawan mendapati bahwa prosedur pemesanan dan pengembalian cukup rumit. Dalam kasus ‘Baedal Minjok’ yang digunakan hari itu, pengguna harus mencari restoran yang menyediakan wadah pakai ulang dengan mengetik kata kunci di kolom pencarian, lalu secara manual mengatur penggunaan wadah pakai ulang di bagian permintaan khusus toko saat memesan.
Prosedur pengembalian juga tidak sederhana. Setelah makan, pengguna harus memasukkan wadah ke dalam tas pengembalian yang disertakan, mendaftarkan informasi pemesan dan pengembalian melalui kode QR yang tertera pada tas, lalu memasukkannya ke kotak pengembalian khusus. Fakta bahwa pengguna harus berjalan lagi ke area pengiriman tempat kotak berada setelah selesai makan juga menjadi ketidaknyamanan tersendiri.

Meski memesan dengan wadah pakai ulang, tidak semua komponen disediakan demikian. Makanan utama memang ada di wadah pakai ulang, namun nasi datang dalam wadah plastik, dan sendok serta sumpit juga disediakan sekali pakai. Berbeda dengan tujuan pengurangan plastik, beberapa komponen masih bergantung pada barang sekali pakai.
Menurut Pemerintah Kota Seoul, dari April hingga Desember 2025, tahun pertama penerapan, terdapat 221 pesanan wadah pakai ulang dan 212 pengembalian di Taman Hangang. Dibandingkan dengan suasana Taman Hangang yang memiliki permintaan pengiriman tinggi, tingkat penggunaannya relatif rendah. Seorang pejabat kota menyatakan, "Karena masih dalam tahap awal, kami akan memperluas proyek ini secara bertahap."
Meskipun tujuan kebijakan untuk mengurangi plastik sudah jelas, layanan wadah pakai ulang tampaknya belum mendarah daging di lapangan. Banyak warga yang tidak mengetahui layanan tersebut, dan proses pemesanan serta pengembalian tidak dapat dikatakan praktis. Agar kotak pengembalian ini tidak sekadar menjadi formalitas, diperlukan peningkatan kesadaran warga, perbaikan prosedur pemesanan, serta penambahan restoran yang berpartisipasi.