[비즈한국] Waktu makan siang di area perkantoran padat di Seoul, yaitu Gangnam dan Yeouido, kini mulai berubah. Karyawan kantoran beralih dari restoran ke kafe tidur, kafe buku, dan fasilitas tidur tanpa awak, yang menunjukkan bahwa waktu makan siang kini lebih diprioritaskan untuk pemulihan selama 20~30 menit daripada sekadar makan.
Saat dikunjungi pada tanggal 9, para pengelola ruang tidur di Gangnam dan Yeouido kompak mengatakan, “Tidak ada tempat kosong saat jam makan siang.” Permintaan dari karyawan yang ingin memejamkan mata sejenak di tengah singkatnya waktu istirahat siang terlihat jelas di berbagai lokasi perkantoran. Beberapa tempat bahkan sudah penuh dipesan sejak pagi, dan sulit untuk menemukan kursi kosong saat jam makan siang tiba.

Salah satu kafe tidur di dekat Stasiun Gangnam dikenal sebagai ‘tempat favorit untuk tidur siang’ di kalangan pekerja. Tempat ini dilengkapi dengan 9 ruang tidur dan lounge. Tersedia juga perangkat pendukung istirahat seperti kursi pijat dan headset peredam kebisingan. Seorang pengelola di sana mengatakan, “Sebagian besar pengunjung adalah karyawan kantoran di sekitar sini. Saat jam makan siang, ruang tidur hampir selalu penuh, dan jika ruangan sudah penuh, banyak orang yang beristirahat di lounge.”
Kondisi di fasilitas tidur tanpa awak di dekatnya pun serupa. Sekitar pukul 11 pagi, sudah ada beberapa kamar yang dipesan untuk jam makan siang. Dalam ulasan online, ada juga komentar yang mengatakan, “Saya menggunakannya lebih dari dua kali seminggu.”

Fasilitas tidur tanpa awak ini dioperasikan sebagai ruang reservasi independen yang menargetkan permintaan pekerja kantoran. Mereka memiliki 4 cabang yang berpusat di area dengan mobilitas tinggi, dan cabang Gangnam yang dikunjungi hari ini terdiri dari 3 kamar mandiri. Setiap kamar dilengkapi dengan 2 kursi pijat serta fasilitas penunjang istirahat seperti penutup mata untuk tidur dan selimut. Terdapat pula pemberitahuan di dalam kamar bahwa denda pembersihan hingga 500.000 won dapat dibebankan jika meninggalkan sampah atau selimut begitu saja saat keluar ruangan. Saat dicoba langsung, kursi pijatnya cukup empuk dan nyaman untuk berbaring.
Pengguna dapat memesan minimal 30 menit melalui situs resmi atau platform reservasi, kemudian masuk ke kamar melalui tautan yang dikirimkan via KakaoTalk. Setelah masuk, pencahayaan dan tirai dapat diatur melalui tautan tersebut, sehingga pengguna bisa mengubah suasana ruangan tanpa harus beranjak dari tempat duduk. Namun, metode membuka pintu melalui tautan tampak sulit dipahami oleh pengguna baru. Karena tidak ada staf pemandu, pada hari itu pun terlihat pengguna yang sempat berdiri bingung di luar karena tidak tahu cara membuka pintu.

Ada juga kasus di mana ruang tidur tersedia langsung di dalam tempat kerja. Sebuah lembaga pendidikan luar negeri di Yeoksam-dong, Gangnam-gu, mengoperasikan ruang tidur khusus untuk karyawan dan klien mereka. Ini menandakan bahwa permintaan tidur siang yang dimulai di area komersial perkantoran kini merambah ke dalam lingkungan tempat kerja.
Yeouido pun tidak jauh berbeda. Sebuah kafe buku di dekat Stasiun Yeouido memiliki ruang khusus untuk tidur sejenak, dan pada pukul 12 siang hari itu, tempat tersebut sudah penuh. Pengelola ruang tersebut berkata, “Pada hari kerja, ruang tidur selalu penuh, dan paling cepat tempat sudah mulai terisi sejak pukul 10 pagi.”

Kurang tidur kronis dianggap sebagai alasan utama karyawan mencari kafe tidur. Masyarakat Korea tercatat memiliki rata-rata waktu tidur yang singkat. Faktanya, menurut ‘Laporan Tidur Korea 2026’ dari perusahaan teknologi tidur Asleep, total waktu tidur orang Korea adalah 5 jam 25 menit, jauh di bawah durasi tidur ideal yaitu 7~9 jam. Analisis menunjukkan bahwa permintaan untuk bertahan dengan tidur siang saat jam makan siang meningkat karena mereka harus berangkat kerja dalam keadaan kurang tidur, ditambah dengan waktu perjalanan yang panjang dan lembur.
Karyawan kantoran memiliki alasan tersendiri dalam mencari ruang tidur di luar perusahaan. Pekerja kantoran di dekat Stasiun Gangnam, A, mengatakan, “Karena baru masuk kerja, saya merasa stres harus bekerja dengan baik sehingga sulit tidur. Akhirnya saya mencari tempat untuk beristirahat sebentar saat jam makan siang.” Pekerja kantoran B yang ditemui di Yeouido mengatakan, “Jarak perjalanan jauh dan sering lembur, jadi saya memilih tidur siang daripada makan saat jam istirahat. Tidur di kantor rasanya tidak enak hati, jadi saya memilih keluar.”
Pilihan ‘tidur daripada makan’ menunjukkan perubahan dalam pola hidup pekerja kantoran. Semakin banyak orang yang menghabiskan waktu makan siang dengan melewatkan makan atau makan seadanya demi bisa memejamkan mata sebentar. Survei waktu penggunaan dari Badan Statistik Korea tahun 2024 juga menunjukkan bahwa dalam 5 tahun terakhir, waktu tidur berkurang dan persentase orang yang makan siang di hari kerja juga menurun. Jam makan siang tidak lagi menjadi waktu untuk makan santai, melainkan berubah menjadi waktu pemulihan untuk bertahan menjalani pekerjaan di sore hari.