[비즈한국] Munculnya laporan bahwa teknologi rahasia generasi baru milik CIA, ‘Ghost Murmur’ (Bisikan Hantu), berperan di balik penyelamatan dramatis seorang pilot pesawat tempur F-15E Angkatan Udara AS yang ditembak jatuh di Iran baru-baru ini telah menarik perhatian dunia akademik. Teknologi ini diklaim mampu melacak posisi penyintas dengan mendeteksi detak jantung manusia dari jarak puluhan kilometer, namun komunitas ilmiah dan para ahli meragukan kelayakan fisiknya. Sebagian pihak bahkan menganalisis bahwa ini adalah operasi psikologis tingkat tinggi untuk menutupi metode penyelamatan yang sebenarnya.

Pada tanggal 7 (waktu setempat), New York Post melaporkan, mengutip pejabat AS, bahwa 'metode pengukuran magnetik kuantum jarak jauh' yang disebut 'Ghost Murmur' telah digunakan dalam operasi penyelamatan tersebut. Teknologi ini bekerja dengan cara menangkap sinyal elektromagnetik halus yang dihasilkan oleh detak jantung manusia, kemudian menggunakan perangkat lunak kecerdasan buatan (AI) untuk memisahkannya dari kebisingan latar belakang.
Saat itu, perwira militer AS tersebut sedang bersembunyi jauh di pegunungan untuk menghindari kejaran militer Iran, sehingga sulit untuk menentukan titik lokasi yang tepat dengan perangkat pelacak posisi konvensional. Inti dari laporan tersebut adalah bahwa teknologi 'Ghost Murmur' yang dikerahkan saat itu memainkan peran krusial dalam menentukan lokasi dengan mendeteksi detak jantung sang perwira dari jarak sekitar 64 km. Teknologi ini dikabarkan dikembangkan oleh departemen pengembangan rahasia perusahaan pertahanan AS, Lockheed Martin, yang dikenal sebagai 'Skunk Works'. Media utama domestik seperti Chosun Ilbo juga memberitakan kisah penyelamatan ini dengan mengutip New York Post.
Namun, muncul reaksi skeptis dari dunia akademis mengenai apakah teknologi ini secara fisik memungkinkan. Magnetometer kuantum (Quantum magnetometers) adalah perangkat presisi tinggi yang menggunakan karakteristik mekanika kuantum untuk mendeteksi perubahan medan magnet yang sangat halus. Umumnya, saat mengukur detak jantung, sensor digunakan hampir menempel atau pada jarak sangat dekat sekitar beberapa sentimeter. Oh Sang-won, profesor Fisika di Universitas Ajou, menjelaskan, “Medan magnet sekitar 100pT (pikoTesla) dihasilkan oleh detak jantung tepat di atas dada, dan dari jarak 64km, mustahil, mustahil, pengukuran langsung hampir mustahil dilakukan karena banyaknya gangguan (noise).”
Majalah sains populer ternama AS, 'Scientific American', juga secara langsung membantah laporan tersebut. Menurut hukum fisika, kekuatan sinyal medan magnet berkurang drastis berbanding terbalik dengan pangkat tiga jarak. John Wikswo, profesor Teknik Biomedis dan Fisika di Vanderbilt University, menjelaskan, “Jarak sinyal akan berkurang menjadi seperseribu bahkan jika hanya menjauh 10 cm dari jarak ukur, dan akan melemah hingga tingkat sepersejuta juta pada jarak 1 km.”
Masalah kebisingan latar belakang juga disorot. Argumen yang muncul menyatakan bahwa menyaring sinyal manusia tertentu dari jarak 64km menggunakan AI berada di luar kategori ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Chad Orzel, profesor Fisika di Union College, menegaskan, “Untuk mendeteksi detak jantung, seseorang harus mempertimbangkan tidak hanya kebisingan magnetik yang dihasilkan oleh medan magnet bumi serta arus alami dan buatan, tetapi juga detak jantung semua hewan yang ada di sekitar.”
Oleh karena itu, semakin kuat dugaan bahwa 'Ghost Murmur' bukanlah senjata nyata, melainkan bagian dari operasi psikologis intelijen tingkat tinggi milik AS. Para ahli berpendapat bahwa AS mungkin menyebarkan informasi palsu untuk melindungi metode intelijen sinyal (SIGINT) yang presisi, intelijen manusia (HUMINT), atau versi upgrade dari peralatan yang ada yang digunakan saat menyelamatkan pilot tersebut dari negara lawan seperti Iran. Profesor Orzel mengatakan, “Bisa jadi ini adalah disinformasi strategis untuk menipu pihak lain seperti Iran dengan membuat mereka percaya bahwa AS memiliki teknologi rahasia yang melampaui batas.”