주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Sains
Ya, ini tentang UFO lagi

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Februari lalu, unggahan mengenai penampakan benda terbang aneh tak dikenal di langit Meksiko sempat menghebohkan media sosial. Bukan foto berkualitas rendah yang buram, melainkan foto yang diambil dengan sangat jelas. Jika dilihat, objek tersebut tampak memiliki berbagai perangkat aneh yang menggantung, yang sulit dipercaya sebagai benda buatan Bumi. Oleh karena itu, muncul kegemparan bahwa foto UFO paling jelas akhirnya berhasil diabadikan. Namun, faktanya, foto ini hanyalah hasil editan AI pada foto asli. Jika melihat foto asli yang beredar, penampakannya jauh lebih buram. Bukannya terlihat seperti perangkat mesin logam, objek itu justru lebih mirip balon plastik. Beberapa orang menduga bahwa objek tersebut kemungkinan adalah balon acara berbentuk papan tulis (slate) dengan tulisan 'Hollywood' di atasnya.

Seperti inilah, banyak orang masih terus menantikan UFO. Mereka berharap bahwa di suatu tempat di luar angkasa sana, alien yang hidup dan bernapas sedang mengintip Bumi secara diam-diam. Mengapa kita begitu menantikan UFO? Seberapa kesepiankah kita, sampai-sampai setiap kali melihat sesuatu di langit, kita terburu-buru ingin menumpangkan alien di dalamnya? Dan apakah benar-benar tidak ada bukti astronomis yang secara pasti menunjukkan keberadaan UFO? Mari kita bahas topik mengenai UFO yang selama ini dianggap tabu oleh para astronom.

Sekitar pukul 4 pagi pada 17 Januari 1994, gempa bumi kuat melanda Los Angeles. Seluruh kota mengalami mati listrik. Warga yang sedang tidur terkejut dan berlarian keluar gedung. Pagi itu, layanan 911 dibanjiri laporan dari warga yang mengaku melihat UFO. Namun, yang mengejutkan, objek tersebut ternyata adalah Bimasakti yang muncul di langit dini hari. Ini adalah kejadian terkenal di mana Bimasakti, yang biasanya tersembunyi karena gemerlap lampu kota, muncul dan membuat warga LA yang belum pernah melihatnya ketakutan dan mengira itu adalah UFO.

Begitulah, sejak lama orang-orang akan langsung teringat UFO begitu melihat sesuatu yang tidak biasa di langit malam. Objek itu bisa jadi hanyalah awan biasa, bintang atau planet Venus, atau bahkan pesawat yang lewat dari kejauhan. Mungkin saja itu memang pesawat ruang angkasa alien yang diam-diam mengintip Bumi. Lantas, apakah pemerintah AS pernah menyelidiki UFO secara serius? Mengejutkannya, mereka pernah melakukannya.

Kasus paling terkenal adalah 'Project Blue Book'. Proyek ini berjalan dari tahun 1952 hingga 1969, di mana mereka mengumpulkan dan menyelidiki berbagai laporan penampakan UFO dari seluruh dunia. Puluhan ribu laporan dikumpulkan, dan terkadang penyelidik dikirim ke lokasi untuk melakukan investigasi. Namun, sebagian besar kasus disimpulkan sebagai kesalahan persepsi orang-orang yang melihat bintang atau planet, atau sekadar kebohongan yang disengaja. Tentu saja, ada sedikit kasus yang tidak teridentifikasi. Namun, karena saat itu penyelidikan hanya mengandalkan kesaksian saksi mata tanpa bukti foto atau video yang jelas, sebagian besar kasus tersebut bahkan tidak bisa dipastikan kebenarannya. Selain itu, sekalipun objeknya tidak teridentifikasi, menyimpulkan bahwa ada alien di dalamnya bukanlah sebuah kesimpulan yang tepat.

Kita masih sering salah paham. Skandal UFO yang lahir dari kesalahpahaman masih terjadi hingga sekarang. Salah satu yang paling menarik adalah video yang disebut UFO 'Piramida', yang dilaporkan ditangkap oleh pengawas kapal perusak USS Russell di perairan dekat San Diego pada Juli 2019. Jika dilihat sekilas, video yang diambil dengan kacamata pengintai malam hari (night vision) menunjukkan benda segitiga buram terbang sambil mengedipkan lampu di langit. Itu tidak terlihat seperti fenomena alam biasa, melainkan tampak seperti benda terbang buatan.

Namun, ini adalah salah satu kasus yang paling mudah dipecahkan. Ketika diafragma kamera diperkecil, terbentuk lubang berbentuk segitiga; dalam kondisi gelap, jika merekam cahaya dari jauh, akan tercipta sisa cahaya (afterimage) sesuai bentuk diafragma tersebut. Selain itu, pola kedipan cahaya dalam video tersebut persis sama dengan pola kedipan lampu pesawat tempur militer AS. Jadi, video ini hanyalah kejadian yang disalahpahami, di mana cahaya pesawat di dekatnya bocor ke kamera saat kondisi diafragma diperkecil di langit malam yang berawan.

UFO yang disebut 'Piramida', yang dilaporkan ditangkap oleh pengawas kapal perusak USS Russell di perairan dekat San Diego pada Juli 2019.
UFO yang disebut 'Piramida', yang dilaporkan ditangkap oleh pengawas kapal perusak USS Russell di perairan dekat San Diego pada Juli 2019.

Lantas, apakah setiap kali orang melihat sesuatu yang aneh di langit, kita harus menganggapnya sebagai kesalahan persepsi dan mengabaikannya begitu saja? Di sinilah letak perdebatan penting mengenai UFO. Dari sisi sains, jelas ada sesuatu di atas kepala kita yang belum kita pahami. Namun, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa itu adalah benda terbang yang dikendalikan oleh makhluk cerdas. Kita tidak bisa menepis kemungkinan bahwa itu hanyalah fenomena alam di Bumi atau luar angkasa yang belum kita mengerti.

Petir merah 'Red sprite' yang ditangkap oleh Stasiun Luar Angkasa Internasional.
Petir merah 'Red sprite' yang ditangkap oleh Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Contoh utamanya adalah petir merah atau 'Red sprite' yang telah diceritakan seperti legenda sejak tahun 1880-an. Sangat jarang, beberapa orang mengaku melihat kilatan petir merah di langit yang muncul dan hilang dalam sekejap mata. Namun, karena menghilang terlalu cepat, sulit untuk memastikan keberadaannya, dan sulit untuk diabadikan dalam foto atau video. Oleh karena itu, untuk waktu yang lama, hal itu dianggap sebagai khayalan manusia. Namun pada tahun 1989, Red sprite yang melegenda itu berhasil diabadikan dalam foto untuk pertama kalinya, dan sejak kemunculan kamera berkecepatan tinggi, keberadaan Red sprite terkonfirmasi sebagai fakta. Baru-baru ini, fenomena ini bahkan sesekali tertangkap oleh kamera Stasiun Luar Angkasa Internasional yang mengorbit Bumi.

Fenomena ini diduga terjadi ketika kondisi unik di atmosfer atas terpenuhi saat petir terjadi di permukaan Bumi, meskipun mekanisme pastinya belum terungkap. Seperti inilah, kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa masih banyak fenomena alam yang tidak bisa kita mengerti, bahkan keberadaannya pun belum jelas, yang terjadi di atas kepala kita.

Itulah sebabnya para astronom baru-baru ini berpikir serius mengenai istilah 'UFO'. Istilah 'Unidentified Flying Object' (benda terbang tak dikenal) mengandung premis bahwa itu adalah pesawat buatan yang dikendarai oleh makhluk cerdas. Kemungkinan adanya fenomena alam lain diabaikan sejak awal. Hal ini justru menimbulkan efek samping, di mana astronom yang kaku menjadi enggan meneliti lebih dalam dan menghalangi analisis ilmiah itu sendiri. Oleh karena itu, para astronom kini mengusulkan istilah alternatif, yaitu UAP (Unidentified Aerial Phenomena) atau fenomena udara tak dikenal. Tujuannya adalah untuk tidak terburu-buru memasukkan alien ke dalamnya, serta membuka ruang untuk menerapkan metodologi ilmiah yang lebih tradisional dan sistematis dengan mempertimbangkan kemungkinan bahwa itu adalah fenomena alam yang belum dipahami.

Perubahan ini dapat memuaskan semua orang, mulai dari astronom yang skeptis terhadap kemungkinan alien mengunjungi Bumi hingga penggemar berat UFO. Hal ini menyisakan ruang bahwa mungkin ada rahasia ilmiah yang tidak bisa dijelaskan oleh hukum fisika saat ini di atas kepala kita, sehingga diskusi mengenai UAP tidak langsung dianggap sebagai teori konspirasi, namun di sisi lain juga membuka kemungkinan bahwa objek tersebut bisa dijelaskan sebagai fenomena alam biasa, bukan alien.

Baik mereka yang curiga ada alien di dalam UFO, maupun astronom kolot yang tidak mempercayainya, mereka semua memiliki satu kesamaan: mereka merasakan kesepian di tengah alam semesta yang luas. Kita semua berharap ada planet lain di luar sana di mana makhluk hidup bernapas, bahkan mungkin memiliki peradaban yang sangat maju. Hanya cara kita membayangkan bagaimana kita akan bertemu dengan mereka yang berbeda; baik saya maupun Anda, kita semua merasakan kesepian di alam semesta ini. Tidak ada yang tahu bagaimana kesepian ini nantinya akan terobati.

Siapakah penulis Ji Woong-bae? Ia mencintai kucing dan alam semesta. Sejak kecil, setelah menonton 'Galaxy Express 999', ia memiliki mimpi untuk menyebarluaskan keindahan alam semesta. Saat ini, ia menjadi asisten profesor di Fakultas Studi Liberal Universitas Sejong, aktif dalam berbagai komunikasi sains seperti ceramah dan menulis. Ia telah menulis buku seperti 'Setiap Hari Sepotong Alam Semesta', 'Ilmuwan di Alam Semesta yang Berbintang', 'Tidak Bisa Pergi Tapi Bisa Tahu', dan 'Pertanyaan Aneh yang Muncul Saat Melihat Alam Semesta', serta menerjemahkan 'The Hitchhiker's Guide to the Galaxy', 'Mengapa Saya Tidak Sengaja Membunuh Pluto', 'Quantum Life', dan 'Cosmigraphics'.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
지웅배 천문학자

고양이와 우주를 사랑한다. 어린 시절 ‘은하철도 999’를 보고 우주의 아름다움을 알리겠다는 꿈을 갖게 되었다. 현재 세종대학교 자유전공학부 조교수로 강연과 집필 등 다양한 과학 커뮤니케이션 활동을 함께 하고 있다. ‘천문학자의 쓸모없음에 관하여’, ‘우리는 모두 천문학자로 태어난다’, ‘우주를 보면 떠오르는 이상한 질문들’ 등의 책을 썼으며, ‘나는 어쩌다 명왕성을 죽였나’, ‘퀀텀 라이프’, ‘UFO’ 등을 번역했다.

writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지