[비즈한국] Didorong oleh popularitas film 'Pamyo' (Exhuma) dan animasi 'K-Pop Demon Hunters', program hiburan 'Destiny War 49' yang juga menarik perhatian sempat menimbulkan kontroversi. Namun, fenomena ini tampak menunjukkan dengan jelas mengapa K-Shamanism (perdukunan Korea) kini mendapat sorotan dunia. Perhatian terhadap elemen-elemen seperti ritual gut, pakaian dukun, malaikat maut, serta karakter atau alat-alat yang digunakan mungkin hanyalah fenomena yang tampak di permukaan. Khususnya, K-Shamanism semakin menarik minat generasi muda. Mengapa hal ini terjadi, tampaknya perlu didekati terlebih dahulu dari sudut pandang psikologi pemuda.
Pada masa remaja, seseorang mengeksplorasi dan merasakan dunia luar untuk membentuk pandangan dunia serta nilai-nilai hidup mereka. Karena ini adalah proses membangun identitas yang mandiri, mereka cenderung melihat dunia nyata dengan cara berbeda, menyangkalnya, atau bahkan memimpikan dunia lain. Dengan kata lain, mereka sangat tertarik untuk mengeksplorasi sisi lain dari realitas yang mereka hadapi. Genre yang mewakili hal ini bisa disebut sebagai okultisme. Melalui konten okultisme, mereka mencoba menjangkau dunia lain yang tidak ilmiah atau tidak rasional. Dunia itu adalah tempat di mana makhluk-makhluk seperti hantu, roh jahat, dan monster berada.

Di negara-negara sosialis yang menganut materialisme seperti Korea Utara atau Tiongkok, konten semacam ini tidak bisa diproduksi maupun dinikmati. Selain itu, di Jepang, budaya yokai (makhluk supranatural) jauh lebih dominan daripada shamanisme. Secara umum, okultisme Barat memiliki struktur dikotomis, di mana alur utamanya berfokus pada mengalahkan roh jahat, melakukan eksorsisme, atau memusnahkan entitas asing. Untuk melakukan itu, diperlukan standar penilaian nilai antara baik dan buruk. Persepsi bahwa 'saya benar dan orang lain tidak' adalah hal yang sangat mendasar. Sebaliknya, shamanisme kita mencerminkan perspektif yang lebih relatif. 'K-Pop Demon Hunters' mendapat respons hangat justru karena hal ini. Siapa pun bisa menjadi sosok jahat, dan sosok yang jahat bisa menjadi sosok yang baik.
Shamanisme Korea, jika dilihat dari sudut pandang jiwa, memiliki fungsi yang baik dalam melepaskan dendam (han) orang yang telah meninggal. Konsep utamanya adalah bahwa almarhum sering kali merupakan pihak yang lemah yang tidak dapat menyampaikan kisah ketidakadilan mereka, sehingga ritual ini juga berperan meringankan beban di hati mereka yang ditinggalkan. Narasi yang sering muncul adalah bahwa roh pendendam yang menyakiti orang lain ternyata memiliki kisah yang menyedihkan. Prinsip 'menghargai kebaikan dan menghukum kejahatan' pun memberikan kesan positif berupa penyembuhan sosial. Hal ini biasanya terjadi melalui praktik seperti kerasukan atau ritual gut. Terlepas dari apakah itu benar-benar terselesaikan atau tidak, praktik ini terus berlanjut karena memberikan efek penyembuhan psikologis.
Yang terpenting, karakteristik shamanisme Korea bukanlah ketidakberdayaan atau ketundukan pada takdir, melainkan kemampuan manusia untuk merespons sesuai kehendak dan membawa hasil yang cukup menjanjikan. Saat membaca ramalan (saju), dukun akan mengatakan bahwa meskipun nasib bawaan seseorang seperti ini, hal itu bisa berubah tergantung bagaimana cara seseorang menghadapinya. Orang membaca ramalan bukan untuk pasrah menerima takdir, melainkan untuk merespons dan menciptakan perubahan. Oleh karena itu, sifatnya positif dan penuh harapan. Dengan memahami diri sendiri dan berkomunikasi sesuai dengan itu, seseorang bisa mendapatkan kenyamanan psikologis. Ada keintiman emosional dan komunikasi timbal balik yang membuatnya terasa sangat manusiawi.
Terlebih lagi, karakter dalam konten bertema shamanisme terlihat sangat muda dan trendi. Meskipun ini tidak selalu berarti modernisasi shamanisme, setidaknya hal ini tidak terasa kuno dan justru membangkitkan sensibilitas kontemporer.
Tentu saja, benar adanya bahwa di luar negeri, pandangan orientalis kerap diproyeksikan saat melihat shamanisme Korea. Ada semacam misteri Timur yang bekerja di sana. Jika terjebak dalam misteri ini, efek balik di era pasca-kebenaran bisa saja terjadi. Jika sesuatu terbukti tidak benar, bumerang ketidakpercayaan pasti akan datang. Perlu berhati-hati dalam menuntut dukun untuk melampaui ranah mereka. Jika kita menuntut kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh dokter forensik, ilmuwan, atau tenaga medis dari seorang dukun, hal itu justru akan menghambat potensi dan kelebihan mereka, serta sulit mendapatkan empati dari penonton. Oleh karena itu, seperti program luar negeri, kita juga harus menyeimbangkan klaim atau pandangan dengan logika ilmiah, rasional, dan objektif. Terlebih lagi, memaksa mereka bersaing dalam misi tertentu dapat memicu tindakan berlebihan. Langkah utama yang diperlukan saat ini adalah menciptakan siklus positif bagi keunggulan dan potensi K-Shamanism.
Penulis Kim Heon-sik sejak usia 20-an telah berkeliling atau menelusuri hutan fenomena budaya populer dengan harapan bahwa ada cara untuk membuat dunia menjadi lebih baik melalui budaya. Di abad ke-21 di mana kecerdasan buatan dan komputer kuantum berperan aktif, ia tetap menempuh jalan yang sama dengan keyakinan yang sama.