주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

"Tidak bisa menabung sama sekali" Kurs tinggi 1.500 Won buat ekspatriat Korea di AS menjerit

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] A, seorang manajer berusia awal 40-an yang bekerja di pabrik perusahaan besar Korea di Amerika Serikat, kini rutin memantau pergerakan nilai tukar setiap hari. Ia pindah ke AS bersama keluarganya awal tahun ini saat kurs berada di kisaran pertengahan 1.400 won, namun kini kurs melonjak menembus angka 1.500 won. Alasan A terus memantau berita kurs adalah demi 'biaya hidup'. Ia menerima gaji berdasarkan kontrak tahunan yang ditandatangani di Korea, sehingga lonjakan kurs ini menjadi ancaman serius bagi anggaran rumah tangganya.

B, pria berusia awal 40-an yang sedang menjalani pelatihan di AS, juga merasa terbebani oleh kenaikan kurs baru-baru ini. Karena perusahaan menanggung biaya pelatihan, ia menerima gaji pokok dan sedikit tunjangan tinggal, namun jumlah tersebut tidak cukup untuk menghidupi istri dan anaknya mengingat kenaikan harga kebutuhan pokok di AS. Ia terpaksa mencairkan dana darurat yang berasal dari penjualan propertinya di Korea secara bertahap untuk menambah biaya hidup, namun beban tersebut semakin berat karena kurs terus merangkak naik.

Ekspatriat di AS merasa cemas karena nilai tukar dolar yang tinggi dan kenaikan harga barang. Gambar=AI Generatif
Ekspatriat di AS merasa cemas karena nilai tukar dolar yang tinggi dan kenaikan harga barang. Gambar=AI Generatif

Gaji seolah terpangkas 5-10%

Dengan nilai tukar 1 dolar yang belakangan diperdagangkan di kisaran 1.510 won—naik hampir 10% dibanding semester kedua tahun lalu dan hampir 5% dibanding pertengahan Februari lalu—nasib ekspatriat perusahaan Korea di luar negeri menjadi tidak menentu. Hal ini terjadi karena kebijakan penerapan nilai tukar dan waktu pembayaran gaji yang berbeda-beda antar perusahaan. Bagi ekspatriat yang menerima gaji dalam 'Won', kenaikan ini praktis sama dengan pemotongan gaji sebesar 5 hingga 10%.

Kenaikan harga barang di AS juga menambah beban. Di AS, harga kebutuhan dasar ikut naik akibat kenaikan harga minyak dan faktor lainnya. A menjelaskan, "Meskipun saya menerima tunjangan tinggal lokal sekitar 2 juta won dalam bentuk 'dolar', tidak ada sisa uang sama sekali setelah membayar penitipan anak dan makan di luar sesekali. Biaya penitipan anak saja lebih dari 1,5 juta won sebulan, dan sekali makan di luar bisa menghabiskan 150 ribu won termasuk tip. Dengan biaya tetap seperti asuransi mobil yang tinggi, sangat sulit untuk menabung di AS dengan gaji pertengahan 100 juta won per tahun, apalagi ditambah kurs yang terus naik."

B pun menghadapi beban yang tidak kalah berat. Saat istrinya menyusul ke AS bersama anak, mereka harus membeli satu mobil lagi. Untuk membeli mobil dengan anggaran awal 20.000 hingga 30.000 dolar, ia kini harus mengeluarkan uang '8-10%' lebih banyak dari perkiraan awal.

B menambahkan, "Seandainya saya tahu akan begini, saya pasti sudah menukarkan sekitar 50.000 dolar saat saya tiba di AS Desember lalu. Saya menunggu karena mengira kurs akan turun, tapi justru malah rugi. Dari cerita rekan-rekan yang juga sedang menjalani pelatihan di sini, rata-rata mereka mengalami kerugian sekitar 20 juta won per tahun."

Tunjangan tinggal masih mengacu pada standar beberapa tahun lalu

Masalah ini muncul karena banyak perusahaan Korea memberikan 'gaji' kepada ekspatriat berdasarkan kontrak gaji tahunan di Korea. Meski beberapa perusahaan membayar gaji dalam dolar, sebagian besar tetap menggunakan standar Won untuk gaji pokok bagi karyawan yang bekerja dari Korea. Sebagai penggantinya, perusahaan memberikan tunjangan tinggal lokal dalam dolar untuk biaya sewa properti, pemeliharaan mobil, dan biaya pendidikan anak. Tunjangan ini bervariasi tergantung wilayah, yakni sekitar 2 juta won untuk daerah pinggiran dan 4 juta won untuk kota besar.

Namun, karena kurs dan harga barang melonjak bersamaan, tunjangan tersebut tetap tidak mampu meredam hantaman ekonomi. B mengatakan, "Awalnya kami berencana pulang ke Korea sekali setahun untuk mengunjungi orang tua, namun setelah dicek, tiket pesawat untuk tiga orang saja sudah mencapai 10 juta won. Bukan hanya kurs yang naik, inflasi juga sangat tinggi, sehingga bagi kami yang menerima 'gaji Won' dan hidup di AS, situasinya benar-benar sangat sulit."

A juga menambahkan, "Saat di Korea, saya bisa menabung 1 hingga 1,5 juta won per bulan, tetapi setelah dua bulan hidup di AS, saya tidak bisa menabung 'sepeser pun' meski sudah hidup hemat. Awalnya, saya ingin banyak jalan-jalan dan menciptakan kenangan indah saat pindah ke AS, namun sekarang saya mengerti mengapa banyak karyawan enggan menjadi ekspatriat di AS. Dukungan biaya masih mengacu pada standar beberapa tahun lalu, dan jika saya bisa memilih untuk kembali sekarang, saya mungkin tidak akan mengajukan diri sebagai ekspatriat di AS."

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
차해인 저널리스트
writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지