[비즈한국] Pertumbuhan toko buku independen, yang dulu sempat meningkat pesat layaknya simbol tren budaya, kini mulai melambat. Menurut 'Laporan Tren Toko Buku Lokal 2025' yang diterbitkan oleh 'Dongne Seojeom' (Toko Buku Lokal), sebuah platform yang telah memandu toko buku independen di Korea selama 11 tahun, jumlah pembukaan toko baru tahunan turun drastis dari 143 tempat pada tahun 2018 menjadi 36 tempat pada tahun 2025. Industri ini melihat bahwa toko buku independen telah melewati masa ekspansi dan kini memasuki masa pergantian untuk bertahan hidup. Dengan berkurangnya populasi pembaca dan beralihnya pembelian buku ke toko daring maupun toko buku besar, toko buku lingkungan kini menghadapi kenyataan bahwa sulit untuk bertahan hanya dengan menjual buku saja.
Di tengah lingkungan seperti ini, toko buku yang tetap bertahan tidak lagi sekadar menjadi ruang untuk memajang dan menjual buku. Mereka memperluas fungsi toko buku dengan menambahkan kegiatan seperti kelompok membaca, pameran, kolaborasi lokal, dan pertukaran antarwarga. Alih-alih hanya memajang banyak buku, kuncinya kini adalah menciptakan 'alasan untuk mampir ke toko buku'.
Toko buku kecil di dalam gang, hidup bersama komunitas lokal
‘Changsin Chaekbang’ di Changsin-dong, Jongno-gu, Seoul, adalah contoh yang menunjukkan tren tersebut dengan baik. Toko buku kecil yang terletak di gang sempit Changsin-dong ini lebih menyerupai ruang untuk menghabiskan waktu daripada sekadar tempat membeli buku. Nam Yong-seop, pengelola Changsin Chaekbang, berkata, “Saya berharap tempat ini menjadi ruang di mana orang-orang bisa berkumpul dan menghabiskan waktu, bukan sekadar ruang untuk menjual buku.” Benar saja, saat reporter berkunjung sekitar pukul 4 sore pada tanggal 23 Maret, meja yang mampu menampung sekitar 8 orang itu sebagian besar terisi oleh orang-orang yang sedang mengobrol atau mengadakan pertemuan.

Changsin Chaekbang memanfaatkan 'ruang' ini secara aktif dalam operasionalnya. Selain penjualan buku, mereka menghasilkan pendapatan dari penyewaan ruang dan acara bincang buku (book concert). Ruang sewaan tidak terbatas pada acara terkait buku saja. Mereka juga membuka ruang untuk berbagai kegiatan lain seperti pertemuan warga asing dan kelas anggur. Nam menjelaskan, “Selain bincang buku atau pameran penulis, kami juga menyediakan ruang untuk berbagai acara lainnya.”
Simbiosis dengan komunitas lokal juga menjadi sumber pendapatan penting bagi Changsin Chaekbang. Mereka membuat dan menjual suvenir seperti sampul buku dan kantong dari kain perca hasil industri konveksi di Changsin-dong, dan proses pembuatannya melibatkan mantan pekerja konveksi. Mereka juga bekerja sama dengan penginapan (guesthouse) terdekat untuk menyediakan makanan, dengan bahan yang dibeli dari pasar sekitar dan menu yang dirancang agar tidak tumpang tindih dengan bisnis yang sudah ada. Mereka merajut jejak industri lokal dan sumber daya lingkungan sekitar ke dalam produk dan layanan toko buku.

Ruang berkumpul warga yang dibangun oleh pelanggan setia selama 10 tahun
‘Jigu-bulsichak’, yang terletak di sudut kawasan perumahan di Nowon-gu, Seoul, adalah toko buku yang bertahan bukan melalui ekspansi, melainkan melalui kekuatan hubungan yang terjalin lama. Toko yang populer di platform 'Dongne Seojeom' ini telah bertahan di lingkungan yang sama selama hampir 10 tahun, menjadikannya ruang di mana pelanggan setia dan warga lokal datang dan pergi secara alami. Pengelola toko, Kim Taek-soo, menggambarkan tempat ini sebagai “terasa seperti ruang tamu warga (sarangbang)”. Dia berkata, “Karena pelanggan yang datang adalah wajah-wajah yang saya temui setiap saat, kami akhirnya jadi saling mengenal. Saya menyukai hal itu.” Warga sering mampir ke toko buku untuk menanyakan apakah ada yang mereka butuhkan, dan Kim pun menjalin hubungan dengan lingkungan sekitar dengan membantu membuatkan poster atau spanduk untuk acara komunitas.

Ruang seperti ruang tamu ini juga menjadi sumber pendapatan. Di Jigu-bulsichak, program seperti kelompok membaca, kelompok menulis, dan kelas bahasa Jepang diadakan secara rutin dengan memungut biaya partisipasi. Mereka juga menyiapkan acara unik seperti ‘Membaca dalam Keheningan sambil Makan Tteokguk’, dan terkadang menerapkan syarat pembelian satu buku sebagai pengganti biaya partisipasi.
Hal-hal menarik terjadi di sana
Pada tanggal 24 saat mengunjungi ‘Seochon Geu Chaekbang’, sebuah toko buku rumah tradisional (hanok) di Chebu-dong, Jongno-gu, Seoul, seorang pengelola toko harian sedang berjaga. Toko ini adalah toko buku yang mengkhususkan diri pada kelompok membaca, dan pengelola tokonya, Ha Young-nam, telah lama aktif sebagai instruktur kelompok membaca. Pengelola toko harian yang bertugas hari itu juga merupakan anggota kelompok membaca tersebut.
Pengelola toko harian itu menggambarkan toko buku tersebut sebagai “ruang di mana banyak hal menarik terjadi”. Kelompok membaca yang membaca satu buku per bulan diadakan secara rutin, dan setelah pertemuan, acara dilanjutkan dengan mengundang penulis untuk berbincang dengan pembaca. Pesta kecil, kelompok menulis, dan kelompok membuat buku juga sering diadakan. Rentang usia pesertanya pun luas, mulai dari usia 20-an hingga 70-an. Ini bukan sekadar ruang yang dikunjungi warga lokal saja. Pengelola toko harian itu mengatakan, “Peserta terjauh bahkan pernah datang dari Gyeongju sebulan sekali.” Toko buku ini juga melanjutkan kegiatan di mana orang dewasa melakukan pembayaran di muka dan memberikan hadiah buku kepada siswa dengan uang tersebut.

Biaya partisipasi dan iuran dari kelompok membaca, bincang buku, serta kelas budaya seperti menggambar atau membuat pembatas buku menjadi pendapatan yang dapat diandalkan bagi toko buku di samping penjualan buku. Pengelola toko harian mengatakan, “Ruang ini tetap bertahan berkat hati orang-orang yang berada di sini bersama,” dan menambahkan, “Sekarang pun sudah cukup baik, tapi saya berharap keseimbangan yang beragam ini bisa bertahan lama.”
Cara bertahan hidup toko buku independen berbeda-beda. Ada yang berusaha tampil beda dengan konsep unik, atau mengumpulkan orang melalui pertemuan dan kurasi. Namun, toko buku yang bertahan lama memiliki satu kesamaan: mereka tidak hanya mengandalkan penjualan buku, tetapi memperluas sumber pendapatan dengan berbagai cara tanpa kehilangan jati diri mereka. Yang penting bagi toko buku independen yang bertahan setelah melewati masa ekspansi bukanlah berapa banyak buku lagi yang bisa mereka jual, melainkan bagaimana mereka mengaitkan karakteristik unik dan pengalaman toko buku tersebut menjadi pendapatan.