[비즈한국] National Pension Service (NPS) telah memutuskan untuk tidak menggunakan hak suaranya pada agenda penunjukan Choi Yun-beom sebagai direktur eksekutif dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Korea Zinc010130. Meskipun secara resmi arah penggunaan hak suaranya adalah 'tidak menggunakan hak suara', pasar menafsirkannya sebagai bentuk penolakan nyata, mengingat NPS menilai kandidat tertentu, termasuk Ketua Choi, sebagai sosok yang “memiliki riwayat merusak nilai perusahaan atau melanggar kepentingan pemegang saham”. Dengan keputusan NPS ini, perhatian pasar kini beralih ke keputusan sanksi dari otoritas keuangan.

Komite Tanggung Jawab Fidusia Dana Pensiun Nasional telah meninjau arah penggunaan hak suara untuk agenda RUPS di 13 perusahaan publik, termasuk Korea Zinc, pada tanggal 19 lalu. Terkait agenda penunjukan direktur yang akan dibahas pada RUPS Korea Zinc tanggal 24 mendatang, NPS memutuskan untuk 'tidak menggunakan hak suara' bagi kandidat Choi Yun-beom, Hwang Deok-nam, dan Park Byeong-uk, serta memberikan suara 'menolak' bagi kandidat Komite Audit Kim Bo-young dan kandidat direktur luar yang akan menjadi anggota komite audit, Lee Min-ho. NPS menjelaskan bahwa para kandidat tersebut termasuk dalam kategori “mereka yang memiliki riwayat merusak nilai perusahaan atau melanggar kepentingan pemegang saham”.
Untuk agenda RUPS Korea Zinc mengenai penentuan jumlah direktur yang akan dipilih melalui pemungutan suara terpusat, NPS menyetujui kedua usulan, baik untuk 'penunjukan 5 direktur' maupun 'penunjukan 6 direktur'. Selain itu, untuk agenda penunjukan 4 direktur yakni Walter Field McLellan, Choi Yeon-seok, Choi Byeong-il, dan Lee Seon-sook, NPS memutuskan untuk membagi hak suaranya secara merata sesuai dengan pihak pengusul pemegang saham yang mengajukan agenda tersebut. Agenda sisanya, seperti persetujuan laporan keuangan dan perubahan anggaran dasar, semuanya disetujui.
Bobot keputusan NPS untuk tidak menggunakan hak suara tidaklah ringan. Hal ini bukan sekadar menyatakan bahwa mereka tidak akan mendukung Ketua Choi dan lainnya, tetapi secara spesifik mencantumkan alasannya, yaitu riwayat perusakan nilai perusahaan atau pelanggaran kepentingan pemegang saham. Oleh karena itu, keputusan ini lebih terlihat sebagai langkah formalisasi penilaian negatif terhadap kandidat tertentu daripada sekadar sikap netral atau menahan diri. Akibatnya, muncul suasana di pasar yang menganggap keputusan NPS untuk tidak menggunakan hak suara ini sebagai bentuk 'penolakan secara de facto'.
Interpretasi yang muncul adalah bahwa keputusan ini sejalan dengan kebijakan penguatan hak pemegang saham yang ditekankan sejak pemerintahan baru dimulai. Presiden Lee Jae-myung dalam laporan kerja Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan pada Desember tahun lalu menyatakan, “NPS yang memegang saham rakyat harus menggunakan hak suaranya dengan benar” dan “harus secara aktif menggunakan hak suara terhadap perusahaan yang melakukan manajemen yang terbelakang”. Mengingat ini adalah contoh di mana NPS memberikan penilaian negatif karena risiko manajemen, beberapa pihak melihatnya sebagai titik balik untuk mengukur arah operasional Stewardship Code di masa depan.
Perhatian kini beralih ke keputusan otoritas keuangan. Financial Supervisory Service (FSS) pada Oktober 2024 memulai pemeriksaan akuntansi atas kelayakan perlakuan akuntansi Korea Zinc dan Young Poong000670. Di pasar, isu-isu utama yang dibahas meliputi ketepatan waktu pencerminan kerugian investasi dana One Asia Partners dan kelayakan perlakuan akuntansi terkait akuisisi Ignio Holdings. Masalah ini telah dialihkan ke audit akuntansi pada November tahun yang sama, namun hingga kini belum ada kesimpulan mengenai pemberian sanksi.
Beberapa kalangan mengkritik bahwa akibat penundaan keputusan oleh otoritas keuangan, pemegang saham publik terpaksa melakukan pemungutan suara tanpa adanya penilaian resmi mengenai isu-isu tersebut. Otoritas keuangan sebelumnya menyatakan melalui rencana perbaikan prosedur audit akuntansi tahun 2022 bahwa mereka akan membatasi periode investigasi audit menjadi satu tahun sebagai prinsip dasar. Seorang pejabat organisasi sipil menunjukkan, “Bahkan NPS pun telah menunjukkan riwayat perusakan nilai perusahaan; bagi Komisi Jasa Keuangan yang seharusnya melindungi pasar, menunda investigasi cukup untuk menimbulkan kecurigaan adanya perlindungan khusus. Agar kebijakan pro-pasar pemerintah berhasil, praktik 'investasi yang melindungi' seperti ini harus diberantas terlebih dahulu.”