주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

"Bukan berarti kentang gorengnya enak banget…" Alasan generasi 2030 tergila-gila dengan 'pertemuan ultra-singkat'

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] "Permisi, apakah ini pertemuan kentang goreng?"

Pada tanggal 14 lalu pukul 1 siang, orang-orang mulai berkumpul satu per satu di sebuah gerai burger waralaba di Cheoin-gu, Yongin. Meski baru pertama kali bertemu, suasana canggung tidak berlangsung lama. Setelah saling memperkenalkan usia dan tempat tinggal secara singkat, pembicaraan pun mengalir alami ke arah kentang goreng. Di depan kentang goreng yang baru matang, obrolan santai pun terjalin di antara orang-orang yang sebelumnya tidak saling kenal.

Orang-orang berkumpul untuk menikmati kentang goreng di sebuah gerai burger waralaba di Cheoin-gu, Yongin, Gyeonggi-do. Foto=Reporter Magang Yoon Chae-hyun
Orang-orang berkumpul untuk menikmati kentang goreng di sebuah gerai burger waralaba di Cheoin-gu, Yongin, Gyeonggi-do. Foto=Reporter Magang Yoon Chae-hyun

'Gyeongdo' (Polisi dan Maling)·Kentang Goreng… 'Pertemuan singkat' dengan orang asing makin populer

Belakangan ini, pertemuan luring (offline) sekali pakai melalui platform jual beli barang bekas telah menjadi sebuah tren. Di antaranya, pertemuan 'Gyeongdo' (Polisi dan Maling) dan 'Gam-twi' (kentang goreng) menjadi sorotan khusus. Berbeda dengan klub atau komunitas pada umumnya, pertemuan ini bersifat satu kali saja tanpa kewajiban untuk menjaga hubungan jangka panjang. Di kalangan generasi 2030 yang lebih menyukai hubungan interpersonal yang efisien dan ringan, pertemuan ultra-singkat dengan orang asing ini menyebar dengan cepat.

Pertemuan ini diadakan silih berganti di seluruh negeri, mulai dari Gangnam dan Songpa di Seoul, hingga Yongin dan Goyang di Gyeonggi, serta Daegu dan Busan. Sebagian besar dilakukan dengan cara merekrut peserta secara daring berdasarkan siapa cepat dia dapat. Ketika penyelenggara mengumumkan waktu dan tempat, pendaftar akan langsung membanjir. Umumnya, para peserta bertemu di hari yang dijanjikan, berinteraksi sebentar, lalu membubarkan diri secara alami. Karena sering kali tidak memerlukan prosedur pendaftaran khusus atau iuran, hambatan masuk yang rendah menjadi salah satu faktor popularitasnya.

Sebagian besar peserta pertemuan hari itu pun merupakan orang yang baru pertama kali bertemu. Mereka berbagi hobi sambil menyantap kentang goreng, lalu melanjutkan obrolan dengan pindah ke kafe terdekat. Alasan partisipasinya berbeda-beda, namun semuanya kompak berkata, "Senang karena tidak ada beban."

A (27), yang tinggal di Giheung-gu, Yongin, mengatakan, "Biasanya saya hanya memakai Danggeun (aplikasi jual beli) untuk transaksi barang bekas, tapi saya penasaran melihat tab komunitas yang ramai, jadi saya memutuskan untuk datang. Karena sifatnya sekali pakai, jika tidak cocok, tinggal berpisah begitu saja, jadi terasa nyaman." B (21) juga menambahkan, "Klub biasanya mengharuskan kita datang rutin pada hari tertentu, dan itu terasa membebani. Saya jauh lebih suka pertemuan yang bisa diikuti dengan santai saat ada waktu luang."

Pertemuan kentang goreng muncul di platform jual beli barang bekas. Beberapa pertemuan bahkan mencapai 1.300 anggota. Foto=Reporter Magang Yoon Chae-hyun
Pertemuan kentang goreng muncul di platform jual beli barang bekas. Beberapa pertemuan bahkan mencapai 1.300 anggota. Foto=Reporter Magang Yoon Chae-hyun

Generasi 2030 yang kesepian tapi lelah dengan hubungan, memilih 'koneksi ringan'

Latar belakang meluasnya pertemuan jangka pendek ini berakar pada psikologi yang melampaui sekadar rasa penasaran. Analisis menunjukkan bahwa emosi generasi 2030 yang ingin bertemu orang lain namun tidak percaya diri menjaga hubungan jangka panjang, serta tidak ingin merasa kesepian namun juga tidak ingin merasa lelah, telah memicu pertumbuhan pertemuan ultra-singkat seperti pertemuan kentang goreng.

Tren ini terlihat jelas dalam survei 'Persepsi Terkait Hubungan Interpersonal dan Kencan' yang dilakukan oleh perusahaan riset pasar Embrain Trend Monitor tahun lalu. Sebanyak 77,3% responden menjawab bahwa mereka akan menjaga jarak atau memutuskan hubungan jika stres yang ditimbulkan lebih besar daripada kepuasan yang didapat. Selain itu, 69,4% responden mengaku ingin menjaga jarak tertentu bahkan dengan teman dekat. Hal ini menunjukkan kecenderungan yang semakin kuat untuk mengurangi hubungan yang menguras emosi dan hanya ingin terhubung di saat-saat yang diperlukan saja.

Hal ini kontras dengan cara membangun hubungan sosial generasi lama yang berpusat pada komunitas (klub hobi). Komunitas biasanya mengharuskan partisipasi berkelanjutan seperti pertemuan rutin, iuran, dan ruang obrolan grup. Semakin dalam hubungannya, semakin tinggi kedekatannya, namun kelelahan yang menumpuk serta konflik internal sering kali menjadi hambatan baru untuk bergabung.

Di sisi lain, pertemuan ultra-singkat seperti pertemuan kentang goreng jauh lebih ringan karena tidak ada tanggung jawab untuk melanjutkan hubungan. Mereka terhubung secara longgar hanya selama melakukan aktivitas tertentu bersama, lalu setelahnya masing-masing melanjutkan hidup secara alami. Itulah alasan mengapa muncul interpretasi bahwa inti dari pertemuan kentang goreng bukanlah kentang gorengnya, melainkan metode koneksi yang singkat dan tanpa beban itu sendiri.

McDonald's dan Lotteria turut serta dalam tren ini dengan mengadakan acara pertemuan kentang goreng mereka sendiri. Foto=Reporter Magang Yoon Chae-hyun
McDonald's dan Lotteria turut serta dalam tren ini dengan mengadakan acara pertemuan kentang goreng mereka sendiri. Foto=Reporter Magang Yoon Chae-hyun

Cara berinteraksi berubah

Pertemuan singkat yang dilakukan dengan santai ini mulai merambah ke berbagai platform. Layanan dengan format serupa seperti 'Munto', platform pertemuan sekali pakai berbasis minat, dan 'Mealting', tempat untuk makan bersama orang asing, terus mendapatkan perhatian. Bahkan muncul istilah baru untuk menyebut fenomena ini, yaitu 'Short Socialing'.

Lee Hye-won, peneliti di Trend Korea Consumer Trend Analysis Center, menjelaskan, "Generasi 2030 saat ini terhubung terus-menerus melalui SNS dan messenger, tetapi sebagian besar hanya terbatas pada hubungan non-tatap muka. Ada hasrat yang semakin besar untuk mengonfirmasi keberadaan nyata melalui kontak fisik, seperti mendengar napas atau tawa orang asing secara langsung."

Lee menganalisis, "Mereka menginginkan rasa terkoneksi tetapi cenderung menghindari tanggung jawab dan beban yang timbul dari hubungan serius. Cara mengonfirmasi eksistensi diri melalui interaksi ringan dalam pertemuan singkat semakin diminati." Ia memprediksi, "Ke depannya, hubungan interpersonal kemungkinan besar akan diatur ulang berdasarkan pengalaman dan aktivitas, alih-alih ikatan emosional. Metode berbagi pengalaman dan melakukan aktivitas tertentu bersama akan menjadi jauh lebih penting daripada membangun keintiman melalui obrolan."

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
윤채현 기자

중소·벤처기업과 플랫폼, 콘텐츠 산업을 취재하고 있습니다. 쉽고 재미있게 쓰겠습니다.

coguszz@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지