[비즈한국] Apa yang akan dikenang oleh seseorang yang telah mendedikasikan 60 tahun hidupnya sebagai jurnalis di Korea? Terlebih lagi jika ia memulai kariernya sebagai reporter baru, menjabat sebagai presiden direktur surat kabar tersebut, mendirikan media terkemuka, dan mengembangkannya menjadi sebuah grup media? Meski hidupnya tampak penuh dengan pencapaian dan prestasi, secara mengejutkan ia mengaku bahwa perjalanan hidupnya adalah rangkaian kegagalan dan frustrasi.
Namun, ia selalu bangkit kembali meski terjatuh. “Saya berlari lalu jatuh, dan saat jatuh, saya bangkit lagi untuk berlari kembali. Luka di hati akibat kegagalan itu tidaklah kecil, tetapi tekad saya untuk mengatasi cobaan tersebut tidak kalah besarnya.”

Tokoh utama dari kisah ini adalah Shim Sang-ki, Ketua Seoul Media Group. Baru-baru ini, Ketua Shim merilis buku yang berisi catatan otobiografinya, ‘Tantanganku Tidak Pernah Berhenti’. Buku ini menuturkan sejarah modern yang ia alami secara langsung sejak lulus dari Fakultas Hukum Universitas Korea dan memulai karier jurnalistiknya di divisi politik Kyunghyang Shinmun pada tahun 1961, tepat setelah Revolusi 4.19. Penulis menyaksikan gejolak sejarah modern Korea Selatan langsung dari lapangan.
Mulai dari kudeta 16 Mei, sistem Yushin dan insiden 10.26, hingga Perjuangan Juni. Ia secara gamblang menyampaikan adegan-adegan menegangkan, seperti liputan langsung di Tokyo saat ratifikasi Perjanjian Korea-Jepang, kisah di balik layar kunjungan Direktur KCIA Lee Hu-rak ke Korea Utara yang membuka jalan bagi dialog antar-Korea, hingga momen frustrasi saat menghadapi kontrol pers oleh rezim militer baru. Hal ini dilakukan karena sebagai “saksi yang paling dekat dengan lokasi sejarah”, penulis berharap catatannya dapat menjadi kepingan yang melengkapi teka-teki sejarah modern Korea. Inilah alasan mengapa semua nama tokoh dalam buku ini ditulis secara terbuka tanpa disembunyikan.
Membaca buku ini membuat kita merenungkan seperti apa sosok jurnalis yang baik dan artikel seperti apa yang dianggap berkualitas. Contoh yang diberikan penulis, seperti artikel tentang ‘Tim Voli Tanpa Alas Kaki’, ‘Ijazah Kehormatan SMA Gyeonggi’, dan ‘Akademi Seonhye di Pedalaman Gangwon’ saat ia masih menjadi wartawan pemula, sangat relevan. Artikel-artikel ini menunjukkan bahwa tulisan yang baik tidak hanya lahir dari berita eksklusif yang besar, tetapi dari perhatian terhadap hal-hal kecil di sekitar dan kerja keras di lapangan—dan tulisan seperti itulah yang akan terus menyentuh hati pembaca meski waktu telah lama berlalu.

Hal yang paling menarik dari buku ini mungkin adalah catatan tentang ‘kegagalan’. Jarang ada otobiografi yang secara jujur memuat kisah-kisah kegagalan, seperti saat ia melewatkan berita besar (scoop) ketika masih menjadi reporter politik hingga terkena sanksi, penyesalan mendalam karena menarik diri terlalu dini dari industri siaran kabel, hingga perasaan bersalah setelah koran Ilgan yang ia akuisisi dijatuhi sanksi penghentian terbit. Penulis bahkan memulai bukunya dengan kata-kata ‘permintaan maaf’. Bagi sesama jurnalis, kedalaman ketulusan di balik kata-kata tersebut tentu bisa dirasakan.
Seperti Sima Qian yang menulis 'Catatan Sejarah' (Shiji) setelah mengalami hukuman kebiri demi meninggalkan catatan kebenaran, saya selalu berpikir bahwa jurnalis harus menjalankan tugas sejarah untuk menggali kebenaran yang tidak terdistorsi. Menggali kebenaran adalah pekerjaan sejarah. Kata-katanya mudah, namun pelaksanaannya membawa banyak penderitaan. Mungkin ada pihak yang tersakiti atau terluka akibat tulisan saya. Saya dengan tulus meminta maaf kepada mereka. -Dari bagian pendahuluan
Penulis pernah mundur dari posisinya saat menjabat sebagai Pemimpin Redaksi JoongAng Ilbo dan Presiden Direktur Kyunghyang Shinmun karena melawan tekanan penguasa. Setelah itu, ia mendirikan Seoul Cultural Publishers dan meraih kesuksesan besar dengan meluncurkan majalah seperti Woman Sense dan IQ Jump, serta mengakuisisi Ilgan dan Sisa Journal untuk melengkapi Seoul Media Group. Ia berhasil bertransformasi menjadi pebisnis media yang sukses, yang mungkin didasari oleh prinsipnya dalam menjaga misi jurnalis untuk menulis berita dengan jujur dan benar.
Tentu saja, dalam aktivitas pers dan penerbitan, landasannya haruslah pada pencarian keadilan dan kebenaran. Kita harus memegang teguh nilai bahwa kebebasan pers dibarengi dengan tanggung jawab yang berat. Menulis dengan jujur dan benar adalah misi utama seorang jurnalis. Perannya sebagai standar dalam menentukan benar atau salah harus benar-benar ditekankan. Dalam hal ini, saya rasa sebagai pemimpin perusahaan media pun, kita harus lebih patuh pada norma sosial dan bersikap jujur tanpa cela.
‘Tantanganku Tidak Pernah Berhenti’ adalah memoar seorang jurnalis sekaligus kronik kehidupan yang sengit dari seorang manusia yang terus bangkit seperti mainan *daru-ma* (pantang menyerah) meski berkali-kali terjatuh.