[비즈한국] Grup Shinsegae004170 telah terjun langsung ke bisnis infrastruktur kecerdasan buatan (AI) melampaui sektor ritel. Pada tanggal 16 (waktu setempat), Grup Shinsegae menandatangani Nota Kesepahaman (MOU) tentang 'Kemitraan Strategis untuk Pembangunan Pabrik AI Sovereign Korea' dengan perusahaan AI asal AS, Reflection AI, di San Francisco, Amerika Serikat, dan mengumumkan rencana untuk membangun pusat data AI dengan kapasitas daya 250MW di Korea. Kedua perusahaan berencana untuk mendirikan joint venture (JV) tahun ini guna menjalankan proyek tersebut. Shinsegae menjelaskan bahwa kerja sama ini merupakan contoh representatif pertama melalui program ekspor AI pemerintah AS.

Pengumuman ini menarik perhatian karena Shinsegae tidak hanya mengadopsi AI di sektor ritel, tetapi juga menjadikan bisnis infrastruktur yang mencakup pusat data, cloud, hingga solusi AI sebagai pilar pertumbuhan baru grup. Shinsegae menyatakan akan membangun 'Full-Stack AI Factory' yang menyediakan layanan cloud dan solusi AI yang disesuaikan bagi pengguna berbasis pusat data. Ketua Grup Shinsegae, Jeong Yong-jin, juga menyatakan bahwa kerja sama ini akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan masa depan Shinsegae sekaligus berkontribusi pada peningkatan ekosistem AI domestik.
Melihat langkah-langkah terbaru Ketua Jeong, proyek ini lebih merupakan perwujudan dari strategi pertumbuhan yang telah ditekankan sejak awal tahun daripada pengumuman bisnis baru yang mendadak. Pada Desember tahun lalu, Ketua Jeong bertemu dengan pendiri Reflection AI, Misha Laskin, di AS untuk mendiskusikan cara kerja sama dan meninjau kemungkinan penerapan teknologi Reflection AI pada bisnis utama Shinsegae. Kemudian dalam pidato tahun barunya, ia menetapkan tahun 2026 sebagai 'tahun untuk kembali tumbuh' dan menekankan 'pergeseran paradigma' yang dapat menetapkan aturan baru di pasar. Kontak di AS pada akhir tahun lalu dan pesan di awal tahun inilah yang mengalir menjadi proyek pusat data AI ini.
Latar belakang Reflection AI memilih Shinsegae sebagai mitra juga dapat terbaca dari struktur bisnisnya. Reflection AI menyediakan teknologi dengan mengandalkan rantai pasokan GPU Nvidia dan daya saing model AI open-weight, sementara Shinsegae bertanggung jawab atas basis infrastruktur untuk menjalankan bisnis di Korea. Shinsegae telah mengakumulasi data dan titik kontak pelanggan melalui pengalaman ritel jangka panjang, dan menyatakan akan memajukan AI commerce serta full-stack AI ritel berdasarkan hal tersebut. Mengingat mereka juga merancang agen AI yang merekomendasikan produk yang dipersonalisasi di mal daring serta menghubungkan hingga ke pembayaran dan pengiriman, perbaikan efisiensi stok, dan peningkatan logistik pengiriman, bagi Reflection AI, ini berarti mereka mendapatkan basis pasar lokal dan basis bisnis sekaligus. CEO Laskin menilai Korea sebagai negara IT terkemuka di dunia dan sekutu kuat bagi Amerika Serikat.
Skala 250MW tergolong cukup besar dibandingkan dengan pusat data AI/hyperscale utama yang diumumkan baru-baru ini di Korea. Pusat data AI Gumi yang diumumkan Samsung SDS018260 pada Januari tahun ini berkapasitas 60MW, sementara pusat data Ansan yang diumumkan oleh Macquarie Asset Management Group dan Gabia079940 awal bulan ini berkapasitas 40MW. Pusat data Pacific Sunny di Jukjeon, Yongin yang selesai dibangun tahun lalu juga memiliki beban IT 64MW dan kapasitas penerimaan daya 100MW. Namun, jika melihat keseluruhan pusat data di Korea, 'Gak Sejong' milik Naver direncanakan mencapai kapasitas 270MW melalui perluasan bertahap. Berdasarkan standar tersebut, proyek Shinsegae dapat dianggap sebagai salah satu yang terbesar di antara pusat data AI yang diumumkan di Korea baru-baru ini.
Fakta bahwa grup tersebut sudah memiliki basis terkait AI dan cloud di internal juga meningkatkan realitas bisnis ini. Shinsegae I&C bulan lalu meluncurkan layanan private cloud berbasis langganan 'Spharos One' yang menargetkan permintaan pembangunan platform AI, dan tahun lalu juga mengumumkan rencana untuk meluncurkan platform dukungan pekerjaan karyawan berbasis multi-Large Language Model (LLM) 'AI Hub'. Inilah sebabnya mengapa bisnis pusat data ini tidak dilihat sebagai investasi satu kali di bidang baru, melainkan sebagai arus perluasan kemampuan cloud/AI dari afiliasi IT yang sudah ada.
Latar belakang Shinsegae menjadikan infrastruktur AI sebagai pilar pertumbuhan masa depan juga disebabkan oleh stagnasi pertumbuhan bisnis utamanya. Penjualan bersih konsolidasi E-Mart139480 pada tahun 2025 tercatat sebesar 28,9704 triliun won, turun 0,2% dari tahun sebelumnya, sementara laba operasional naik 584,8% menjadi 322,5 miliar won. Meski profitabilitas telah pulih, pertumbuhan skala bisnis tampak stagnan. Dalam situasi ini, di saat Ketua Jeong menekankan 'pertumbuhan kembali' dan 'pergeseran paradigma' sejak awal tahun, arah ekspansi yang dipilih Shinsegae menarik perhatian karena bergerak melampaui inovasi toko offline menuju pusat data AI dan infrastruktur cloud.
Keberhasilan atau kegagalan bisnis yang sebenarnya bergantung pada variabel yang akan ditentukan di masa depan. Substansi bisnis diharapkan terlihat setelah struktur pembentukan JV, pemilihan lokasi, pengamanan daya, perizinan, dan struktur pembiayaan investasi terwujud. Namun, pengumuman ini dibaca sebagai sinyal bahwa strategi pertumbuhan yang diusung Ketua Jeong Yong-jin tahun ini tidak hanya berhenti pada efisiensi bisnis ritel, tetapi meluas ke ranah bisnis baru yaitu infrastruktur AI. Poin yang patut disimak adalah seberapa kuat Shinsegae akan membawa karakteristik sebagai 'operator bisnis AI cloud/infrastruktur' dibandingkan sebagai 'perusahaan ritel' di masa depan.