주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Investasi Paling Umum
Berita perang merebak, mengapa ekonomi tidak memburuk?

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Dalam pasar keuangan, perang selalu menjadi faktor ketakutan yang paling kuat. Seiring meningkatnya konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran, pasar keuangan global pun terguncang hebat. Harga minyak internasional melonjak dalam jangka pendek, dan volatilitas pasar saham pun meningkat. Namun, pandangan pasar terhadap situasi ini cukup berbeda. Sementara investor pemula merasa cemas dengan kemungkinan perang total, pelaku pasar yang berpengalaman sudah menghitung 'langkah selanjutnya'.

Variabel terpenting dalam situasi Timur Tengah saat ini bukanlah perang itu sendiri, melainkan Selat Hormuz. Sekitar 20% volume lalu lintas minyak mentah laut dunia melewati selat sempit ini. Jika jalur ini diblokir, bukan sekadar kenaikan harga minyak yang terjadi, melainkan seluruh rantai pasok global bisa terguncang. Hal ini dikarenakan sebagian besar minyak mentah dan produk olahan minyak yang diekspor dari Timur Tengah berpindah melalui selat ini.

Risiko geopolitik mungkin dapat menciutkan pasar untuk sementara, tetapi jarang sekali mampu mengguncang siklus ekonomi itu sendiri yang dibentuk oleh permintaan manusia dan kemajuan teknologi, dan pasar pun menanggapinya sebagai peristiwa volatilitas jangka pendek, bukan sinyal resesi jangka panjang. Foto=AI Generatif
Risiko geopolitik mungkin dapat menciutkan pasar untuk sementara, tetapi jarang sekali mampu mengguncang siklus ekonomi itu sendiri yang dibentuk oleh permintaan manusia dan kemajuan teknologi, dan pasar pun menanggapinya sebagai peristiwa volatilitas jangka pendek, bukan sinyal resesi jangka panjang. Foto=AI Generatif

Oleh karena itu, yang diperhatikan oleh pasar keuangan bukanlah deklarasi politik bahwa 'perang telah berakhir'. Melainkan apakah selat tersebut tetap terbuka secara stabil. Di pasar, aliran logistik selalu jauh lebih penting daripada retorika diplomatik.

Yang menarik adalah fakta bahwa di tengah ketakutan akan perang yang mendominasi berita utama, prospek ekonomi global tidak mengalami kerusakan yang signifikan. Indeks Leading Economic (CLI) OECD saat ini berada di atas ambang batas 100 di sebagian besar negara dan terus menunjukkan tren kenaikan selama beberapa bulan terakhir. Ini adalah sinyal bahwa ekonomi global masih berada dalam fase ekspansi meskipun ada guncangan berupa perang.

Kasus Korea Selatan secara khusus memberikan wawasan yang mendalam. Bahkan dalam situasi di mana risiko geopolitik berada di puncaknya, ekspor yang berpusat pada semikonduktor tetap mempertahankan tren kenaikan yang kuat. Terutama, pemulihan ekspor ke Tiongkok menjadi bukti kuat bahwa ekonomi manufaktur global sedang mencapai titik dasar dan mulai bangkit kembali.

Risiko geopolitik memang dapat menciutkan pasar untuk sementara waktu, namun jarang sekali mengubah siklus ekonomi itu sendiri yang diciptakan oleh permintaan manusia dan kemajuan teknologi. Pasar kini lebih bersikap tenang dalam merespons, menganggap perang sebagai peristiwa volatilitas jangka pendek alih-alih sebagai awal dari resesi jangka panjang.

Sebaliknya, perhatian pasar justru terfokus pada sinyal harga yang dihasilkan oleh perang. Salah satu yang utama adalah energi. Seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, harga minyak dan gas alam naik dengan cepat, dan hal ini meningkatkan profitabilitas industri energi dan penyulingan minyak. Faktanya, seiring kenaikan harga minyak baru-baru ini, margin penyulingan juga meningkat tajam.

Di sisi lain, kenaikan harga energi menjadi beban bagi sektor industri seperti industri kimia yang sensitif terhadap biaya bahan baku. Inilah alasan mengapa perang tidak menjatuhkan seluruh pasar, melainkan menjadi faktor yang memperlebar kesenjangan antarindustri.

Satu perubahan lain yang harus diperhatikan adalah transisi struktural pasar energi. Jika selama ini 'harga' adalah variabel utama, kemungkinan besar ke depannya, "apakah kita bisa membelinya", yaitu aksesibilitas, akan menjadi masalah yang lebih penting. Analisis menunjukkan bahwa jika blokade Hormuz berkepanjangan, beberapa negara bisa mengalami gangguan pasokan energi dalam waktu 20 hingga 30 hari. Jika itu terjadi, ekonomi global tidak hanya akan menghadapi lonjakan harga minyak, tetapi juga krisis logistik dan operasional industri itu sendiri.

Pertanyaan para investor pun sudah berubah. Pertanyaan utamanya bukan lagi "seberapa tinggi harga minyak akan naik", melainkan "industri mana yang bisa mengamankan akses energi". Perubahan ini sudah mulai terlihat di pasar. Negara produsen energi dan perusahaan sumber daya menunjukkan tren yang relatif lebih kuat, sementara industri yang sensitif terhadap biaya bahan baku berada di bawah tekanan yang semakin berat.

Pada akhirnya, mereka yang menang di pasar keuangan bukanlah orang yang menutup telinga saat dentuman meriam terdengar, melainkan mereka yang mampu membaca perubahan struktural apa yang disiratkan oleh suara tersebut. Penataan ulang rantai pasok energi, perluasan aset cadangan strategis, dan penguatan keamanan sumber daya kini akan menjadi arus investasi jangka panjang, bukan sekadar tema sementara.

Perang memang tragis, namun pasar tetap tenang dalam menemukan tatanan baru di tengah tragedi tersebut. Yang kita butuhkan saat ini bukanlah bereaksi terhadap angka merah di depan mata, melainkan pandangan untuk membaca pergeseran tektonik yang besar. Terkadang, justru di masa yang paling membingungkan arah investasi terlihat paling jelas.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김세아 금융 칼럼니스트
writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지