주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Perkenalan Buku Baru
Bagi Anda yang Baru Pertama Kali Menonton Opera, Naluri Mencipta

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Buku dari dua ahli yang bersinar di bidang di luar profesi utama mereka telah dirilis. Tokoh utamanya adalah Park Jong-ho, seorang psikiater yang dikenal sebagai pecinta musik klasik, dan Jeong Yeon-deok, seorang profesor hukum yang juga aktif sebagai pelukis dan novelis.

Bagi Anda yang Baru Pertama Kali Menonton Opera: Ditulis oleh Park Jong-ho, 224 halaman, Pungwoldang, Naluri Mencipta: Ditulis oleh Jeong Yeon-deok, 316 halaman, Awake. Foto=Disediakan oleh masing-masing perusahaan
Bagi Anda yang Baru Pertama Kali Menonton Opera: Ditulis oleh Park Jong-ho, 224 halaman, Pungwoldang, Naluri Mencipta: Ditulis oleh Jeong Yeon-deok, 316 halaman, Awake. Foto=Disediakan oleh masing-masing perusahaan

Park Jong-ho terkenal sebagai penulis banyak buku terlaris tentang musik klasik seperti 'Klasik yang Saya Cintai' dan 'Klasik Abadi'. Sebagai psikiater spesialis, ia mendirikan merek musik klasik bernama 'Pungwoldang' lebih dari 20 tahun yang lalu dan telah memperkenalkan musik klasik melalui berbagai saluran seperti toko rekaman khusus, kuliah, dan penerbitan. Setelah buku untuk pemula musik klasik berjudul 'Bagi Anda yang Baru Pertama Kali Mendengar Musik Klasik', ia baru saja merilis 'Bagi Anda yang Baru Pertama Kali Menonton Opera' untuk pemula opera.

Buku ini dimulai dengan kisah seorang pria yang pertama kali mendengar aria opera 'Pagliacci' di lokasi pembangunan gurun di Arab Saudi. Nasib tokoh utama opera yang harus naik ke panggung dengan riasan badut meski sambil meneteskan air mata darah, tumpang tindih dengan kehidupan pria yang bekerja keras di tengah badai pasir.

Mario del Monaco menyanyikan Vesti la giubba (Kenakan Kostum) dalam opera 'Pagliacci' tahun 1961. Foto=Tangkapan layar video YouTube
Mario del Monaco menyanyikan Vesti la giubba (Kenakan Kostum) dalam opera 'Pagliacci' tahun 1961. Foto=Tangkapan layar video YouTube

Seperti judulnya, 'Bagi Anda yang Baru Pertama Kali Menonton Opera' tidak berbicara tentang sejarah opera yang luas atau teori-teori agung, melainkan tentang emosi dan perasaan apa yang diberikan opera kepada pendengarnya. Ini mirip dengan momen Julia Roberts yang bergetar saat mendengar aria setelah pertama kali pergi ke gedung opera dalam film 'Pretty Woman', atau adegan di mana Go Yoon-jung merasakan emosi dari setiap baris aria beserta artinya dalam bahasa Korea dalam drama 'Can This Love Be Interpreted?'.

Penulis berkeliling ke berbagai gedung opera di seluruh Eropa setiap tahun untuk menontonnya secara langsung. Ini adalah rutinitas yang telah ia jalani selama beberapa dekade, dan ia menuangkan kisah-kisah hidup yang ia lihat, dengar, dan pelajari sendiri ke dalam buku ini. Ia memberikan jawaban yang mudah dan jelas atas pertanyaan paling dasar bagi pemula opera, seperti peran orang-orang yang membuat opera, materi dan naskah karya, jenis suara penyanyi, cara menikmati opera yang sesungguhnya, hingga festival musim opera.

Buku kedua, 'Naluri Mencipta', ditulis oleh Jeong Yeon-deok, seorang profesor di Sekolah Pascasarjana Hukum Universitas Konkuk yang merupakan pakar hak kekayaan intelektual. Sebagai 'ahli hukum yang berkesenian' yang juga menekuni seni rupa dan penulisan novel, ia bertanya dan menjawab apakah manusia masih bisa menjadi subjek penciptaan di era AI.

Sejak AI digunakan, 'mencipta' tidak bisa lagi disebut sebagai tindakan menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Ambang batas penciptaan telah diturunkan dan produktivitas meningkat secara drastis. Penciptaan manusia kini mulai digantikan oleh penciptaan AI.

Penulis mengatakan bahwa penciptaan di era AI harus dinilai dari 'apa yang ditinggalkan' alih-alih apa yang telah dibuat. Karena manusia adalah pihak yang menilai kalimat mana yang harus dipertahankan dan mana yang harus dihapus, adegan mana yang diletakkan di depan dan mana yang diundur, serta emosi mana yang harus ditekankan dan mana yang harus diredam. Keputusan-keputusan tersebut melibatkan pengalaman, etika, konteks, dan emosi manusia.

AI memang menciptakan, namun AI tidak bertanggung jawab, tidak memiliki pengalaman, dan tidak berubah. Namun manusia membuktikan dirinya melalui penciptaan, menafsirkan kegagalan, dan mengumpulkan makna. Foto=pixabay
AI memang menciptakan, namun AI tidak bertanggung jawab, tidak memiliki pengalaman, dan tidak berubah. Namun manusia membuktikan dirinya melalui penciptaan, menafsirkan kegagalan, dan mengumpulkan makna. Foto=pixabay

Oleh karena itu, poin utama dalam menentukan hak cipta atas karya yang menggunakan AI adalah apakah terdapat unsur penciptaan unik manusia yang harus dilindungi dunia. Penulis menjelaskan bahwa yang penting adalah apakah terdapat jejak emosi dan pilihan manusia dalam karya tersebut, apakah jejak itu sampai kepada pembaca dan penonton, dan kepada siapa tanggung jawab atas keputusan yang memungkinkan tercapainya hal tersebut berada.

'Naluri Mencipta' membahas berbagai kontroversi hukum terkait hak cipta, seperti sampai di mana kebebasan berkreasi diakui, dan apa batasan antara penciptaan dan plagiarisme (peniruan). Pada akhirnya, buku ini sampai pada pembahasan mengenai penciptaan bersama antara manusia dan AI, serta memaparkan secara konkret struktur penciptaan bersama dan masalah hukum yang harus diperhatikan dalam prosesnya. Buku ini juga menyertakan lampiran berupa tanya jawab mengenai kontroversi terkait AI, seperti penggunaan gaya seni Ghibli tanpa izin.

Penulis menyimpulkan bahwa AI adalah 'alat dan bahasa baru', dan apa yang akan dikatakan dengan bahasa tersebut bergantung pada imajinasi dan pengalaman manusia. Ia berharap penciptaan di era di mana kita memiliki mitra baru, bukan pesaing, dapat membawa makna yang lebih dalam bagi lebih banyak orang.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김남희 기자

문화예술 분야와 콘텐츠 관리를 담당합니다.

namhee@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지