[비즈한국] “Kami mengiklankan segala sesuatu di dunia.”
Slogan pengantar saluran YouTube pribadi Kim Seon-tae singkat namun kuat. Ini adalah deklarasi bahwa sosok yang telah mengubah gaya humas lembaga publik melalui kanal YouTube ‘ChungTV’ milik kota Chungju ini, kini akan terjun ke pasar iklan dengan menggunakan namanya sendiri.
Saluran Kim Seon-tae mendapatkan respons yang sangat eksplosif segera setelah dibuka. Berdasarkan data per 5 Maret, jumlah pelanggan melampaui 1 juta hanya dalam 3 hari setelah peluncuran, dan video pertama saja telah mencatat jutaan penayangan. Di kolom komentar, akun resmi berbagai perusahaan dan lembaga publik muncul satu demi satu, menciptakan suasana yang hampir mirip dengan ‘pameran bagi pengiklan’.

Fenomena ini lebih dari sekadar sensasi biasa. Pengiklan pertama Kim Seon-tae bukan sekadar sponsor biasa, melainkan ‘saksi mata pertama dari sebuah peristiwa’. Hal ini dikarenakan merek tersebut menjadi yang pertama tercatat pada momen saat Kim Seon-tae melepaskan citranya sebagai mantan YouTuber PNS, yang dikenal sebagai ‘Chungju-man’, dan bertransformasi menjadi kreator individu. Iklan pertama ini bukan sekadar pajangan, melainkan simbol. Siapa yang membawa Kim Seon-tae lebih dulu, bagaimana mereka menggunakan karakternya, dan bagaimana mereka menerapkan sosok yang menjadi simbol humas publik ke dalam iklan komersial, semuanya akan menjadi bahan berita dan topik hangat di komunitas. Itulah alasan mengapa komentar penawaran iklan yang muncul segera setelah saluran pribadi Kim Seon-tae dibuka langsung menjadi pemberitaan.
Ekspektasi ini muncul dari latar belakang yang dimiliki Kim Seon-tae. Ia menarik perhatian saat mengelola YouTube resmi kota Chungju dengan konten yang menggabungkan meme, selera kelas B, penyuntingan cepat, dan cara bicara yang jujur, dan karakter tersebut terus berlanjut setelah ia pindah ke saluran pribadinya. Jika melihat laporan baru-baru ini, publik tidak hanya mengonsumsi Kim Seon-tae sebagai ‘YouTuber mantan PNS’, tetapi juga sebagai kasus langka di mana pengalaman sukses mengelola saluran organisasi dialihkan menjadi merek pribadi.
Belakangan ini, beredar pula dokumen berjudul ‘Pengantar Saluran Kim Seon-tae’. Dokumen ini berisi daftar harga yang mencapai hingga 100 juta won beserta komposisi produk iklan. Dilihat dari format dokumennya saja, ini bukan sekadar pertanyaan sponsor biasa, melainkan lebih menyerupai proposal yang telah memaketkan produk iklan hingga tingkat tertentu. Ini juga bisa dibaca sebagai petunjuk bahwa sosok Kim Seon-tae kini dikenal bukan hanya sebagai YouTuber yang sedang populer, melainkan sebagai ‘kreator bidang humas’ yang telah siap terjun secara penuh ke pasar iklan.

Namun, keaslian dokumen ini belum dapat dikonfirmasi. Tidak jelas apakah itu pengantar yang memang untuk didistribusikan, draf, atau data palsu yang dibuat oleh pihak ketiga. Bizhankook telah mencoba menghubungi pihak Kim Seon-tae berkali-kali untuk mengonfirmasi hal ini, namun tidak menerima jawaban. Meski begitu, fakta bahwa dokumen ini menjadi pembicaraan di dalam dan luar industri dapat dianggap sebagai bukti ekspektasi pasar iklan terhadap Kim Seon-tae. Terlepas dari benar atau tidaknya, hal ini berarti persepsi pasar bahwa ‘bukankah harus siap mengeluarkan biaya dan perhatian sebesar ini untuk berkolaborasi dengan Kim Seon-tae’ sudah mulai terbentuk.
Jadi, siapa yang akan menjadi pengiklan pertamanya? Analisis menunjukkan bahwa industri dengan kemungkinan terbesar adalah barang konsumsi yang populer dan cepat direspons, seperti ayam atau makanan dan minuman. Alasannya sederhana. Iklan pertama Kim Seon-tae lebih mementingkan ‘adegan’ daripada penjelasan produk. Publik kemungkinan besar akan melihat seberapa natural Kim Seon-tae melucu dalam iklan pertamanya, seberapa ia mampu memelintir merek dengan caranya sendiri, dan seberapa ia mampu menggerakkan kembali kolom komentar dan komunitas. Pada momen seperti ini, merek dengan slogan singkat dan konsumsi instan lebih unggul daripada produk yang rumit. Inilah sebabnya mengapa merek seperti Norang Tongdak, Bareun Chicken, dan Binggrae005180, yang menunjukkan eksistensi paling kuat di tahap kolom komentar, disebut-sebut sebagai kandidat utama.
Sebaliknya, ada kemungkinan merek yang memiliki sifat publik sekaligus lekat dengan kehidupan sehari-hari yang akan ‘dipilih’ oleh sang manusia humas. Kekuatan Kim Seon-tae bukan hanya sebagai orang yang lucu, tetapi pengalamannya menerjemahkan humas publik ke dalam bahasa masyarakat umum. Untuk memanfaatkan latar belakang ini, merek di bidang keuangan, mobilitas, asuransi, atau kampanye publik mungkin lebih cocok. Faktanya, iM Financial Group, Uber Korea, Layanan Asuransi Kesehatan Nasional (NHIS), Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan, serta Badan Konsumen Korea juga telah lebih dulu ikut serta dalam perang komentar. Jika iklan pertama lebih berfokus pada menarik reaksi ‘oh, ternyata Kim Seon-tae bisa mengemas hal seperti ini juga’, maka iklan bertema informasi gaya hidup justru berpotensi memberikan dampak yang lebih besar.
Yang penting bukanlah biaya iklan, melainkan ‘premium sebagai pengiklan pertama’. Meskipun dengan harga mahal, efek yang didapat pengiklan pertama di pasar nyata bisa jadi lebih dari sekadar jumlah penayangan. Saat iklan pertama dirilis, kemungkinan besar media akan kembali membahas ‘siapa pengiklan pertama Kim Seon-tae’, dan komunitas akan membahas ‘merek mana yang menggunakan Kim Seon-tae dengan paling jenaka’. Iklan pertama itu sendiri menjadi bahan untuk pemberitaan sekunder dan viral sekunder.
Seorang narasumber di industri periklanan mengatakan, “Pengiklan pertama Kim Seon-tae memiliki makna khusus karena bukan sekadar sponsor, melainkan menjadi protagonis dalam momen di mana personal branding dari seorang bintang humas publik pertama kalinya diuangkan,” dan menambahkan, “Saya rasa ada banyak perusahaan yang bersedia membayar mahal hanya untuk atensinya saja.”