주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Laporan K-Culture
Berikan Tepuk Tangan untuk BTS dan Blackpink, Sang 'Duta Budaya Tradisional'

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Baru-baru ini, BTS dan Blackpink menarik perhatian publik berkat aktivitas mereka yang berkaitan dengan budaya tradisional Korea. BTS akan menggelar konser di Gwanghwamun untuk merayakan perilisan album 'Arirang' pada tanggal 20 mendatang. Blackpink telah berpartisipasi dalam layanan kurator budaya di Museum Nasional Korea. Meskipun sebagian pihak menganggap ini sebagai sesuatu yang baru bagi mereka, sebenarnya BTS dan Blackpink sudah sejak lama memasukkan elemen warisan budaya tradisional ke dalam karya musik mereka dan kini terus mengembangkannya ke tingkat yang lebih tinggi.

BTS mendapatkan simpati dari penggemar global dengan mengemas budaya dan musik tradisional Korea agar sesuai dengan selera modern. Lagu 'IDOL', yang mencapai peringkat ke-10 di Billboard Hot 100 pada tahun 2018, memadukan irama tradisional Korea (jangdan deong-deo-kung) dan menambahkan seruan seperti 'eolssigu' dan 'jota' untuk mengubah keseruan budaya Korea menjadi musik tari yang energik. Video musiknya pun terasa lebih khas Korea. Mereka menampilkan gaya busana yang menginterpretasikan ulang pakaian tradisional, memperlihatkan tarian dengan konsep 'Bukcheong Saja-noreum' (tarian singa), serta menampilkan motif harimau dan rumah Hanok. Jika dilihat sekarang, hal ini mengingatkan kita pada karakter harimau Duffy di 'K-Pop Demon Hunters'. Sang pemimpin, RM, juga memicu fenomena 'National Museum of Korea' dengan memperkenalkan 'Ruang Meditasi' (Room of Quietude) yang menyimpan patung Buddha Maitreya kepada dunia.

BTS menampilkan irama dan tarian tradisional Korea dalam lagu 'IDOL' yang dirilis tahun 2018. Foto = Tangkapan layar video musik IDOL
BTS menampilkan irama dan tarian tradisional Korea dalam lagu 'IDOL' yang dirilis tahun 2018. Foto = Tangkapan layar video musik IDOL

Suga, dengan nama panggung Agust D, merilis album penuh 'D-DAY' pada tahun 2020 dan memperkenalkan lagu berjudul 'Daechwita'. Lagu ini merupakan interpretasi modern dari musik istana era Joseon, Daechwita, dengan irama yang energik dan sentuhan hip-hop. Dimulai dengan rap "Daechwita, Daechwita, bunyikanlah, Daechwita" yang berlatar dentuman beat hip-hop, lagu ini menuai pujian di seluruh dunia. Lagu berjudul 'Haegeum' memiliki makna ganda, yaitu instrumen tradisional Haegeum sekaligus bermakna mencabut larangan. Dalam karya ini, gaya busana tradisional kembali mencuri perhatian. Suga mengenakan pakaian yang diadaptasi dari Gonryongpo, pakaian raja di era Joseon. Dengan memanfaatkan kain putih dan tali hanbok yang kontras dengan pakaian hitam, ia berhasil membentuk gaya busana hip-hop yang ikonik.

Pada bulan April 2023, pakaian Blackpink saat tampil sebagai headliner di festival musik terbesar Amerika Serikat, 'Coachella Valley Music and Arts Festival (Coachella)', menarik perhatian media internasional. Sebagai artis Asia pertama yang menjadi headliner, mereka membawakan lagu 'Pink Venom' sambil mengenakan hanbok di atas panggung. CNN Style menilai bahwa Jennie, Jisoo, Lisa, dan Rosé telah menunjukkan momen yang fenomenal dengan mengenakan hanbok dan memberikan penghormatan pada warisan budaya tradisional Korea. Empat busana hanbok tersebut terinspirasi dari siluet Cheollik dan dibordir dengan pola tradisional Korea seperti Dancheong dan bunga peony. Cheollik adalah seragam resmi perwira militer dari era Goryeo hingga Joseon. Dengan mengambil inspirasi dari atasan model jeogori dan rok berlipat, busana pria tersebut disesuaikan oleh para artis wanita ini untuk memberikan nuansa girl crush.

Sebelumnya, pada bulan Juni 2020, Blackpink telah menampilkan hanbok modern di bagian akhir video musik lagu terbaru mereka, 'How You Like That'. Dalam penampilan di acara NBC 'The Tonight Show Starring Jimmy Fallon', Jennie mengenakan jaket Durumagi pria berwarna merah muda dengan pola burung phoenix, sementara Rosé mengenakan atasan crop top dengan pola burung phoenix yang dipadukan dengan Cheollik hitam. Crop top tersebut adalah bentuk adaptasi dari pakaian dalam era Joseon yang disebut 'gaseum garigae', namun kini dipadukan dengan pola dekoratif agar bisa dikenakan di bagian luar. Pola mewah tersebut berasal dari desain burung phoenix pada kain pembungkus (bojagi) yang digunakan di istana. Dengan mengubah gaya pakaian pria menjadi busana wanita yang menganut paham genderless (tanpa gender), mereka berhasil memperbarui semangat zaman dengan cara menciptakan kembali tradisi, bukan sekadar berdiam diri di dalamnya.

Blackpink baru-baru ini berpartisipasi dalam layanan kurator budaya di Museum Nasional Korea. Foto = Reporter Choi Joon-pil
Blackpink baru-baru ini berpartisipasi dalam layanan kurator budaya di Museum Nasional Korea. Foto = Reporter Choi Joon-pil

Aktivitas BTS dan Blackpink belakangan ini memiliki perbedaan dibandingkan sebelumnya, yaitu adanya keterlibatan ruang fisik sebagai mediator. Selama ini, aspek ruang fisik adalah sisi yang kurang dari K-pop. Pasca pandemi COVID-19, pengalaman langsung dan foto bukti kunjungan menjadi lebih penting, sehingga dahaga para penggemar luar negeri semakin besar. Saat berkunjung ke Korea, lokasi terkait K-pop yang bisa dikunjungi biasanya hanya gedung agensi. Lokasi syuting video musik pun tersebar di daerah-daerah sehingga sulit diakses, terutama mengingat rute perjalanan di Korea cenderung terpusat di Seoul.

Terlebih lagi, sejak adanya 'K-Pop Demon Hunters', minat terhadap budaya tradisional Korea dan keinginan untuk mengunjungi lokasi secara langsung meningkat pesat meningkat. Pemerintah pun mau tidak mau harus memberikan perhatian, mengingat ini adalah peluang emas untuk berbagi identitas Korea dan mendorong kunjungan berulang. Gwanghwamun tempat BTS tampil, serta Alun-alun Balai Kota Seoul akan menjadi destinasi bagi penggemar luar negeri. Di Museum Nasional Korea tempat Blackpink memperkenalkan artefak, orang asing kini bisa berkunjung langsung untuk mendengar suara Blackpink. Museum Nasional Korea bahkan mewarnai dinding luarnya dengan warna merah muda khas Blackpink untuk menciptakan daya tarik di malam hari, memberikan motivasi bagi pengunjung untuk datang, berfoto, dan membagikannya di media sosial. Ini adalah model saling menguntungkan yang menunjukkan kolaborasi yang harmonis.

Contoh ini seharusnya tidak berhenti pada BTS atau Blackpink saja. Banyak artis K-pop, termasuk Stray Kids, telah memanfaatkan budaya tradisional ke dalam berbagai lagu, mode, produksi konten, dan pertunjukan mereka. Sayangnya, belum ada ruang terpusat di mana semua aktivitas K-pop ini dapat dinikmati bersama. Ini adalah tugas yang harus diselesaikan oleh kepemimpinan kebijakan publik di masa depan.

Penulis Kim Heon-sik sejak usia 20-an telah menelusuri atau mengarungi fenomena budaya populer dengan harapan bahwa ada cara untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik melalui budaya. Di abad ke-21 di mana kecerdasan buatan dan komputer kuantum berperan, ia masih menapaki jalan yang sama dengan keyakinan yang sama.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김헌식 대중문화평론가

필자 김헌식은 20대부터 문화 속에 세상을 좀 더 낫게 만드는 길이 있다는 기대감으로 특히 대중문화 현상의 숲을 거닐거나 헤쳐왔다. 인공지능과 양자 컴퓨터가 활약하는 21세기에도 여전히 같은 믿음으로 한길을 가고 있다.

writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지