[비즈한국] Samsung Electronics005930 mengumumkan akan melompat lebih jauh dari sekadar "meningkatkan otomatisasi pabrik" menuju tahap "otonomisasi", di mana lokasi manufaktur dapat membuat keputusan dan mengeksekusi tindakan secara mandiri. Pada 1 Maret, Samsung Electronics menyatakan akan mengubah pabrik produksi di dalam dan luar negeri menjadi 'Pabrik Otonom AI (AI Driven Factory)' pada tahun 2030. Rencananya adalah dengan mengimplementasikan simulasi berbasis digital twin di seluruh proses manufaktur mulai dari penerimaan material, produksi, hingga pengiriman, serta menempatkan agen AI di area kualitas, produksi, dan logistik untuk memperkuat analisis berbasis data dan verifikasi awal. Perusahaan juga menyatakan akan membangun sistem untuk mendeteksi faktor risiko secara dini dan mencegah kecelakaan dengan memperluas penerapan AI di bidang lingkungan dan keselamatan.

Secara lahiriah, ini terdengar seperti "menempatkan AI di pabrik", namun maknanya jauh lebih berat di industri manufaktur. Dalam manufaktur, AI adalah struktur biaya itu sendiri. Begitu yield meningkat, tingkat kerusakan berkurang, persediaan menjadi lebih ramping, dan downtime menurun, maka "dasar" biaya akan berubah. Pada saat yang sama, dengan mengurangi kemungkinan kecelakaan kerja, risiko bencana besar menjadi lebih rendah, dan berkurangnya volatilitas kualitas akan menekan biaya pengiriman dan klaim. Lebih jauh lagi, jika basis produksi global dan mitra mulai berdiri di atas data dan standar yang sama, maka standar rantai pasokan pun akan tertata ulang.
Lee Young-soo, Wakil Presiden Samsung Electronics sekaligus Kepala Laboratorium Riset Teknologi Produksi, menekankan, "Kunci masa depan inovasi manufaktur adalah membangun lokasi manufaktur otonom di mana AI memahami lapangan dan melaksanakan keputusan optimal dengan sendirinya." Samsung Electronics juga telah mengumumkan akan mengungkap strategi penerapan AI industri dan visi inovasi manufaktur berbasis digital twin di MWC 2026 yang akan diselenggarakan di Barcelona, Spanyol.
AI Mengubah Biaya, KPI Ditentukan oleh 'Otonomisasi', Bukan 'Otomatisasi'
Titik kebocoran uang di lokasi produksi biasanya sudah ditentukan. Waktu henti lini (downtime), bagian dengan yield yang tidak stabil, pengerjaan ulang dan pembuangan akibat perubahan kualitas, modal yang terikat oleh kelebihan persediaan, serta penalti akibat keterlambatan pengiriman adalah contoh utamanya. Keputusan Samsung Electronics untuk menerapkan digital twin serta agen AI untuk kualitas, produksi, dan logistik di seluruh proses merupakan sebuah deklarasi untuk mengubah poin-poin biaya ini dari "respon pasca-kejadian" menjadi "verifikasi awal".
Kuncinya terletak pada prioritas. Pasar akan menerima pengumuman ini sebagai "narasi investasi" dan bukan sekadar "promosi" jika Samsung mengungkap pabrik mana yang akan diterapkan terlebih dahulu dan di proses mana mereka ingin meraih kesuksesan lebih awal. Lokasi dengan skala produksi besar dan permintaan kualitas yang ketat dapat menunjukkan efektivitas digital twin lebih cepat, namun tingkat kesulitan standardisasi data dan penerapan di lapangan lebih tinggi. Sebaliknya, proses yang relatif mudah distandardisasi dapat memberikan hasil cepat, namun dampaknya dalam "mengubah peta manufaktur" mungkin terbatas. Pada akhirnya, KPI (Key Performance Index) harus dibuktikan melalui KPI manufaktur seperti tingkat kerusakan, yield, efektivitas peralatan menyeluruh (OEE), waktu henti (downtime), hari persediaan, dan tingkat pemenuhan pengiriman, bukan sekadar indikator seperti "tingkat adopsi AI".
Pertanyaan lainnya adalah mengenai robot. Samsung Electronics bahkan menyebutkan tentang "robot manufaktur humanoid" di lokasi produksi sebagai gambaran akhir dari otonomisasi. Namun, robot tidak berhenti hanya dengan membawa masuk satu unit peralatan. Desain proses berubah, standar keselamatan berubah, dan sistem pemeliharaan serta pasokan suku cadang pun ikut berubah. Dalam hal ini, pemisahan area yang akan dikembangkan sendiri oleh Samsung dengan area yang dibuka untuk mitra robotika dan SI (System Integration) akan membentuk peta ekosistem. Inilah alasan mengapa pertanyaan "Sejauh mana Samsung akan menguasai standar otomatisasi pabrik?" akan segera menyusul.
Ketika 'Tata Kelola AI' Masuk ke Pabrik, Tanggung Jawab Berubah
Otonomisasi AI di lokasi manufaktur membawa masalah "tanggung jawab" sama besarnya dengan efisiensi. Perlu dicatat siapa yang membuat keputusan berdasarkan kriteria apa, dan perlu ditentukan bagaimana membagi tanggung jawab ketika keputusan tersebut berujung pada masalah kualitas atau kecelakaan keselamatan. Latar belakang Samsung Electronics yang berencana mengungkap "strategi penguatan tata kelola untuk perluasan otonomi AI" di MWC 2026 adalah karena masalah ini bukan lagi isu sampingan seiring berkembangnya AI industri.
Sebagai contoh, gagasan untuk menggunakan AI di bidang lingkungan dan keselamatan guna mendeteksi faktor risiko secara dini dan mencegah kecelakaan tidak hanya meningkatkan keselamatan di lapangan, tetapi juga mengubah sistem audit dan pengawasan. Berkurangnya kecelakaan tidak hanya menjadi hal yang baik, tetapi juga harus menyisakan aturan dan catatan mengenai "mengapa keputusan yang dibuat AI itu benar" dan "loop koreksi apa yang dilalui jika keputusannya salah". Dalam manufaktur, keselamatan juga merupakan ranah kepatuhan terhadap peraturan, sehingga tata kelola kemungkinan besar akan meluas ke struktur mitra dan sub-kontrak, bukan hanya sebatas kontrol internal. Pada akhirnya, strategi pabrik otonom AI Samsung Electronics bermuara pada bagaimana menyebarkan data, standar, dan sistem audit ke seluruh rantai pasokan, melampaui inovasi internal di basis produksi.
Jadi, makna pengumuman kali ini bukanlah sekadar "Samsung menempatkan AI di pabrik". Saat daya saing manufaktur dihitung dalam biaya, AI menjadi sistem operasi yang memegang kendali atas biaya, keselamatan, pengiriman, dan kualitas secara bersamaan. 'Pabrik Otonom AI' adalah deklarasi tentang siapa yang membuat sistem operasi tersebut, aturan apa yang digunakan untuk menjalankannya, dan sejauh mana hal tersebut akan berada di bawah kendali perusahaan. Tahun 2030 hanyalah target waktu. Yang benar-benar ingin dilihat pasar adalah urutan eksekusi: dari mana, dengan cara apa, dan seberapa cepat mereka akan mengubah target tersebut menjadi realitas mulai tahun 2026.