[비즈한국] Di zaman di mana filsafat pun ditonton melalui 'shorts', dan di era di mana AI (kecerdasan buatan) bahkan bisa menggantikan pemikiran kita, apa arti sebenarnya dari berfilsafat?
Seringkali, filsafat dianggap sebagai 'cerita yang melayang-layang' dan jauh dari kenyataan. Ada pandangan yang menganggapnya sebagai hobi orang kaya atau sekadar pelarian bagi mereka yang tidak bisa beradaptasi dengan realitas. Namun, filsafat yang sejati adalah upaya berpikir untuk memecahkan masalah dan absurditas yang dihadapi dalam hidup. Itulah sebabnya, bagi seorang perempuan di Korea, melakukan filsafat pasti menuntut kegigihan. Karena ia harus menjalani kehidupan yang terus-menerus dihadapkan pada berbagai pertanyaan.
Buku yang baru saja diterbitkan, 'Kisah Filsafat Para Filsuf Perempuan', memuat cerita tentang 'berfilsafat' dari 8 filsuf perempuan baru dan berpengalaman yang aktif dan menarik perhatian di dalam negeri.

Kang Seon-hyeong, Kim Bun-seon, Kim Ae-ryeong, Kim Eun-ju, Noh Seong-suk, Yang Chang-a, Lee Seon-hyeon, dan Lee Sol masing-masing meneliti pemikir yang mewakili filsafat modern setelah abad ke-20, seperti Gilles Deleuze, Michel Foucault, Paul Ricoeur, Rosi Braidotti, Theodor Adorno, Hannah Arendt, Judith Butler, dan Jean-Paul Sartre. Bagaimana mereka mengenal filsafat, apa yang membuat mereka meneliti para pemikir ini, dan apakah kita masih membutuhkan filsafat? 'Kisah Filsafat Para Filsuf Perempuan' kembali menelusuri makna filsafat melalui pengalaman mereka.
Para penulis menunjukkan bahwa filsafat dimulai dari tempat kehidupan yang konkret, dan bahwa hidup seorang filsuf serta pemikiran teoretisnya tidak dapat dipisahkan. Sebagai contoh, Yang Chang-a memilih filsafat saat ia duduk di bangku kelas 2 SMA. Di saat banyak orang kehilangan nyawa karena 'krisis IMF', ia berpikir, "Karena saya merasa kematian selalu dekat, mari kita lakukan apa yang ingin kita lakukan." Ia juga merasa "ada banyak teka-teki yang harus dipecahkan." Oleh karena itu, ia masuk ke jurusan filsafat di universitas.
Alasannya memilih Hannah Arendt adalah karena saat kuliah, di tengah rasa kantuk akibat sibuk bekerja paruh waktu, istilah Arendt dan 'banalitas kejahatan' tertanam di benaknya. Arendt membangun pemikirannya dengan secara aktif merenungkan peristiwa yang dialaminya. Yang Chang-a, yang merasa frustrasi karena tidak bisa memperjelas masalah yang harus dipecahkan saat itu, merasa Arendt adalah 'rekan sezaman'. Setelah itu, saat terjun ke lokasi solidaritas di 'Gangjeong', 'Yeongdo', 'Miryang', dan 'Mandeok', ia mengalami momen di mana apa yang dipelajarinya pecah atau justru menjadi lebih hidup. Melalui pengalaman itu, Yang Chang-a memahami Arendt dengan cara baru.
Dengan demikian, para filsuf perempuan ini berbicara tentang solidaritas, komunitas, dan sesama melalui filsafat. Atau sebaliknya, mereka berfilsafat melalui solidaritas. Ini berbeda dari gambaran filsuf yang biasanya kita bayangkan, yaitu sosok yang merenung sendirian. Bagi mereka, filsafat bukanlah pengetahuan yang agung, melainkan jalan untuk memecahkan masalah nyata bagi diri sendiri dan orang lain serta untuk hidup dengan lebih baik.

Sekarang mari kita kembali ke pertanyaan awal. Apakah kita masih membutuhkan filsafat? Filsuf Kang Seon-hyeong menjawab demikian.
Filsafat selalu tertarik pada prosesnya. Jika dikatakan sesuatu terjadi karena alasan 'ini dan itu', filsafat lebih memperhatikan 'ini dan itu'-nya daripada 'sesuatu'-nya. Oleh karena itu, filsafat bukanlah pengulangan jawaban yang sama, melainkan sebuah penemuan terus-menerus mengenai proses penjelasan yang rasional. Justru karena itulah kita bisa belajar bertanya dan belajar sikap bertanya bersama filsafat.
Itulah sebabnya Kang Seon-hyeong mengatakan bahwa kenikmatan filsafat mirip dengan kenikmatan hidup. "Meskipun terkadang hidup kita terasa seperti pengulangan tak bermakna yang kembali ke titik semula, proses itu selalu menjadi proses pembelajaran yang baru. Kita bisa mempelajari kenikmatan itu melalui proses filsafat, yaitu menjawab apa yang ingin dijawab dan mengapa kita tidak bisa tidak berpikir untuk tujuan tertentu.”
Di era di mana perenungan mulai menghilang, apa yang bisa dilakukan 'filsafat' bagi kehidupan kita, dan bagaimana kita bisa melangkah maju melalui 'berfilsafat'? 'Kisah Filsafat Para Filsuf Perempuan' menarik jawaban atas pertanyaan ini dari kehidupan delapan filsuf tersebut. Para penulis membuktikan sendiri bahwa filsafat bukanlah pengetahuan tinggi yang terpisah dari kehidupan, melainkan sebuah proses berkelanjutan untuk memahami dunia dan merenungkan diri sendiri.