[비즈한국] Di tengah desakan Homeplus akan perlunya perpanjangan prosedur pemulihan perusahaan, pemegang saham utama MBK Partners mengguncang situasi dengan menyatakan kesediaan untuk mengucurkan dana operasional darurat sebesar 100 miliar won sebagai pembiayaan pemulihan (DIP). Meskipun secara permukaan tampak sebagai “suntikan 100 miliar won”, inti persoalannya adalah ke mana arah keputusan para pemangku kepentingan di persimpangan antara melanjutkan proses pemulihan atau membatalkan proses tersebut menuju likuidasi.

Pertanyaan yang diajukan oleh pengadilan sangat sederhana. Menjelang batas waktu persetujuan rencana pemulihan (4 Maret mendatang), pengadilan meminta pendapat para pemangku kepentingan utama mengenai apakah prosedur pemulihan harus dilanjutkan atau dibatalkan. Jika ingin dilanjutkan, pihak terkait diminta untuk menyerahkan rencana pendanaan dan rekomendasi administrator pihak ketiga yang baru. Meskipun 'perpanjangan' pemulihan dimungkinkan, pengadilan menegaskan bahwa mereka tidak melihat pada “niat untuk bertahan”, melainkan apakah “dana untuk bertahan” benar-benar tersedia.
'100 miliar' hanyalah awal... Pengadilan melihat realitas 'penggalangan dana 300 miliar'
Kerangka draf rencana pemulihan berbasis inovasi struktural yang diajukan Homeplus cukup jelas. Rencana tersebut mencakup penggalangan dana pemulihan (DIP) sebesar 300 miliar won untuk dana operasional darurat, penjualan unit bisnis supermarket (Homeplus Express), pemangkasan 41 toko yang tidak menguntungkan, dan efisiensi tenaga kerja.
Homeplus menekankan bahwa inovasi struktural bukan sekadar “rencana”, tetapi sedang berjalan. Mereka mengklaim bahwa pengurangan 3.474 karyawan hingga April akan menghasilkan penghematan biaya tenaga kerja sekitar 160 miliar won. Sebanyak 19 dari 41 toko yang ditargetkan untuk ditutup juga dijadwalkan akan menghentikan operasi tahun ini.
Sinyal MBK untuk mengucurkan 100 miliar won lebih awal lebih bersifat “pertolongan pertama” guna memenuhi jadwal tersebut. Terdapat laporan bahwa MBK telah menyampaikan pendapat bahwa mereka bersedia bekerja sama dalam “pergantian administrator” dan dapat mengucurkan 100 miliar won segera setelah perubahan dilakukan. Namun, 100 miliar won ini tidak serta merta menjamin perpanjangan. Yang ingin dilihat oleh pengadilan bukan sekadar langkah awal (100 miliar won), melainkan apakah penggalangan sisa dana hingga mencapai 300 miliar won benar-benar berjalan, dan apakah ada desain yang memastikan suntikan dana tersebut akan langsung mengarah pada normalisasi operasi.
'Jaminan kuat' Meritz sebagai pemegang hak jaminan... Menjadi variabel terbesar dalam pemulihan
Situasi pemulihan menjadi permainan “perpanjangan vs pembatalan” karena perbedaan laporan untung-rugi para pemangku kepentingan. Secara khusus, terdapat perbedaan persepsi waktu antara kreditor yang memegang jaminan dan pihak yang membutuhkan uang tunai di lapangan.
Menurut laporan, total utang Homeplus mencapai 2,6078 triliun won. Dari jumlah tersebut, 1,2396 triliun won dalam bentuk jaminan perwalian prioritas dipegang oleh Meritz Securities, Meritz Fire & Marine Insurance, dan Meritz Capital. Sebanyak 62 toko di seluruh negeri telah dijadikan jaminan dengan estimasi nilai mencapai sekitar 2,8 triliun won. Secara perhitungan sederhana, nilai jaminan melebihi total utang. Inilah alasan mengapa kemungkinan pelunasan pokok tetap ada bahkan jika proses pemulihan gagal dan berubah menjadi likuidasi.
Struktur ini secara paradoks membuat penggalangan dana pemulihan (DIP) menjadi lebih sulit. Jika pemulihan ingin dilanjutkan, diperlukan dana baru, namun bagi pemegang hak jaminan, skenario pemulihan melalui aset yang ada mungkin terasa lebih rasional daripada menambah risiko. Faktanya, di tengah pengamatan pasar bahwa “Meritz tetap bungkam”, muncul analisis bahwa langkah awal MBK merupakan tindakan “mengambil risiko terakhir”.
Di sisi lain, realitas di lapangan berbeda. Laporan menyebutkan bahwa akibat krisis likuiditas yang berkepanjangan, pembayaran gaji tidak berjalan normal, dan rak-rak toko mulai kosong karena keterlambatan pembayaran kepada pemasok. Semakin lama logika “membutuhkan waktu untuk pemulihan” dipertahankan, semakin besar paradoks di mana basis operasional runtuh selama masa tersebut, yang justru menurunkan peluang pemulihan.
Pada titik inilah “penggunaan” 100 miliar won menjadi krusial. Meskipun jumlahnya sama 100 miliar won, kecepatan normalisasi operasi toko, kelanjutan pasokan dari mitra, dan sikap negosiasi pemilik sewa akan berbeda tergantung pada apakah dana tersebut diprioritaskan untuk gaji, tagihan pemasok, atau sewa. Pada akhirnya, 100 miliar won yang disiapkan MBK haruslah merupakan “eksekusi yang memulihkan kepercayaan di lapangan”, bukan sekadar “dalih untuk perpanjangan”, agar dapat menarik dana berikutnya.
Situasi pemulihan Homeplus kini telah beralih dari sekadar permainan angka menjadi pertarungan struktural. Menjelang batas waktu 4 Maret, pengadilan akan memutuskan sekaligus apakah pembiayaan pemulihan (DIP) sebesar 300 miliar won dapat direalisasikan, apakah konsensus minimal untuk mendamaikan benturan kepentingan antara pemegang hak jaminan dan pihak di lapangan dapat dicapai, serta apakah perubahan tata kelola termasuk penggantian administrator akan membawa normalisasi yang nyata. Dana 100 miliar won dari MBK memang telah mengguncang situasi, namun hal itu belum menjamin 'perpanjangan' pemulihan.