주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Laporan K-Culture
Makna Cheongryeongpo di Yeongwol yang Diubah oleh Film 'The Man Living with the King'

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Tempat adalah ruang yang diberi makna oleh manusia. Sense of place (rasa tempat) mengacu pada perasaan atau kesan yang dirasakan sesaat di suatu tempat. Spirit of place (jiwa tempat) merujuk pada sistem makna atau nilai yang terbentuk atau tercipta dalam waktu yang relatif lebih lama. Placeness (keterpempatan) terbentuk ketika rasa tempat dan jiwa tempat ini meluas serta dibagikan secara sosial. Hal ini tidak hanya didasarkan pada pemberian nilai secara pribadi, tetapi juga pada kesadaran yang dibentuk secara kolektif di antara anggota masyarakat.

Biasanya, kita berpikir bahwa manusia memahami ruang dan memberinya nilai melalui pengalaman, namun makna suatu ruang tertentu juga bisa dibentuk kembali melalui penceritaan (storytelling). Penceritaan semacam itu sebagian besar direkonstruksi berdasarkan fakta masa lalu yang berkaitan dengan ruang tersebut. Salah satu cara penceritaan tersebut adalah melalui konten drama sejarah. Baru-baru ini, film 'The Man Living with the King' telah menjadikan ruang tertentu sebagai tempat yang menarik melalui penceritaan.

Film 'The Man Living with the King' mengubah Cheongryeongpo di Yeongwol, yang dulu dianggap sebagai ruang tragis, menjadi ruang yang menarik. Foto=Naver
Film 'The Man Living with the King' mengubah Cheongryeongpo di Yeongwol, yang dulu dianggap sebagai ruang tragis, menjadi ruang yang menarik. Foto=Naver

Cheongryeongpo di Yeongwol, Provinsi Gangwon, selama ini dianggap sebagai ruang tragis. Bisa dibilang itu adalah ruang 'dark tourism', tempat untuk mengunjungi lokasi kematian dan kesedihan. Munjong, putra dari Sejong yang memantapkan sistem pemerintahan, meninggal di usia muda, dan Danjong, putra Munjong, diusir dari takhta pada usia 12 tahun oleh ambisi pamannya, Suyang Daegun, lalu diasingkan dan akhirnya dihukum mati. Mengingat bahwa ini adalah lokasi kejahatan amoral di mana seorang paman membunuh keponakannya dengan kejam, sulit untuk mengunjungi Cheongryeongpo dengan perasaan senang.

Namun, 'The Man Living with the King' telah menghapus persepsi kolektif tersebut. Pertama, film ini keluar dari penokohan Danjong sebagai sosok yang pasif dan lemah. Berangkat dari fakta sejarah bahwa tidak ada seorang pun yang berani mengurus jenazah Danjong, sutradara Jang Hang-jun menyimpulkan bahwa Danjong pasti telah merencanakan sesuatu secara aktif. Itu berarti perlawanan terhadap Sejo. Ini adalah imajinasi yang rasional. Hasil dari imajinasi ini adalah Cheongryeongpo di Yeongwol kini memiliki keterpempatan yang aktif dan mandiri, bukan lagi keterpempatan akan tragedi yang pasif.

Sosok bernama Eom Heung-do semakin menonjolkan keterpempatan ini. Ia menunjukkan bahwa ini adalah ruang keadilan, yaitu ruang tempat dilakukannya hal-hal yang benar dan patut. Hal ini meyakinkan karena didasarkan pada catatan sejarah. Dalam 'Jongjong Sillok', tertulis bahwa "Seseorang bernama Eom Heung-do pergi ke sana, meratap, menyiapkan peti mati, dan memakamkan (Danjong). Orang-orang di daerah itu pun merasa sedih." Selain itu, 'Gukjo Inmulgo' dan catatan lain mencatat bahwa ia berkata, "Meskipun saya akan terkena bencana karena melakukan kebajikan, saya dengan tulus menerimanya (爲善被禍 誠甘樂之)." 'Hyeonjong Sillok' juga mencatat bahwa "Orang-orang hingga saat ini masih membicarakan kesetiaan Eom Heung-do."

Dalam konteks ini, film tersebut menekankan fakta bahwa Danjong dipulihkan haknya setelah 241 tahun. Hal ini menegaskan kembali semangat sejarah bahwa mereka yang melakukan hal benar pada akhirnya akan diakui dan dinilai dengan adil.

Film ini berkembang sebagai komedi, namun melampaui tragedi yang sudah direncanakan untuk memperlihatkan harapan. Fakta sejarah menembus bagian awal film yang ringan dan menyenangkan, menyisakan kesan yang mendalam. Film ini membuat kita berpikir tentang apa artinya melakukan apa yang bisa kita lakukan, bahkan ketika kita menghadapi ketidakberdayaan yang realistis. Inilah yang bisa disebut sebagai keterpempatan yang mencakup rasa tempat dan jiwa tempat yang kita rasakan sekarang saat memandang Yeongwol. Fakta bahwa banyak orang mengunjungi Yeongwol dan mengenang Danjong serta Eom Heung-do dapat dijelaskan dalam konteks ini.

Berita bahwa banyak orang mengunjungi Yeongwol menjadi motivasi bagi orang lain untuk menonton film tersebut. Bagaimana mungkin sebuah film bisa membuat orang benar-benar mengunjungi Cheongryeongpo di Yeongwol? Selain itu, parade komentar tentang suatu tempat menjadi semacam tantangan tersendiri. Saat penayangan film '12.12: The Day', terdapat tantangan detak jantung (heart rate challenge), dan saat film 'Exhuma' tayang, banyak orang ikut dalam barisan penonton karena penasaran dengan hal-hal 'mistis' yang keluar dari tanah.

Apa yang ditunjukkan oleh film 'The Man Living with the King' adalah keterpempatan dan rasa partisipasi pengunjung yang menyertainya. Ini lebih ideal karena merupakan ruang daerah yang memiliki akar dan catatan sejarah. Konten membuktikan bahwa ia tidak berakhir pada konsumsi itu sendiri, melainkan menjadi kesempatan untuk tumbuh bersama daerah tersebut melalui partisipasi dan pengalaman. K-Culture masih sangat kekurangan keterpempatan. Tidak hanya di daerah, bahkan jika diperluas ke seluruh Korea pun demikian. Bahwa penceritaan yang membuat orang ingin datang ke Korea lebih penting dari sebelumnya, sudah terlihat dalam kasus 'K-Daeheo'. Dalam arti itulah, 'The Man Living with the King' harus lebih diperhatikan.

Penulis Kim Heon-sik sejak usia 20-an telah menjelajahi atau mengarungi hutan fenomena budaya populer dengan harapan bahwa ada cara untuk membuat dunia menjadi lebih baik melalui budaya. Di abad ke-21 di mana kecerdasan buatan dan komputer kuantum berperan, ia masih menempuh jalan yang sama dengan keyakinan yang sama.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김헌식 대중문화평론가

필자 김헌식은 20대부터 문화 속에 세상을 좀 더 낫게 만드는 길이 있다는 기대감으로 특히 대중문화 현상의 숲을 거닐거나 헤쳐왔다. 인공지능과 양자 컴퓨터가 활약하는 21세기에도 여전히 같은 믿음으로 한길을 가고 있다.

writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지