[비즈한국] Hankook & Company, perusahaan induk dari Hankook & Company Group000240, telah mulai menata ulang garda depan manajemen setelah pengunduran diri Ketua Cho Hyun-bum dari posisinya sebagai direktur terdaftar. Perusahaan mengadakan rapat dewan direksi pada 20 Februari untuk mengumumkan pengunduran diri Ketua Cho dari posisi direktur terdaftar, dan untuk sementara waktu mengubah sistem kepemimpinan bersama menjadi sistem kepemimpinan tunggal di bawah CEO (Presiden) Park Jong-ho.

Alasan yang dikemukakan secara resmi adalah untuk 'meminimalkan beban dewan direksi'. Perusahaan menjelaskan, “Masalah keluarga baru-baru ini telah meluas ke isu operasional perusahaan, yang merusak kemurnian dan independensi dewan direksi. Ini adalah keputusan agar dewan direksi dapat fokus pada fungsi utamanya tanpa memberikan beban yang tidak perlu kepada perusahaan.” Namun, sulit untuk melihat pengunduran diri ini hanya sebagai penataan jabatan semata, karena risiko pribadi pemilik telah mulai merembet ke masalah 'legalitas operasional dewan direksi'.
Intinya adalah 'remunerasi direktur'. Pada bulan Januari tahun ini, pengadilan memutuskan bahwa terdapat cacat prosedural dalam proses penanganan agenda penetapan batas remunerasi direktur pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahunan Hankook & Company, dan memerintahkan pembatalan resolusi terkait. Isunya adalah ketentuan hukum komersial bahwa 'pihak yang memiliki kepentingan khusus terkait resolusi rapat umum tidak dapat menggunakan hak suara'. Pengadilan memutuskan bahwa keterlibatan Ketua Cho dalam agenda yang menentukan batas remunerasi dirinya sendiri adalah tindakan ilegal. Tergantung pada apakah keputusan ini berkekuatan hukum tetap, dan apakah dampaknya akan berujung pada keharusan pengembalian remunerasi yang diterima Ketua Cho tahun lalu (sekitar 4,7 miliar won menurut laporan media), isu 'remunerasi' ini dapat segera berkembang menjadi isu 'tanggung jawab'.
Selain itu, terdapat pula gugatan perwakilan pemegang saham. Solidaritas pemegang saham Hankook & Company dilaporkan telah mengajukan gugatan perwakilan pemegang saham dengan tuntutan agar Ketua Cho membayar sekitar 5 miliar won kepada perusahaan, dengan alasan bahwa ia menerima remunerasi dalam jumlah besar saat sedang dalam masa tahanan. Terdapat juga laporan bahwa Cho Hyun-sik, mantan penasihat Hankook & Company yang merupakan kakak laki-lakinya dan pernah terlibat dalam sengketa manajemen dengan Ketua Cho di masa lalu, turut berpartisipasi dalam solidaritas tersebut. Ketika konflik internal keluarga pemilik dan aksi pemegang saham minoritas bertemu pada 'agenda yang sama', perusahaan akan terjebak dalam struktur di mana RUPS dan dewan direksi terus-menerus menjadi titik awal gugatan hukum.
Pada titik inilah sifat risiko pemilik berubah. Jika risiko pemilik yang umum biasanya berpusat pada 'kasus pidana' atau 'reputasi', kasus Hankook & Company ini membawa 'risiko prosedur tata kelola' ke permukaan. Saat pemimpin perusahaan yang juga merupakan direktur eksekutif dan pemegang saham terbesar diklasifikasikan sebagai pihak yang memiliki kepentingan dalam agenda tertentu, titik serang hukum pun muncul, mulai dari penggunaan hak suara hingga keabsahan resolusi. Setelah keputusan pengadilan keluar, struktur yang sama mau tidak mau akan berulang pada RUPS berikutnya. Dengan kata lain, telah terbuka saluran yang menerjemahkan masalah pribadi pemilik menjadi 'cacat pada sistem perusahaan'.
Pengunduran diri Ketua Cho sebagai direktur terdaftar ditafsirkan sebagai upaya untuk mempersempit saluran tersebut. Setidaknya, kontroversi benturan kepentingan yang berasal dari status sebagai 'direktur' akan berkurang, dan dewan direksi dapat mencoba beroperasi secara normal dengan dalih 'pengelolaan yang berpusat pada dewan direksi', bukan karena 'risiko hukum pemimpin'. Penekanan perusahaan bahwa langkah ini adalah “tindakan untuk mencegah situasi di mana seluruh perusahaan terjebak dalam perang atrisi karena kontroversi prosedural, serta agar manajemen dan dewan direksi fokus pada pengambilan keputusan dan pelaksanaan bisnis yang sebenarnya,” juga berada dalam konteks yang sama. Namun, mundur dari jabatan direktur terdaftar bukan berarti risiko pemilik hilang. Selama Ketua Cho mempertahankan statusnya sebagai pemegang saham terbesar, isu RUPS dan tata kelola perusahaan akan terus menjadi 'risiko permanen' bagi perusahaan.
Pada akhirnya, poin yang menarik untuk diperhatikan bukanlah apakah 'mundur total' bisa dilakukan, melainkan apakah 'isolasi risiko' benar-benar dapat diwujudkan. Bahkan jika dewan direksi dijalankan dengan sistem direktur tunggal, isu tata kelola kemungkinan besar akan tetap menjadi agenda utama RUPS tahunan untuk beberapa waktu ke depan, mengingat solidaritas pemegang saham telah menjanjikan rekomendasi calon direktur independen, pengajuan proposal pemegang saham, dan tuntutan pertanggungjawaban.
Pengunduran diri ini menunjukkan adanya 'lingkaran setan' di mana risiko hukum pribadi pemilik merembet ke prosedur RUPS, struktur penentuan remunerasi, dan kontroversi independensi dewan direksi, yang kemudian kembali menjadi aksi pemegang saham dan gugatan hukum. Jika apa yang dikatakan Hankook & Company mengenai 'minimalisasi beban dewan direksi' bukan sekadar retorika, maka langkah selanjutnya bergantung pada bagaimana mereka merancang ulang struktur pengambilan keputusan dewan direksi, remunerasi, dan RUPS, bukan sekadar tentang posisi individu.