[비즈한국] Jerman, salah satu pasar streaming terbesar di Eropa, telah mengeluarkan aturan bagi platform OTT global seperti Netflix dan Amazon dengan pesan: "Uang yang dihasilkan di Jerman harus digunakan kembali untuk konten Jerman." Ini bukan sekadar slogan 'promosi budaya', melainkan kebijakan industri yang hampir menyerupai kuasi-pajak, karena besaran investasi dihitung berdasarkan pendapatan domestik platform yang nantinya dialokasikan untuk biaya produksi lokal. Mengingat debat mengenai 'kontribusi OTT' dan kewajiban investasi produksi domestik juga terus berulang di Korea, cara Eropa merancang sistem perhitungan ini kini kembali menyita perhatian.

Reuters pada tanggal 5 (waktu setempat), mengutip pernyataan Kementerian Kebudayaan Jerman, melaporkan bahwa pemerintah Jerman berencana mewajibkan platform streaming dan saluran TV untuk menginvestasikan kembali setidaknya 8% dari pendapatan tahunan mereka di Jerman ke dalam industri film dan video lokal. Dalam laporan yang sama, Reuters menyebutkan, "Sebuah opsi juga ditawarkan di mana jika platform dan penyiar memilih untuk berinvestasi lebih dari 12%, mereka akan dibebaskan dari beberapa regulasi rumit seperti kewajiban produksi dalam bahasa Jerman." Secara terpisah, pemerintah Jerman juga menyatakan rencana untuk meningkatkan dukungan publik seperti subsidi produksi film menjadi 250 juta Euro per tahun.
Latar belakang dari tindakan ini adalah tekanan biaya yang dialami lokasi produksi video di Jerman. Reuters melaporkan bahwa meskipun produksi di Jerman sempat tumbuh berkat permintaan dari OTT global, beban biaya produksi baru-baru ini meningkat karena kenaikan biaya tenaga kerja, energi, dan material. Pemerintah Jerman berargumen bahwa seiring besarnya keuntungan yang diperoleh platform di pasar Jerman, keuntungan tersebut harus mengalir kembali sebagai 'dana berkelanjutan' bagi ekosistem produksi lokal. Kementerian Kebudayaan menyebut skema ini sebagai "dorongan investasi nyata, bukan sekadar simbol", dengan tujuan untuk meningkatkan lapangan kerja, nilai tambah, dan kapasitas kreatif secara bersamaan.
Hal yang menarik adalah Jerman menggunakan 'tongkat regulasi' sekaligus 'wortel berupa pelonggaran aturan'. Struktur yang ditawarkan Jerman pada dasarnya mewajibkan reinvestasi 8%, namun jika mereka secara sukarela berinvestasi lebih dari 12%, beban regulasi tertentu akan dikurangi. Meski di permukaan terlihat seperti pilihan, bagi platform, ini pada akhirnya adalah perhitungan "apakah akan membayar lebih untuk mendapatkan regulasi yang lebih longgar, atau membayar lebih sedikit namun menanggung kewajiban yang lebih ketat". Oleh karena itu, industri menganggap ini sebagai mekanisme paksaan pembagian biaya produksi. Reuters juga memberikan contoh kewajiban produksi berbahasa Jerman sebagai item yang akan dibebaskan jika investasi mencapai 12%.
Namun, masih ada bagian yang 'kosong'. Reuters, mengutip media Jerman, melaporkan bahwa meskipun rancangan undang-undang terkait diperkirakan akan disetujui kabinet sebelum awal April 2026, belum jelas sanksi apa (seperti denda) yang akan diberikan jika platform tidak mematuhi aturan tersebut. Dengan kata lain, kerangka besarnya telah diungkapkan, namun sarana penegakannya kemungkinan besar akan dikonkretkan dalam proses legislasi mendatang.
Fakta bahwa Jerman meluncurkan langkah ini menunjukkan bahwa hal tersebut sejalan dengan tren di seluruh Eropa. Menurut Reuters, Jerman akan bergabung dengan negara-negara Eropa lain yang telah mewajibkan investasi produksi domestik bagi penyedia layanan streaming, termasuk Prancis dan Italia. Ini berarti Eropa mulai mengelola OTT bukan sekadar sebagai 'saluran distribusi konten', melainkan sebagai infrastruktur industri yang mengembalikan dana ke ekosistem produksi lokal.
Jika kebijakan ini benar-benar diterapkan, poin pengamatan berikutnya adalah ke mana OTT global seperti Netflix dan Amazon akan mengalihkan beban biaya tersebut. Jika kewajiban investasi menjadi struktur seperti biaya tetap, ada kemungkinan mereka akan menyerapnya melalui kenaikan biaya langganan atau penyesuaian tarif iklan. Di sisi lain, ada juga kemungkinan platform akan mengatur ulang portofolio produksi mereka di Eropa dengan fokus pada Jerman untuk menjalankan 'kewajiban investasi' secara efisien. Mengingat struktur di mana semakin besar pendapatan di pasar Jerman, semakin besar pula 'uang yang harus dihabiskan kembali di Jerman', platform harus mendesain ulang secara keseluruhan cara mereka bekerja sama dengan rumah produksi Jerman, perhitungan biaya produksi, hingga struktur hak cipta.
Bagi industri konten Korea, aturan ini bukan sekadar 'berita lokal Jerman'. Jika biaya produksi global OTT di Eropa dalam tingkat tertentu 'terkunci' (lock-in) di Jerman, muncul kekhawatiran bahwa persaingan dengan proyek Korea dalam kumpulan biaya produksi global yang terbatas akan menjadi semakin sengit. Sebaliknya, jika Jerman menjadi pasar investasi wajib, jalan bagi rumah produksi Korea untuk mendesain "konten tipe Korea yang memenuhi syarat investasi Jerman" melalui koproduksi dengan perusahaan Jerman, pendirian anak perusahaan/studio lokal di Jerman, serta penggunaan staf dan lokasi Eropa, juga akan terbuka.