[비즈한국] Hari Konstitusi kini kembali menjadi hari libur nasional resmi setelah 18 tahun. Keputusan ini dinilai bukan sekadar pemulihan hari libur biasa, melainkan sebuah langkah yang membawa pesan politik dan sosial untuk meninjau kembali makna konstitusi, serta berpotensi mengubah pola konsumsi masyarakat di musim liburan musim panas.
Kementerian Manajemen Personalia menyatakan bahwa revisi 'Undang-Undang tentang Hari Libur' yang menetapkan Hari Konstitusi (17 Juli) sebagai hari libur resmi telah disetujui dalam rapat kabinet pada tanggal 3. Dengan demikian, Hari Konstitusi kembali menjadi hari libur nasional mulai tahun ini. Ini merupakan pemulihan setelah 18 tahun sejak dihapuskan pada tahun 2008 karena adanya penyesuaian hari libur menyusul penerapan sistem lima hari kerja.
Hari Konstitusi adalah hari peringatan proklamasi Konstitusi Republik Korea pada 17 Juli 1948, dan ditetapkan sebagai hari nasional serta hari libur pada tahun 1949. Namun, seiring berjalannya waktu dan penyesuaian jumlah hari libur, muncul kritik bahwa makna historis dari penetapan konstitusi tersebut secara bertahap memudar. Pemerintah Lee Jae-myung memutuskan untuk mendorong penetapan kembali Hari Konstitusi sebagai hari libur sejak tahun lalu karena menganggap perlu untuk membangkitkan kembali nilai-nilai konstitusional seperti kedaulatan rakyat dan supremasi hukum.

Keputusan ini memiliki arti penting dari segi waktu. Hal ini terjadi setelah peristiwa darurat militer yang dinilai telah merusak ketertiban konstitusional secara serius, sehingga memicu perdebatan sosial yang tajam mengenai stabilitas tatanan konstitusi dan legitimasi pelaksanaan kekuasaan negara. Di tengah situasi di mana ketidakstabilan struktur pemerintahan dan pelaksanaan kekuasaan yang tidak berlandaskan konstitusi terungkap, pemulihan status Hari Konstitusi sebagai hari peringatan titik awal pembentukan konstitusi dianggap sebagai langkah simbolis yang signifikan.
Hal yang menarik perhatian adalah Hari Konstitusi tahun ini jatuh pada hari Jumat, sehingga menyambung dengan akhir pekan menjadi libur tiga hari. Pertengahan Juli merupakan awal dari musim liburan musim panas, sehingga pemulihan hari libur ini meningkatkan fleksibilitas jadwal liburan bagi masyarakat. Ini tentu menjadi kabar gembira yang menyenangkan bagi para pekerja.
Sektor ritel dan pariwisata tengah memantau apakah libur Hari Konstitusi ini akan menjadi pemicu percepatan permintaan liburan musim panas. Jika permintaan liburan yang biasanya menumpuk di akhir Juli hingga awal Agustus dapat terbagi, diharapkan ada efek peningkatan konsumsi yang meluas, tidak hanya pada industri penerbangan, akomodasi, dan rekreasi, tetapi juga pada perekonomian lokal. Perhatian juga tertuju pada sinergi apa yang akan tercipta antara pemulihan hari libur yang memiliki simbolisme dan efektivitas praktis ini terhadap kegiatan ekonomi.
Dengan revisi ini, kelima hari nasional besar—yaitu Hari Gerakan 1 Maret (Samiljeol), Hari Konstitusi, Hari Kemerdekaan (Gwangbokjeol), Hari Pendirian Negara (Gaecheonjeol), dan Hari Hangul—kini semuanya telah resmi menjadi hari libur nasional. Apakah pemulihan Hari Konstitusi ini bisa melampaui sekadar penambahan hari istirahat dan menjadi momentum untuk menegaskan kembali prinsip dasar tatanan konstitusional dan demokrasi, adalah hal yang patut dinantikan. Meskipun nilai sebuah konstitusi tidak dapat dirangkum hanya dengan peringatan satu hari, langkah ini setidaknya dinilai telah mengembalikan titik awal tersebut ke ranah publik.