[비즈한국] Tantangan selanjutnya bagi pemerintahan Lee Jae-myung, yang berhasil membawa era KOSPI 5000, adalah nilai tukar mata uang. Di tengah tren penguatan dolar yang sempat menembus level 1.400 won, pernyataan langsung Presiden Lee bahwa “dalam satu atau dua bulan ke depan, nilai tukar akan turun ke sekitar 1.400 won” telah memicu beragam interpretasi pasar mengenai arah kebijakan mata uang.
Pasca pernyataan Presiden mengenai nilai tukar, antusiasme pasar untuk membeli dolar mulai mendingin dan laju kenaikan nilai tukar tampak melambat. Gabungan dari pasar saham yang sangat kuat, masalah alokasi aset Dana Pensiun Nasional (NPS), dan sikap stabilisasi otoritas devisa semakin memperkuat narasi bahwa nilai tukar telah mencapai titik puncaknya.

Pernyataan Luar Biasa Presiden Tentang Nilai Tukar, Sinyal Tekad Kebijakan
Dalam konferensi pers tahun baru pada tanggal 21 lalu, menanggapi kekhawatiran bahwa ‘nilai tukar bisa naik hingga 1.500 won’, Presiden Lee mengatakan, “Menurut otoritas devisa, nilai tukar akan turun ke kisaran 1.400 won dalam satu atau dua bulan.” Sangat jarang seorang presiden secara spesifik menyebutkan target level dan waktu nilai tukar.
Biasanya, pemerintah dan Bank of Korea tidak secara terbuka memberikan target nilai tukar atau angka prediksi, meskipun mereka meluncurkan langkah-langkah stabilisasi mata uang. Hal ini dikarenakan penyebutan angka tertentu dapat memberikan sinyal yang salah kepada pasar. Namun, langkah Presiden untuk berbicara langsung ditafsirkan sebagai pengakuan bahwa situasi pasar valuta asing bukan sekadar volatilitas biasa, melainkan ‘risiko yang perlu dikelola’.
Faktanya, pernyataan ini diterima sebagai pesan kuat bahwa otoritas devisa tidak akan membiarkan kenaikan nilai tukar yang tajam, dan dinilai berhasil meredam psikologi ‘penimbunan dolar’ yang telah berlangsung selama beberapa waktu.
Berdasarkan data sektor keuangan, per tanggal 22, saldo deposito dolar di 5 bank besar (KB Kookmin, Shinhan, Hana, Woori, dan NH Nonghyup) berada di angka 632 miliar dolar, turun sekitar 3,8% dibandingkan akhir tahun lalu. Ini menandai berakhirnya kenaikan deposito dolar yang sempat terjadi selama tiga bulan berturut-turut.
Secara khusus, dana perusahaan yang mencakup sekitar 80% dari total deposito dolar menyusut dengan cepat. Hal ini diartikan sebagai hasil dari peningkatan penjualan dolar untuk merealisasikan keuntungan di tengah persepsi bahwa nilai tukar telah mendekati puncaknya. Memang, jumlah penukaran dolar ke won bulan ini jauh melampaui rata-rata tahun lalu, dan pada tanggal 21 saat Presiden berbicara, volume penukaran harian melonjak drastis. Di pasar valuta asing, sudah muncul evaluasi bahwa “dana yang bertaruh pada kenaikan mulai mengubah arah.”
Dana Pensiun Nasional (NPS), Variabel Saham dan Nilai Tukar… Fokus pada Pertemuan Komite Dana di Januari
Variabel lain yang mendapat perhatian bersama nilai tukar adalah Dana Pensiun Nasional (NPS). Secara tidak lazim, NPS mengadakan pertemuan Komite Pengelola Dana pada bulan Januari untuk meninjau strategi alokasi aset. Ini adalah pertama kalinya pertemuan diadakan sebelum penutupan pembukuan sejak tahun 2021.
Latar belakangnya adalah kekuatan luar biasa dari pasar saham domestik. Per tahun 2026, target porsi saham domestik NPS adalah 14,4%, dengan batas atas mempertimbangkan toleransi sebesar 19,4%. Namun, karena lonjakan KOSPI, porsi saham domestik telah melampaui target dan muncul spekulasi bahwa porsi tersebut mungkin mendekati batas atas.

Berdasarkan prinsip alokasi aset, jika porsi tersebut terlampaui, situasi mungkin mengharuskan penjualan saham domestik. Hal ini tidak hanya dapat meningkatkan volatilitas pasar saham, tetapi juga memengaruhi nilai tukar. Inilah alasan mengapa porsi investasi luar negeri dan strategi lindung nilai mata uang (hedging) NPS menjadi variabel utama di pasar valuta asing.
Sebelumnya, Komite Pengelola Dana menilai perlu adanya pengelolaan lindung nilai mata uang strategis yang fleksibel sesuai kondisi pasar, dan saat ini sedang menjalankan badan konsultasi serta tim gugus tugas terkait. Bank investasi global Goldman Sachs dalam laporan terbarunya juga menganalisis bahwa pelemahan won mungkin berada di fase terakhir, dengan menyebutkan kemungkinan peningkatan lindung nilai mata uang oleh NPS.
Otoritas Moneter dan Fiskal Sepakat… “Nilai Tukar Saat Ini Sudah Tinggi”
Persepsi otoritas tidak jauh berbeda. Wakil Perdana Menteri Ekonomi Koo Yun-cheol terkait nilai tukar tinggi menyatakan harapan akan stabilisasi pasar dengan mengatakan, “Kabar baik baru bisa muncul dari NPS.” Mengenai kemungkinan 1.400 won dalam satu atau dua bulan, ia mengatakan, “Kami akan melakukan upaya terbaik.”
Gubernur Bank of Korea Rhee Chang-yong juga menyatakan, “Dilihat dari model apa pun, level nilai tukar saat ini tinggi, dan jelas ada ruang besar untuk penyesuaian.” Namun, ia menghindari komentar spesifik mengenai instrumen kebijakan atau target nilai tukar tertentu.
Pasca pernyataan Presiden, aliran jangka pendek memang berubah, seperti melambatnya tren kenaikan nilai tukar dan mendinginnya antusiasme pembelian dolar. Muncul pula pengamatan bahwa variabel eksternal seperti kemungkinan intervensi pasar valuta asing AS-Jepang dan tanda-tanda penguatan yen dapat memberikan dampak positif bagi mata uang won.
Namun, apakah nilai tukar benar-benar akan stabil di awal 1.400 won bergantung pada berbagai faktor kompleks seperti lingkungan keuangan global, kebijakan moneter AS, dan variabel geopolitik. Pandangan hati-hati tetap ada, bahwa pernyataan Presiden lebih sebagai sinyal yang menunjukkan arah, dan sulit ditafsirkan sebagai janji yang menjamin level tertentu.