[비즈한국] Sekali lagi, mata dunia tertuju pada desa pegunungan Swiss, Davos. Namun, atmosfer Forum Ekonomi Dunia (WEF/Forum Davos) tahun ini sangat berbeda dari tahun lalu. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang mengedepankan inovasi Kecerdasan Buatan (AI) dan kerja sama global, forum tahun ini telah berubah menjadi arena di mana kepentingan geopolitik, keamanan, dan rantai pasokan berbenturan secara terbuka. Meskipun tema resminya adalah 'Semangat Dialog', pesan yang tersampaikan di Davos justru lebih condong pada penataan kembali kekuatan daripada pemulihan dialog. Di bawah kepemimpinan Presiden AS Donald Trump, Davos bukan lagi ruang diskusi untuk norma-norma ideal, melainkan telah menjadi 'medan perang ekonomi' di mana setiap negara sibuk mengamankan kepentingan nasionalnya.
Kontroversi Greenland dan Hegemoni AI... Sisi Gelap Tatanan Internasional yang Runtuh

Pemandangan paling mengejutkan dalam forum kali ini adalah pengumuman Presiden Trump untuk memulai kembali negosiasi akuisisi Greenland. Ia menegaskan bahwa Greenland sangat penting bagi keamanan nasional AS, dan melontarkan ancaman tanpa ragu, dengan mengatakan, "Saya tidak akan menggunakan kekuatan militer, tetapi jika saya menggunakannya, tidak ada yang bisa menghentikannya."
Menanggapi hal tersebut, Presiden Prancis Emmanuel Macron muncul dengan mengenakan kacamata hitam dan secara tajam mengkritik proteksionisme serta logika kekuatan AS sebagai 'Brutalization' (bruitalisasi). Presiden Macron membalas dengan mengatakan bahwa Eropa akan mempertahankan tatanan multilateral, meskipun harus menggunakan langkah-langkah seperti penjualan obligasi pemerintah AS atau instrumen anti-paksaan (ACI) yang dijuluki 'bazoka perdagangan'. Perdana Menteri Kanada Mark Carney turut angkat bicara. Carney dengan tegas menyatakan, "Tatanan internasional berbasis aturan yang telah melindungi kita selama beberapa dekade terakhir kini telah berakhir," dan mendesak agar negara-negara 'Middle Power' (kekuatan menengah) memperlengkapi diri dengan 'realisme berbasis nilai' untuk bertahan hidup masing-masing.
Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng menyoroti ketidakberartian tarif dan perang dagang, namun di saat yang sama, ia menyatakan tekad Tiongkok untuk tumbuh melampaui sekadar menjadi 'pabrik dunia' untuk menjadi 'pasar dunia', sebagai bentuk perlawanan terhadap tatanan yang berpusat pada AS.
Sesi yang paling gamblang menunjukkan karakteristik forum tahun ini adalah 'AI Power Play, No Referees (Perebutan Kekuasaan AI, Tanpa Wasit)'. Jika tahun lalu diskusi berfokus pada panduan etika dan kerja sama AI, tahun ini pandangan bahwa teknologi adalah keamanan nasional sekaligus senjata justru menjadi pusat perhatian.
CEO Palantir Alex Karp, dalam dialognya dengan CEO BlackRock Larry Fink, menekankan dampak destruktif AI terhadap pertahanan, ekonomi, dan struktur sosial. CEO Karp menekankan bahwa AI bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan 'senjata geopolitik' yang menentukan kelangsungan hidup negara dan perusahaan, bahkan menggantikan kebijakan tenaga kerja dan imigrasi. Ia juga memperingatkan bahwa sementara AS dan Tiongkok berhasil menerapkan AI dalam skala besar, Eropa menghadapi masalah struktural yang serius.
Perubahan agenda juga terlihat jelas dalam diskursus krisis iklim. Dalam pidatonya, Presiden Trump mencerca energi ramah lingkungan seperti pembangkit listrik tenaga angin sebagai 'Green New Scam' (penipuan hijau baru) dan mendeklarasikan kemandirian energi yang berpusat pada minyak, gas, dan tenaga nuklir. Hal ini menunjukkan bahwa sistem kerja sama netralitas karbon, yang hingga tahun lalu menjadi arus utama di Davos, kini mulai retak di hadapan tembok 'keamanan energi'.
Delegasi Korea Fokus pada Pembangunan Rantai Pasokan dan Kerja Sama Praktis

Di tengah fragmentasi geopolitik ini, para peserta dari Korea menunjukkan langkah yang praktis. Yeo Han-koo, Menteri Perdagangan yang hadir sebagai perwakilan pemerintah, mengatakan, "Sebagai negara kekuatan menengah (middle power) yang diperhatikan dunia, kami akan menunjukkan kepemimpinan global dan berkontribusi pada pemulihan tatanan ekonomi dan perdagangan internasional yang menghadapi tantangan kompleks." Menteri Yeo bertemu dengan pejabat perusahaan global seperti Amazon Web Services (AWS) dan Merck untuk menawarkan investasi di Korea, serta melakukan negosiasi di balik layar dengan pejabat AS mengenai isu-isu utama seperti tarif semikonduktor.
Para pemimpin bisnis juga menyusun strategi bertahan hidup di medan perang masing-masing. Ketua HD Hyundai, Chung Ki-sun, memperkuat kemitraan dengan Palantir untuk menanamkan AI ke dalam lokasi produksi demi mengamankan keunggulan teknologi. Ketua Korea Zinc010130, Choi Yun-beom, tampil sebagai pembicara dalam sesi 'Kemitraan Strategis di Sektor Mineral Utama' dan mengusulkan pembangunan rantai pasokan sumber daya yang stabil. Melalui artikel kontribusinya, Ketua Choi menekankan bahwa ekonomi sirkular adalah inti dari rantai pasokan energi bersih, dan menyatakan akan memantapkan posisi sebagai perusahaan pusat rantai pasokan global melalui proyek pabrik peleburan di AS. Wakil Ketua HS Hyosung487570, Cho Hyun-sang, juga berpartisipasi dalam 'Pertemuan Tata Kelola Kimia' untuk mendiskusikan strategi jangka menengah industri kimia dan rencana kerja sama rantai pasokan global.