주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Mil-Duck Telling
'Tiga Celah' Keamanan Nasional Kita Dilihat dari Kasus Drone Kaesong

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Keseluruhan fakta mengenai apa yang disebut sebagai 'Kasus Infiltrasi Drone Kaesong' yang terjadi pada 10 Januari lalu perlahan mulai terungkap. Saat jaringan investigasi TF gabungan semakin menyempit, para tersangka mencoba membenarkan tindakan mereka melalui wawancara media. Langkah selanjutnya yang tersisa adalah mengungkap keterlibatan kaki tangan dan proses perencanaan kejahatan secara mendetail.

Namun, terdapat kesalahan serius dalam cara pandang masyarakat dan media kita terhadap situasi saat ini. Kita terlalu terpaku pada latar belakang atau orientasi politik tersangka, sehingga melewatkan implikasi keamanan yang ditimbulkan oleh kejadian ini. Kasus ini bukanlah sekadar tindakan impulsif pemuda ekstrem kanan. Ini adalah insiden yang secara telanjang menunjukkan 'celah' keamanan Korea Selatan, yang membuktikan bahwa warga sipil hanya dengan teknologi komersial dan modal dapat memicu ketegangan militer antarnegara serta menciptakan situasi krisis.

Pada rapat kabinet tanggal 20 Januari, Presiden Lee Jae-myung menegur Menteri Pertahanan Ahn Gyu-baek dengan bertanya, "Apakah kalian tidak bisa mendeteksi drone yang menyeberang ke Utara?" Itu adalah teguran yang sangat menyakitkan. Militer, kepolisian, dan Kementerian Pertahanan telah menunjukkan kegagalan total dalam tiga dimensi: teknologi, kebijakan, dan penilaian dalam situasi ini.

Kasus infiltrasi drone Kaesong bukan sekadar penyimpangan individu, melainkan contoh kegagalan keamanan serius yang menunjukkan bahwa warga sipil dapat memicu ketegangan militer antarnegara hanya dengan teknologi drone komersial. Perbandingan ukuran drone dan burung elang. Foto=Disediakan oleh Kim Min-seok
Kasus infiltrasi drone Kaesong bukan sekadar penyimpangan individu, melainkan contoh kegagalan keamanan serius yang menunjukkan bahwa warga sipil dapat memicu ketegangan militer antarnegara hanya dengan teknologi drone komersial. Perbandingan ukuran drone dan burung elang. Foto=Disediakan oleh Kim Min-seok

Pertama, keterbatasan teknologi deteksi dan identifikasi. 'Skywalker Titan', yang dilaporkan jatuh di Kaesong dan Yeoju kali ini, adalah drone sayap tetap berukuran kecil dengan lebar 2,16 meter dan panjang 1,2 meter. Ukuran dan beratnya jauh lebih kecil dibandingkan drone militer yang dioperasikan oleh Komando Operasi Drone. Masalah yang lebih besar adalah kecepatan jelajah drone ini sekitar 60 km/jam, yang serupa dengan kecepatan terbang burung berukuran besar.

Radar pertahanan udara lokal (TRS-880K) yang ditempatkan di garis depan saat ini adalah aset deteksi yang baik, namun memiliki keterbatasan inheren dalam membedakan antara drone kecil dengan *radar cross-section* (RCS) yang sangat kecil dan burung pemangsa. Secara khusus, algoritma deteksi terhadap 'target yang melintas' (pass-through) yang bergerak dari wilayah kita menuju ke Utara, bukan dari depan, relatif lemah. Untuk mengatasinya, mutlak diperlukan penerapan radar deteksi generasi berikutnya yang menggunakan teknologi 'Micro-Doppler' untuk menganalisis pergeseran frekuensi baling-baling yang berputar, serta penempatan sistem deteksi terintegrasi yang menggabungkan sensor elektro-optik (EO/IR) secepat mungkin.

Kedua, kegagalan kebijakan drone yang timpang karena lebih condong pada serangan daripada pertahanan. Setelah insiden pelanggaran ruang udara oleh drone Korea Utara pada tahun 2022, militer membentuk Komando Operasi Drone dan menyatakan tekadnya untuk merespons. Namun, perhatian pemerintah dan militer hanya terfokus pada 'serangan', bukan 'pertahanan' (Anti-Drone). Faktanya, 'Pameran Anti-Drone Korea' yang diadakan November lalu menunjukkan realitas ini dengan jelas. Saat itu, Kementerian Pertahanan mencurahkan perhatian besar pada peningkatan kemampuan penggunaan ofensif seperti 'pembentukan 500.000 prajurit drone', namun pentingnya membangun sistem pertahanan dan intersepsi terhadap ancaman drone musuh relatif kurang mendapat perhatian.

Akibat arah kebijakan tersebut, perusahaan kecil dan menengah dalam negeri yang mengembangkan sistem anti-drone terus menderita karena masalah pendanaan kronis dan kurangnya kesempatan untuk pengujian. Memperluas kemampuan ofensif tanpa sistem pertahanan tidak ada bedanya dengan 'pergi ke medan perang hanya membawa tombak tanpa mengenakan baju zirah'. Sekarang pun, pemerintah harus menyadari bahwa industri anti-drone adalah elemen inti dari kekuatan pertahanan yang menjaga wilayah dan nyawa rakyat, serta harus melakukan perhatian strategis dan investasi yang berani.

Ketiga, absennya kemampuan investigasi keamanan dan kontra-intelijen. Kasus ini terasa lebih menyakitkan karena sebenarnya bisa dicegah sejak awal. Menurut liputan penulis, saat drone jatuh di Yeoju pada bulan November lalu, militer dan tim investigasi gabungan sebenarnya sudah mengidentifikasi tersangka, namun menutup kasus dengan kesimpulan 'tidak ada kecurigaan terkait keamanan nasional'. Ini adalah kesalahan penilaian yang jelas karena gagal membaca ancaman keamanan yang berubah.

Tugas 'kontra-subversi' pada masa Komando Keamanan Pertahanan dulunya berfokus pada pencegahan kudeta, namun konsep kontra-subversi modern harus mencakup provokasi 'zona abu-abu' yang terjadi di ranah sipil. Hal ini karena tindakan seperti kasus drone Kaesong, di mana warga sipil memicu ketegangan militer atau merencanakan teror menggunakan drone, itu sendiri merupakan ancaman yang mencoba menggulingkan negara. Otoritas kontra-intelijen harus menyelidiki secara menyeluruh dugaan investigasi yang tidak memadai pada kasus bulan November lalu dan menata ulang kemampuan investigasi untuk merespons ancaman keamanan jenis baru yang menyalahgunakan teknologi sipil.

Perkembangan teknologi drone tidak akan berhenti. Besok, narkoba dari Korea Utara bisa melintasi perbatasan dengan drone, atau senjata teroris yang disamarkan sebagai drone sipil bisa menyerang fasilitas penting negara. Respons 'menutup kandang setelah kehilangan sapi' sudah cukup terjadi kali ini saja. Pemerintah dan militer harus menjadikan kegagalan ini sebagai cermin untuk terlahir kembali menjadi 'pasukan kuat drone' sejati yang menyeimbangkan antara serangan dan pertahanan.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김민석 한국국방안보포럼 연구위원

김민석은 미국 워싱턴에 본사를 둔 에비에이션 위크(Aviation Week)의 한국 특파원이자 한국국방안보포럼(KODEF) 연구위원. 국방일보 등 여러 매체에서 방위산업·국방 전문기자로 활동하고 있다. ‘달란트 투자’, ‘신사임당’, ‘경제한방’, ‘증시각도기’, ‘와이스트릿’ 등 경제·시사 유튜브 채널과 KFN TV ‘리얼웨폰 K’, ‘디펜스 프라임’에 출연해 국제정치와 방위산업 현안을 진단해왔다. 저서로 방위산업 투자 안내서 ‘K-방산에 투자하라’가 있다.

writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지