[비즈한국] Melihat indikator ekonomi Korea akhir-akhir ini membuat orang mengernyitkan dahi. Harga saham naik tajam, nilai tukar won terhadap dolar juga ikut naik. Suku bunga pun enggan turun. Biasanya, saat ekonomi membaik, harga saham akan naik dan mata uang lokal akan menguat, namun fenomena tiga hal bergerak ke arah yang sama secara bersamaan seperti saat ini jarang terjadi. Oleh karena itu, situasi saat ini sulit dijelaskan dengan rumus sederhana 'pemulihan ekonomi'. Hal ini karena ekonomi secara keseluruhan tidak membaik secara merata, melainkan lebih mirip dengan fase transisi di mana elemen ketidakpastian menumpuk di atas ledakan industri tertentu. Angka-angkanya memang terlihat bagus, tetapi kita perlu menelaah latar belakang di balik angka tersebut.

Dalam pengumuman 'Tren Ekonomi Terkini Januari' pada tanggal 16, pemerintah mendiagnosis bahwa “permintaan domestik seperti konsumsi mulai membaik, dan arus pemulihan ekonomi berlanjut berkat kinerja ekspor yang kuat di sektor semikonduktor.” Faktanya, konsumsi swasta pada kuartal ketiga tahun lalu meningkat 1,3% dibanding kuartal sebelumnya, menunjukkan tren kenaikan yang berarti untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ekspor bulan Desember juga mencatat pertumbuhan dua digit berkat semikonduktor, dan neraca perdagangan mencatatkan surplus selama 11 bulan berturut-turut. Jumlah orang yang bekerja juga meningkat lebih dari 160.000 dibandingkan tahun sebelumnya. Jika hanya melihat indikatornya, penilaian bahwa 'titik terendah telah terlewati' bisa dimengerti.
Namun, perlu diteliti apakah angka-angka ini menjelaskan seluruh suasana pasar keuangan saat ini. Konsumsi memang rebound berdasarkan basis kuartalan, namun arus bulanan masih fluktuatif. Penjualan ritel pada November tahun lalu turun lebih dari 3% dibandingkan bulan sebelumnya, dan semua barang kebutuhan pokok mengalami penurunan. Pemerintah pun melihat bahwa volatilitas bulanan tinggi karena efek basis atau dampak liburan yang panjang. Meskipun ada sinyal bahwa konsumsi mulai bangkit, masih terlalu dini untuk menyebutnya sebagai pemulihan yang stabil.
Jika melihat kenaikan harga saham, kesenjangan ini menjadi semakin jelas. Pusat kenaikan KOSPI baru-baru ini bukanlah pemulihan permintaan domestik, melainkan ledakan semikonduktor akibat penyebaran AI. Seiring dengan persaingan AI generatif yang semakin sengit, perusahaan Big Tech global meningkatkan pusat data dan mulai mengamankan semikonduktor meskipun dalam situasi suku bunga tinggi. Bisa dibilang, permintaan infrastruktur AI tumbuh secara mandiri, terlepas dari arus ekonomi secara umum. Dalam proses ini, permintaan semikonduktor berperforma tinggi seperti High Bandwidth Memory (HBM) melonjak, dan manfaatnya terfokus pada perusahaan semikonduktor besar seperti Samsung Electronics005930 dan SK Hynix00660. Seiring naiknya harga saham perusahaan-perusahaan ini, indeks secara keseluruhan terdorong naik, menciptakan efek ilusi seolah-olah ekonomi secara keseluruhan membaik.
Nilai tukar adalah sisi lain dari struktur yang aneh ini. Kenaikan nilai tukar won-dolar lebih disebabkan oleh faktor eksternal seperti penguatan dolar, ketidakpastian geopolitik, dan kebijakan perdagangan AS, daripada karena ekonomi Korea yang tiba-tiba memburuk. Pelemahan won menguntungkan perusahaan besar semikonduktor yang pendapatannya dalam dolar, sehingga menopang harga saham. Situasi aneh tercipta di mana nilai tukar menjadi sinyal ketidakpastian sekaligus memberikan tenaga pada harga saham semikonduktor. Namun, efek ini terbatas pada beberapa perusahaan saja. Bagi perusahaan domestik dan konsumen, kenaikan nilai tukar kembali menjadi beban harga barang.
Suku bunga memberikan pesan lain. Tingkat suku bunga saat ini dipertahankan bukan karena ekonomi sedang sangat baik. Otoritas moneter lebih mementingkan stabilitas daripada pertumbuhan. Jika suku bunga diturunkan, nilai tukar bisa naik lebih jauh, yang dapat memicu inflasi. Sebaliknya, jika suku bunga dibiarkan atau dinaikkan, beban rumah tangga dan wiraswasta akan meningkat. Akhirnya, suku bunga saat ini lebih merupakan pilihan defensif untuk mengelola ketidakpastian daripada karena “ekonomi sedang baik”.
Dalam proses ini, jarak antara pasar aset dan ekonomi riil semakin menjauh. Industri semikonduktor dan AI memang berada di pusat permintaan dunia, namun ekonomi yang dirasakan oleh banyak wiraswasta, usaha kecil dan menengah, serta rumah tangga masih terasa sulit. Indikator lapangan kerja secara lahiriah terlihat bagus, namun jumlah pengangguran dan tingkat pengangguran sama-sama meningkat, sehingga ketidakstabilan kualitas kerja tetap ada. Investasi konstruksi pulih sedikit, namun dengan lebih dari 290.000 rumah yang tidak terjual setelah selesai dibangun, sulit untuk mengharapkan pemulihan yang nyata.
Penilaian pemerintah dan analisis pasar tidak sepenuhnya bertolak belakang. Namun, keduanya melihat realitas yang sama dari posisi yang berbeda. Pemerintah menekankan bahwa fase terburuk telah terlewati di semester pertama, sementara pasar merenungkan seberapa luas dan lama pemulihan ini akan berlangsung. Fenomena naiknya harga saham, nilai tukar, dan suku bunga secara bersamaan adalah hasil dari cerminan kedua pandangan tersebut.
Oleh karena itu, kata kunci yang menjelaskan ekonomi Korea saat ini lebih dekat dengan 'asimetris' daripada 'pemulihan'. Konsumsi menunjukkan tanda-tanda bangkit namun masih tidak stabil, ekspor terpaku pada semikonduktor, dan lapangan kerja serta konstruksi masih membawa sisi lemah. Harga saham sudah mencerminkan ledakan semikonduktor AI terlebih dahulu, namun nilai tukar dan suku bunga tidak sepenuhnya mempercayai optimisme tersebut. Itulah sebabnya, meski angka-angka berbicara tentang pemulihan, jalan yang harus ditempuh masih jauh dan sulit.