[비즈한국] Samsung Electronics005930 kembali menjadi pusat perhatian pasar. Belakangan ini, kalangan sekuritas tidak ragu menggunakan frasa “Samsung is back” saat membahas kinerja kuartal ke-4 Samsung Electronics. Laba operasional sebesar 20 triliun won memiliki makna yang lebih dari sekadar angka. Kebangkitan ini ditafsirkan bukan sebagai peristiwa sekali jalan, melainkan sinyal bahwa struktur profit industri semikonduktor sedang berubah secara mendasar.
Kunci dari kinerja kali ini tentu saja adalah semikonduktor, khususnya memori. Diperkirakan harga DRAM pada kuartal ke-4 melonjak sekitar 40% dibandingkan kuartal sebelumnya, sementara NAND naik lebih dari 20%. Fakta bahwa kenaikan harga, bukan peningkatan volume pengiriman, yang mendorong kinerja menunjukkan bahwa lingkungan pasokan dan permintaan memori telah sepenuhnya beralih menjadi berpusat pada pemasok. Hana Securities menyebut fenomena ini sebagai “harga memori yang brutal.” Artinya, pasar telah beralih ke fase di mana pelanggan server lebih memprioritaskan ketersediaan barang daripada negosiasi harga.

Tren ini diperkirakan akan semakin terlihat jelas tahun ini. Perusahaan sekuritas utama secara kompetitif menaikkan perkiraan laba operasional Samsung Electronics untuk tahun ini. Daishin Securities memproyeksikan laba operasional tahun ini sebesar 150 triliun won dan menaikkan target harga menjadi 180.000 won, sementara KB Securities memperkirakan 145 triliun won dan menaikkan target harga menjadi 200.000 won. Angka ini jauh melampaui dua kali lipat laba operasional tahun 2018 (sekitar 59 triliun won), yang dianggap sebagai puncak supercycle semikonduktor. Inilah alasan mengapa muncul evaluasi bahwa Samsung bukan sekadar pulih dari siklus industri, melainkan telah memasuki fase baru dengan kekuatan profit yang berbeda.
Hal yang secara krusial membedakan siklus kali ini dengan masa lalu adalah kecerdasan buatan (AI). Samsung Securities menganalisis bahwa “pusat infrastruktur AI telah beralih ke memori.” Seiring dengan meluasnya layanan AI generatif dan penalaran, efisiensi pemrosesan data menjadi sama pentingnya dengan kemampuan komputasi, dan dalam prosesnya, permintaan akan DRAM serta High Bandwidth Memory (HBM) meningkat secara eksplosif.
Pandangan mengenai daya saing HBM, yang selama ini menjadi kekhawatiran pasar, juga mulai berubah. iM Securities menilai bahwa daya saing teknologi Samsung Electronics sebenarnya telah memasuki tahap pemulihan, dengan menyatakan, “Sangat mungkin HBM4 Samsung Electronics akan dikirimkan mulai akhir kuartal pertama tahun ini.”
Selain itu, fakta bahwa para hyperscaler utama menuntut kontrak pasokan jangka panjang hingga 3 tahun juga patut diperhatikan. Hal ini mengisyaratkan kemungkinan berkurangnya volatilitas harga ekstrem yang selama ini menghantui industri memori secara struktural.
Namun, tidak semua divisi bisnis ikut merasakan keuntungan. Lonjakan harga memori juga menjadi ‘pedang bermata dua’ di dalam Samsung Electronics. Divisi set seperti smartphone dan peralatan rumah tangga menghadapi beban biaya komponen yang meningkat dengan cepat.
Menurut iM Securities dan Heungkuk Securities, porsi DRAM dalam biaya produksi PC dan smartphone saat ini adalah sekitar 9,9%, jauh melebihi rata-rata historis sebesar 5,4%. Faktanya, profitabilitas divisi MX (Mobile eXperience) pada kuartal ke-4 berada di bawah ekspektasi pasar. Ini adalah struktur di mana laba yang dihasilkan oleh sektor memori sebagian diimbangi oleh sektor set produk.
Meskipun demikian, pandangan pasar tetap positif. Hal ini dikarenakan leverage laba pada divisi memori telah tumbuh ke tingkat yang tidak dapat dibandingkan dengan masa lalu.
Harga saham Samsung Electronics saat ini berada pada kisaran Price-to-Book Ratio (PBR) 1,5–1,8 kali berdasarkan perkiraan kinerja tahun ini. Dibandingkan dengan pesaing memori global seperti SK Hynix atau Micron yang menerima valuasi 3–5 kali lipat, saham ini dinilai masih berada di zona diskon.
KB Securities menilai Samsung Electronics sebagai “pilihan paling menarik di antara perusahaan DRAM global.” Meskipun potensi koreksi akibat lonjakan harga dalam jangka pendek tidak dapat dikesampingkan, tren besar berupa perluasan permintaan struktural yang dipimpin oleh AI dan penataan ulang struktur laba yang berpusat pada memori tampaknya tidak akan mudah terpatahkan.
Terdengar kabar bahwa bahkan orang-orang yang tidak tertarik pada saham pun mulai membeli Samsung Electronics. Ada gurauan bahwa bukankah saatnya untuk berhati-hati. Namun, jika proyeksi laba operasional 150 triliun won tahun ini terwujud, harga saham di kisaran 130.000 won saat ini kemungkinan besar akan diingat di masa depan bukan sebagai ‘harga yang terlalu mahal untuk dibeli’, melainkan ‘area di mana kita bisa membeli dengan cukup murah’. Samsung Electronics kini sekali lagi memasuki fase pembuktian diri melalui angka-angka.