[비즈한국] Jika dalam beberapa tahun terakhir 'game changer' yang mengubah wajah perang modern adalah pesawat nirawak (UAV/drone) yang mendominasi langit, maka pada tahun 2026 ini, medan perang baru yang menarik perhatian otoritas militer di seluruh dunia adalah 'darat'. Protagonisnya adalah robot militer yang menjelajahi medan perang, yaitu kendaraan darat nirawak (UGV/Unmanned Ground Vehicle).
Sebenarnya, sejarah UGV lebih panjang daripada drone. Awalnya dapat ditelusuri ke 'Goliath', robot pengebom bunuh diri beroda rantai yang dikembangkan oleh Nazi Jerman selama Perang Dunia II. Namun, karena keterbatasan teknologi saat itu, robot ini harus menggunakan kendali kabel, serta mengalami kesulitan dalam menjaga visibilitas dan kecepatan yang lambat sehingga tidak memberikan hasil signifikan di medan perang. Meskipun ratusan jenis robot militer muncul setelahnya, mereka hanya digunakan untuk tugas-tugas terbatas seperti penjinakan bahan peledak (EOD/Explosive Ordnance Disposal). Berbeda dengan ruang udara yang datar, lingkungan darat yang penuh hambatan membuat tantangan navigasi otonom dan pemeliharaan komunikasi menjadi jauh lebih tinggi.
Namun, kematangan teknologi Revolusi Industri ke-4 telah sepenuhnya mengubah tren ini. Perkembangan pesat dalam navigasi otonom, kecerdasan buatan (AI), dan teknologi baterai berdensitas tinggi telah meningkatkan peran UGV dari sekadar alat pendukung menjadi aktor utama dalam pertempuran.

Hal yang menarik adalah bahwa negara yang memimpin industri mutakhir ini bukanlah Amerika Serikat atau Tiongkok, melainkan Estonia, sebuah negara kecil di Eropa Utara. 'THeMIS' yang dikembangkan oleh Milrem Robotics saat ini dianggap sebagai UGV multiguna paling sukses. Sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 2015, THeMIS telah diekspor ke lebih dari 16 negara dan menunjukkan nilainya dalam perang di Ukraina. Robot ini mengangkut amunisi dan perbekalan, mengevakuasi tentara yang terluka, bahkan melakukan misi pengawasan dan pengintaian, sehingga meningkatkan kemampuan bertahan hidup para tentara secara signifikan. Bahkan, militer Rusia sampai mengeluarkan 'sayembara terbuka' dengan hadiah sekitar 23 juta won jika berhasil menangkap THeMIS.
Beberapa pihak sempat meragukan apakah UGV akan efektif di wilayah dengan medan yang berat dan sering mengalami gangguan komunikasi, tidak seperti dataran terbuka di Ukraina. Namun, konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja yang terjadi tahun lalu menjadi momen krusial yang menepis kekhawatiran tersebut.
Pada bulan Mei lalu, saat terjadi sengketa perbatasan laut, militer Thailand telah menunjukkan unjuk kekuatan dengan mengerahkan fregat buatan Korea Selatan, 'Bhumibol Adulyadej'. Dalam sengketa perbatasan darat yang menyusul, mereka dengan berani mengoperasikan kekuatan nirawak. Angkatan Darat Thailand mengerahkan robot tempur 'D-Iron' ke medan pertempuran, yang merupakan modifikasi mandiri dengan menggabungkan sasis THeMIS buatan Estonia dengan meriam otomatis buatan AS dan komponen buatan Australia.
Pada tanggal 24 Juli, saat awal pertempuran, robot tempur militer Thailand menggunakan meriam otomatis 30mm untuk menyerang pos pengamatan dan kendaraan lapis baja militer Kamboja dengan presisi. Militer Thailand berhasil menduduki posisi kunci tanpa korban jiwa di pihak sendiri dengan menempatkan robot nirawak di garis depan sebelum mengerahkan pasukan. Saat ini, bahkan setelah gencatan senjata, militer Thailand terus menugaskan robot untuk misi patroli perbatasan berisiko tinggi guna mengatasi masalah penurunan sumber daya manusia dan keselamatan tentara sekaligus. Ini adalah contoh yang membuktikan bahwa UGV dapat berfungsi dengan baik tidak hanya di dataran, tetapi juga di daerah pegunungan dan hutan.
Republik Korea juga bergerak cepat mengikuti tren ini. Untuk merespons penurunan jumlah tentara akibat krisis demografi dan meminimalkan korban jiwa, militer kita menjadikan integrasi kekuatan gabungan berawak dan nirawak serta penerapan teknologi AI sebagai pilar utama inovasi pertahanan.
Hanwha Aerospace012450 menandatangani nota kesepahaman (MOU) dengan Milrem Robotics pada Februari 2025, dan memperkenalkan model Korea 'THeMIS-K' pada 'Seoul International Aerospace & Defense Exhibition (ADEX 2025)' yang diadakan pada bulan Oktober. Ini adalah model turunan yang dioptimalkan untuk medan pegunungan dan lingkungan operasi Korea, dengan menggabungkan sasis THeMIS yang teruji dengan Sistem Stasiun Senjata Terkendali Jarak Jauh (RCWS) yang dikembangkan sendiri oleh Hanwha serta sensor dan sistem komunikasi buatan Korea.
Sama seperti revolusi AI di industri sipil yang mengarah pada revolusi robotika, 'nirkendaraan' di bidang pertahanan adalah tren yang tak terelakkan. Meskipun memulai agak terlambat, potensi industri pertahanan Korea yang memiliki kapasitas manufaktur dan teknologi IT kelas dunia sangatlah besar. Kita nantikan peran robot militer buatan dalam negeri yang akan segera berpatroli di sekitar pagar perbatasan, melumpuhkan musuh dalam keadaan darurat, dan melindungi nyawa tentara kita.