[비즈한국] Bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Lee Jae-myung ke Tiongkok, para pebisnis dari Korea dan Tiongkok berkumpul dalam skala besar untuk pertama kalinya dalam 9 tahun. 'Forum Bisnis Korea-Tiongkok' yang diselenggarakan di Diaoyutai State Guesthouse, Beijing, pada tanggal 5 (waktu setempat), dinilai bukan sekadar acara pertukaran ekonomi biasa, melainkan sinyal resmi pertama untuk mengukur kemungkinan pelonggaran atau pencabutan 'Hallyeong (larangan konten budaya Korea)' yang telah berlangsung sejak tahun 2016. Secara khusus, kehadiran para pemimpin industri konten budaya seperti hiburan dan gim dalam forum ini memicu ekspektasi yang berkembang pesat bahwa pasar budaya dan konten Korea-Tiongkok yang sempat membeku akan segera terbuka kembali.

Pemimpin Perusahaan Hiburan dan Gim Berada di 'Garis Depan'... Menargetkan Pelonggaran Hallyeong
Dari pihak Korea, delegasi ekonomi yang terdiri dari 416 orang dari 161 perusahaan, termasuk pimpinan dari 4 grup besar seperti Ketua Samsung Electronics Lee Jae-yong005930, Ketua SK Group Chey Tae-won, Ketua Hyundai Motor Group Euisun Chung005380, dan Ketua LG Group Koo Kwang-mo, turut hadir dengan dukungan Korea Chamber of Commerce and Industry.
Dari pihak Tiongkok, sekitar 600 orang hadir, termasuk Wakil Perdana Menteri bidang Ekonomi He Lifeng, Ketua CCPIT Ren Hongbin, dan sekitar 200 pengusaha lainnya. Tokoh-tokoh penting dari industri IT dan teknologi canggih yang memiliki hubungan kerja sama erat dengan Korea, seperti Ketua CATL Zeng Yuqun, Wakil Ketua Tencent Liu Yong, dan Ketua TCL Li Dongsheng, juga hadir untuk mendiskusikan langkah-langkah kerja sama bisnis yang nyata.
Hal yang paling menarik perhatian dalam forum kali ini adalah perubahan komposisi delegasi ekonomi. Beranjak dari fokus tradisional pada manufaktur, pemimpin industri hiburan dan gim seperti CEO SM Entertainment Jang Cheol-hyuk041510 dan CEO Krafton Kim Chang-han259960 masuk dalam daftar delegasi. Analisis menunjukkan bahwa ini adalah langkah strategis yang ditujukan untuk pencabutan Hallyeong yang sebenarnya dan pembukaan kembali pasar budaya serta konten.
Presiden Lee dalam pidato utamanya juga menyatakan, "Di atas fondasi manufaktur yang kokoh, kita harus menambahkan warna dan narasi berupa layanan dan konten," seraya mendefinisikan industri budaya dan konten seperti film, musik, gim, dan olahraga sebagai 'terobosan baru' dalam kerja sama ekonomi Korea-Tiongkok.
Presiden Lee juga mengusulkan 'semangat Byeollando', pelabuhan perdagangan internasional pada era Goryeo, sebagai model masa depan kerja sama Korea-Tiongkok. Sembari menyebutkan contoh para leluhur yang tidak menghentikan pertukaran meski di tengah konflik diplomatik, ia mengungkapkan visi untuk memulihkan sepenuhnya pertukaran ekonomi di tingkat swasta.
Selain itu, ia menekankan bahwa teknologi kecerdasan buatan (AI) akan menjadi instrumen utama yang akan memperdalam kerja sama di seluruh sektor manufaktur dan jasa, serta meminta agar kedua negara memaksimalkan saling melengkapi antar industri keunggulan komparatif yang dimiliki.

"Tetangga yang Tidak Bisa Dipisahkan", Lebih dari 10 MOU Terkait Rantai Pasokan dan Pariwisata Akan Ditandatangani
Para pimpinan perusahaan besar juga menunjukkan ekspektasi terhadap pemulihan lingkungan bisnis seiring dengan membaiknya hubungan Korea-Tiongkok. Ketua Hyundai Motor Group Euisun Chung saat bertemu dengan media mengatakan, "Meskipun volume penjualan dan produksi di Tiongkok banyak berkurang, kami berencana untuk meningkatkan kembali produksi dan penjualan dengan sikap rendah hati," seraya menambahkan, "Jika hubungan membaik berkat KTT kali ini, ini akan sangat membantu Hyundai."
Ketua SK Group Chey Tae-won dalam pidato pembukaannya menekankan semangat 'Qiu Tong Cun Yi' (mencari kesamaan sambil menghargai perbedaan) dan berharap agar forum ini menjadi kesempatan bagi para pebisnis kedua negara untuk bersama-sama mencari solusi pertumbuhan yang konkret.
Pihak Tiongkok pun merespons positif. Wakil Perdana Menteri He Lifeng menekankan, "Tiongkok dan Korea adalah tetangga yang tidak bisa dipisahkan," seraya menambahkan bahwa "diperlukan upaya bersama agar kerja sama ekonomi dan perdagangan berkembang ke tingkat yang lebih tinggi." Ia juga berharap hubungan kedua negara akan bergerak maju menuju hubungan yang penuh kepercayaan dan kemajuan, serta memperkirakan bahwa sekitar 400 perusahaan Tiongkok akan menemukan peluang kerja sama baru melalui forum ini.
Pemerintah berencana untuk mengaitkan forum ini dengan KTT Korea-Tiongkok untuk menghasilkan capaian ekonomi yang nyata. Direktur Kantor Keamanan Nasional Kepresidenan, Wi Sung-lac, dalam pengarahan pada tanggal 2 menjelaskan bahwa pihaknya sedang mempersiapkan lebih dari 10 Nota Kesepahaman (MOU) di bidang-bidang yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat kedua negara, seperti investasi rantai pasokan, ekonomi digital, ventura/startup, lingkungan/perubahan iklim, serta pertukaran antarmanusia dan pariwisata. Di atas segalanya, perhatian tertuju pada hasil akhir KTT mendatang, yakni apakah pertemuan pebisnis skala besar di Beijing yang kembali digelar setelah 9 tahun ini dapat mengarah pada pemulihan ekonomi dan pembukaan pasar yang substantif.