주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Investasi Paling Umum
"KOSPI melonjak meski ada serangan udara AS ke Venezuela?" Formula investasi dalam membaca krisis

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Segera setelah tahun baru 2026 dimulai, berita yang membuat pasar keuangan dunia tegang pun tersiar. Hal ini terjadi menyusul peristiwa geopolitik yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni serangan udara Amerika Serikat ke Venezuela dan penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada 3 Januari waktu setempat. Kekhawatiran akan munculnya fase 'risk-off', di mana minat beralih ke aset aman (safe haven), menyebar dengan cepat.

Namun, reaksi pasar ternyata lebih cepat dari perkiraan. Bahkan setelah berita serangan udara tersebut tersiar, indeks KOSPI menembus angka 4.400 untuk pertama kalinya dalam sejarah pada tanggal 5, dan pasar saham global pun memasuki fase 'mencerna peristiwa' alih-alih diliputi ketakutan. Hal ini karena pandangan pasar terhadap guncangan geopolitik kini lebih fokus pada angka dan struktur, bukan rasa takut. Hana Securities menilai situasi ini dengan menyatakan, "Besar kemungkinan ini hanya akan menjadi risiko sesaat (event-based risk) dan bukan guncangan struktural." Alasan utamanya adalah pengaruh terbatas Venezuela dalam pasar minyak global.

Meskipun ada guncangan geopolitik berupa serangan udara AS ke Venezuela, pasar keuangan fokus pada struktur dan angka, bukan ketakutan, dan mencernanya sebagai peristiwa jangka pendek. Terdapat penilaian bahwa guncangan terhadap harga minyak dan pasar aset kemungkinan terbatas di tengah porsi produksi dan ekspor minyak Venezuela yang terbatas serta kondisi kelebihan pasokan global. Foto=AI Generatif
Meskipun ada guncangan geopolitik berupa serangan udara AS ke Venezuela, pasar keuangan fokus pada struktur dan angka, bukan ketakutan, dan mencernanya sebagai peristiwa jangka pendek. Terdapat penilaian bahwa guncangan terhadap harga minyak dan pasar aset kemungkinan terbatas di tengah porsi produksi dan ekspor minyak Venezuela yang terbatas serta kondisi kelebihan pasokan global. Foto=AI Generatif

Venezuela adalah negara yang memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia. Oleh karena itu, berita tentang tindakan militer di ibu kota Caracas dengan mudah memicu kekhawatiran akan lonjakan harga minyak internasional. Faktanya, dengan meningkatnya risiko geopolitik, harga minyak sempat mendapat tekanan kenaikan jangka pendek sebesar 5-10%.

Namun, analisis yang dominan menyatakan bahwa kecil kemungkinan tren kenaikan tersebut akan berlangsung lama. Lee Jae-man, peneliti di Hana Securities, menjelaskan, "Meskipun Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, sanksi jangka panjang dan infrastruktur yang menua telah membuat produksinya anjlok menjadi sepertiga dari puncak masa lalunya yang mencapai 3 juta barel. Hingga akhir tahun lalu, volume ekspornya tercatat sekitar 900 ribu hingga 1 juta barel, yang berarti porsinya di pasar global tidak signifikan."

Hal yang lebih penting adalah struktur pasar minyak global saat ini. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pasar minyak global tahun ini berada dalam kondisi kelebihan pasokan sekitar 3,8 juta barel per hari. Ditambah dengan pengendalian pasokan oleh OPEC+ dan pelambatan permintaan akibat pemulihan ekonomi Tiongkok yang tertunda, prospek Hana Securities menunjukkan harga minyak kemungkinan besar akan stabil dalam kisaran 55-65 dolar AS per barel untuk jangka menengah.

Mengingat hingga saat ini tempat penyimpanan minyak milik perusahaan minyak negara Venezuela (PDVSA) tidak mengalami kerusakan langsung, kenaikan harga minyak baru-baru ini kemungkinan besar merupakan respons sementara akibat faktor psikologis, bukan karena gangguan pasokan yang nyata.

Arus aset aman pun tampak beragam. Harga emas sempat melonjak hingga 4.550 dolar AS per ons saat perdagangan berlangsung pada tanggal 26 bulan lalu, mencatat rekor tertinggi sepanjang masa, sebelum akhirnya mengalami koreksi. Sesaat setelah insiden serangan udara, permintaan aset aman meningkat dan harganya sempat naik 1-2%, bahkan muncul spekulasi bahwa harganya bisa menembus kembali angka 4.500 dolar AS dalam jangka pendek.

Peneliti Lee menyatakan, "Secara historis, saat peristiwa 9/11 atau Perang Irak, harga emas melonjak 10-20%. Dalam kasus ini pun, sentimen menyukai aset aman diperkirakan akan tetap kuat dan tekanan kenaikan akan berlanjut." Namun, ia juga mencatat bahwa reli tambahan yang berlebihan mungkin terbatas kecuali jika pelambatan ekonomi global benar-benar terjadi secara signifikan.

Di sisi lain, dolar AS diperkirakan akan mengalami peningkatan volatilitas setelah penguatan jangka pendek. Ketidakpastian geopolitik memicu permintaan terhadap dolar, namun dalam jangka menengah, beban fiskal Amerika Serikat akibat tindakan militer dan gesekan diplomatik dapat bertindak sebagai faktor pelemahan dolar. Faktanya, indeks dolar (DXY) tahun lalu sudah turun sekitar 9%, dan ekspektasi penurunan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve AS masih bisa memberi tekanan pada dolar.

Pasar saham sulit untuk menghindari volatilitas di tahap awal. Dalam situasi konflik militer, sektor energi dan pertahanan mungkin menunjukkan kekuatan relatif, tetapi pasar secara keseluruhan mengandung potensi koreksi jangka pendek sebesar 5-10%. Namun, secara historis, setelah guncangan geopolitik, indeks S&P 500 mencatat kenaikan rata-rata sebesar 9,5% dalam satu tahun.

Peneliti Lee menganalisis, "Tindakan militer AS ke Venezuela memicu 'risk-off' jangka pendek, tetapi pengaruh pasar Venezuela yang terbatas dan kondisi kelebihan pasokan global akan meredam guncangan tersebut." Fakta bahwa KOSPI melonjak hari ini menunjukkan bahwa pasar menilai situasi ini sebagai peristiwa jangka pendek, bukan krisis struktural.

Pada akhirnya, situasi Venezuela kali ini kemungkinan besar lebih merupakan peristiwa jangka pendek yang meningkatkan volatilitas daripada 'angsa hitam' pertama di pasar keuangan tahun 2026. Hal yang paling harus diwaspadai oleh investor adalah aksi jual panik yang berlebihan akibat berita geopolitik. Para ahli menyarankan bahwa periode di mana koreksi dan pemulihan saling bersilangan seperti saat ini justru bisa menjadi kesempatan untuk memilih dan mengoleksi aset berkualitas.

Variabel kunci yang akan menentukan arah pasar ke depan adalah transisi rezim di Venezuela dan stabilitas politiknya. Formula investasi yang mengubah volatilitas menjadi keuntungan masih tetap berlaku.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김세아 금융 칼럼니스트
writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지