[비즈한국] Pada dini hari tanggal 3 waktu setempat, pemerintah Amerika Serikat secara resmi mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap fasilitas militer dan keamanan utama di Venezuela, termasuk ibu kota Caracas, serta mengamankan Presiden Nicolas Maduro. AS menjelaskan tindakan militer ini sebagai langkah penegakan hukum terhadap kejahatan terkait narkoba dan terorisme. Namun, beberapa pihak menilai kemungkinan adanya kepentingan geopolitik di balik langkah tersebut, terutama terkait sumber daya energi Venezuela dan restrukturisasi ekonomi masa depan.

Dalam operasi yang berlangsung pada dini hari tanggal 3 Januari 2026 waktu setempat, militer AS melakukan serangan presisi di sedikitnya 7 lokasi, termasuk Pangkalan Udara La Carlota di dekat Caracas dan kompleks militer Fuerte Tiuna. Menurut Pentagon, sekitar 150 pesawat dari Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Korps Marinir dikerahkan. Dalam proses ini, pasukan khusus Angkatan Darat AS berpartisipasi dalam operasi untuk menangkap Presiden Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, dan membawa mereka ke kapal perang AS.
Operasi ini diberi nama 'Southern Spear' dan dimulai pada pukul 22:46 malam tanggal 2 EST berdasarkan perintah Presiden Donald Trump. Segera setelah serangan udara tersebut, Presiden Trump menggelar konferensi pers di resor Mar-a-Lago, Florida, dan menyatakan, "Kami akan memulihkan stabilitas Venezuela dan memastikan produksi minyak kembali normal," mengisyaratkan bahwa AS dapat terlibat dalam administrasi lokal dan pengelolaan infrastruktur inti untuk jangka waktu tertentu.
Presiden Trump menilai infrastruktur perminyakan Venezuela telah rusak parah akibat sanksi berkepanjangan, minimnya investasi, dan masalah manajemen. Ia menjelaskan bahwa perusahaan energi internasional, termasuk dari AS, dapat berpartisipasi untuk memodernisasi fasilitas tersebut melalui investasi bernilai miliaran dolar. Ia menyatakan posisinya bahwa langkah ini dapat berkontribusi pada stabilitas pasar energi global.
Terkait latar belakang tindakan militer ini, beberapa ahli menyoroti cadangan minyak mentah Venezuela yang mencapai sekitar 300 miliar barel dan potensi perubahan struktur kendali di masa depan. Presiden Trump menyebutkan bahwa industri perminyakan Venezuela dahulu berkembang berbasis modal dan teknologi asing, serta menunjukkan bahwa di bawah rezim saat ini, daya saing industri tersebut sangat melemah. Menurut laporan media asing, ekspor minyak mentah Venezuela baru-baru ini tertahan di level ratusan ribu barel per hari akibat sanksi dan infrastruktur yang menua.
Pemerintah AS menyatakan perlunya masa transisi untuk pergantian rezim dan stabilitas politik di Venezuela, serta mengisyaratkan bahwa kehadiran militer dan pengelolaan fasilitas energi utama dapat dilakukan secara bersamaan selama periode tersebut. Presiden Trump menambahkan, "Setelah produksi minyak kembali normal, pasokan dapat disalurkan secara stabil ke pasar global.”
Dilaporkan bahwa perusahaan energi utama seperti Chevron, ExxonMobil, dan ConocoPhillips, yang telah menjalankan bisnis secara terbatas di Venezuela, sedang mendiskusikan kemungkinan masuk kembali serta rencana kompensasi atas aset masa lalu dengan pemerintahan AS. Meski demikian, ada analisis yang menyebutkan bahwa investasi modal dalam skala besar sulit dilakukan dalam waktu dekat, mengingat kontroversi pelanggaran hukum internasional, penolakan politik dan sosial di dalam Venezuela, serta risiko geopolitik.
Para ahli berpendapat bahwa krisis ini berpotensi melampaui operasi militer biasa dan akan memengaruhi struktur politik serta ekonomi Venezuela secara keseluruhan. Pada saat yang sama, hal ini dapat memperluas perdebatan dalam komunitas internasional mengenai kedaulatan dan lingkup penerapan hukum internasional. Penilaian mengenai apakah fokus utamanya adalah penegakan hukum dan keamanan seperti yang dijelaskan pemerintah AS, atau seberapa besar pengaruh kepentingan energi dan geopolitik, akan bergantung pada reaksi komunitas internasional dan langkah-langkah selanjutnya.