[비즈한국] Pada hari pertama tahun baru, 'Paket Kupon 50.000 Won' yang dirilis oleh platform fesyen Musinsa langsung mencuri perhatian industri ritel dan konsumen. Lebih dari sekadar promosi tahun baru biasa, langkah ini secara terang-terangan membidik 'rencana kompensasi voucher pembelian 50.000 won' milik Coupang yang baru-baru ini menuai kontroversi. Dengan menggunakan nominal kupon, komposisi, bahkan warna khas yang identik dengan Coupang, Musinsa secara langsung menyindir perusahaan tersebut.
Pada 1 Januari, Musinsa meluncurkan paket kupon dengan total nilai 50.000 won. Komposisinya terdiri dari 20.000 won untuk Musinsa Store, 20.000 won untuk Musinsa Shoes & Player, 5.000 won untuk Musinsa Beauty, dan 5.000 won untuk Musinsa Used. Semua kupon tersebut dapat digunakan di platform layanan utama Musinsa. Keunggulannya adalah fokus pada kategori dengan frekuensi penggunaan tinggi, menciptakan struktur yang 'sulit untuk tidak digunakan'.

Selain itu, Musinsa menambahkan keuntungan ekstra. Mereka menyelenggarakan acara di mana pelanggan mendapatkan cashback sebesar 5.000 won jika melakukan pembelian minimal 10.000 won setelah mengisi saldo Musinsa Money. Dengan menjumlahkan paket kupon 50.000 won dan cashback 5.000 won, manfaat yang dirasakan konsumen mencapai total 55.000 won. Ini secara praktis memberikan manfaat 5.000 won lebih banyak dibandingkan voucher pembelian 50.000 won dari Coupang.
Komposisi ini secara alami dibandingkan dengan rencana kompensasi yang baru-baru ini diumumkan oleh Coupang. Setelah insiden kebocoran data pribadi, Coupang menawarkan voucher pembelian senilai 50.000 won, namun rencana tersebut menuai kritik karena komposisinya yang berfokus pada kategori dengan tingkat penggunaan rendah seperti travel dan barang mewah, serta sistem kupon yang kurang memiliki nilai tunai. Beberapa pihak di bidang hukum bahkan menunjukkan bahwa penggunaan kupon tersebut dapat merugikan hak hukum konsumen di masa depan.

Strategi Musinsa dinilai tepat sasaran. Paket kupon Musinsa hampir tidak memerlukan penjelasan; strukturnya membuat orang langsung menggunakannya begitu aplikasi dibuka. Ditambah dengan desain kupon yang memiliki warna serupa dengan logo Coupang, persepsi perbandingan secara alami terbentuk di benak konsumen. Di industri, hal ini ditafsirkan sebagai "desain yang tidak menyembunyikan niatnya".
Seorang pejabat industri ritel berpendapat, "Musinsa merancang ini dengan cara yang mengungkap kelemahan rencana kompensasi Coupang secara gamblang. Kuncinya adalah menggunakan angka 50.000 won yang sama, namun membuatnya lebih intuitif dan lebih dirasakan manfaatnya." Ia menambahkan, "Bagi konsumen, mereka pasti akan lebih merespons manfaat yang bisa langsung digunakan tanpa perlu penjelasan."
Sementara itu, pemerintah dan dunia politik terus menyatakan rencana untuk menindak tegas krisis Coupang yang dipicu oleh kebocoran data pribadi berskala besar. Mereka secara khusus menyatakan posisi untuk mengambil semua langkah hukum yang memungkinkan, termasuk masalah kematian akibat kerja lembur. Satuan Tugas (TF) lintas kementerian terkait krisis Coupang menyatakan dalam siaran pers sesaat setelah berakhirnya dengar pendapat bersama, "Tidak ada kompromi bagi tindakan yang merusak keselamatan masyarakat, nyawa pekerja, dan tatanan pasar yang adil." Kementerian Sains dan ICT juga menyatakan akan segera meminta kepolisian untuk melakukan penyelidikan terkait pelanggaran perintah pelestarian data oleh Coupang, memperjelas sikap tegas pemerintah.
Kritik dari dunia politik juga menguat. Partai Demokrat (Minjoo) mendefinisikan dengar pendapat ini sebagai "rangkaian penghindaran dan alasan yang terorganisir serta acuh tak acuh". Mereka menunjuk bahwa di tengah krisis kebocoran data yang belum pernah terjadi sebelumnya, Coupang menghindari tanggung jawab dengan berlindung pada kerja sama NIS (Badan Intelijen Nasional) alih-alih memberikan penjelasan yang bertanggung jawab. Secara khusus, pernyataan NIS yang membantah kemungkinan sumpah palsu, klaim penghapusan log akses selama 5 bulan, dan sikap membungkus ketidakmampuan memberikan data inti sebagai 'kerja sama' menjadi sorotan tajam. Partai Demokrat menekankan bahwa Coupang harus menyadari sepenuhnya bahwa mereka berada di kursi pengadilan hukum dan prinsip, bukan sebagai pemain dominan di pasar."